Banyak Penggemar Fanatik, MURAI BATU Sejak Dulu Sampai Sekarang Bertengger di Papan Atas

JAKARTA (POSBERITAKOTA) –Dijagad komunitas pecinta burung kicau, semuanya setuju bahwa Murai Batu diklaim sebagai burung papan atas yang sangat banyak penggemar fanatiknya. Meski populasinya tidak sebanyak Love Bird, namun kelompok penggemar Murai Batu, terutama yang berekor panjang dan gacor memiliki karisma tersendiri mengingat harganya yang tidak murah.

Untuk membuat piaraan ini supaya gacor dan bermental baja, butuh perawatan yang sangat disiplin meliputi jadwal mandi dan jemur, jatah pemberian makanan hewani seperti jangkrik dan kroto serta pengerodongan sangkar.

“Semua harus dijadwal rutin tiap hari agar Murai Batu selalu prima,” ujar Bambang Sugito, salah satu pengurus Komunitas Murai Batu Indonesia (KMBI) DKI Jakarta, Minggu (3/3).

Menurutnya, pada tiap lomba burung kicau, kelas Murai Batu merupakan yang paling ramai dan heboh. Pesertanya bisa mencapai ratusan. Dari situ, malah cukup banyak dan bisa dibilang sebagai penggemar panatik.

“Burung Murai Batu tak cuma memiliki suara merdu. Tapi juga enak dilihat, karena di saat berkicau selalu memainkan gerakan ekor panjangnya sehingga tampak anggun dan mewah,” ujar warga Kemayoran, Jakpus.

Di luar sebagai juri, Bambang juga suka ikut berlomba dan ia pernah menjual Murai Batu kesayangannya seharga Rp 100 juta. Menurutnya banyak penggemar fanatik yang rela membeli mahal Murai Batu yang sering menjuarai lomba dari tingkat kecil sampai besar.

“Dari dulu zaman kakek saya sampai zaman Now, Murai Batu masih selalu bertengger paling atas,” tutur Bambang Sugito kepada POSBERITAKOTA, Minggu (3/3).

Sedangkan Syamsudin, salah satu pengepul murai batu di Pasar Burung Pramuka, Jaktim, menambahkan Murai Batu yang banyak beredar di pasaran, secara garis besar terbagi dalam empat kelompok besar yang berdasarkan genetik daerah asal yang meliputi Sumatera Utara, Aceh, Lampung dan Kalimantan.

Baca Juga:  Pemilik Burung Kicau Resah, JANGKRIK Makin Langka dan Mahal di Pasar

Murai Batu yang bagus dan harga paling mahal adalah keturunan atau asal Medan Sumatera Utara. “Ciri fisiknya badan besar, ekor panjang di atas 20 cm dan kicauannya sangat bervariasi dan kencang. Harga bahan Murai Batu dari Medan jantan minimal Rp 2 juta,” tambah peternak yang juga memiliki sepuluh pasang induk murai batu.

Untuk Murai Batu bahan yang dimaksud adalah Murai Muda hasil tangkapan dari hutan di Sumut. “Tapi, kalau ekornya bondol habis, harga lebih murah yakni Rp 1,2 juta. Sedangkan anak Murai Trotolan hasil ternakan sekitar Rp 2,5 juta. Trotolan lebih mahal karena lebih cepat bunyi,” kata Syamsudin yang juga menjual murai betina dengan harga antara Rp 1,3 juta dan Rp 2,5 juta.

Sedangkan Murai keturunan Lampung bodi dan ekor lebih kecil. Harga bahannya sekitar Rp 600 ribu. “Adapun Murai keturunan Kalimantan harganya lebih murah lagi karena gak bisa diajak lomba, mental kurang bagus,” paparnya.

Sebenarnya dari semua jenis Murai diperbolehkan untuk diikutsertakan dalam lomba kicau. “Mulai dari burung murah sampai mahal punya kesempatan yang sama jika semuanya sama-sama berani bunyi di lapangan. Tapi dari berbagai pengalaman, burung yang merajai lomba tentu keturunan Medan. Makanya, harga burung ini bisa menjadi sangat mahal,” jelas Syamsudin.

Murai juga dikenal sebagai burung cerdas karena cepat menirukan suara burung lain. “Murai sangat bagus jika dimaster oleh burung non-siul seperti Cililin, Love Bird, Gereja Tarung dan Kenari.

Kecenderungan pada lomba zaman sekarang, Murai Batu yang bunyinya tidak bersiul tapi mengeluarkan tembakan berbagai suara burung lain itulah yang sering jadi juara,” pungkasnya. ■ RED/JOKO SUDADI

Beri Tanggapan