Bakal Menggerus Aktifitas Seni & Budaya, M TAUFIK Dukung Seniman Tolak Pembangunan Hotel di TIM

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Rencana pembangunan hotel di kawasan lahan
Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jalan Raya Cikini, Menteng, Jakarta Pusat mendapat penolakan dari sekelompok seniman Ibukota. Selain itu, lembaga DPRD DKI juga tidak setuju jika lahan milik Pemprov DKI Jakarta akan dibangun hotel komersial sehingga menyimpang dari konsep pusat seni dan budaya.

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Mohamad Taufik, mendukung langkah para seniman untuk menghentikan pembangunan hotel di TIM. Dia mengingatkan pengembang, TIM merupakan pusat kesenian dan budaya, tidak boleh sembarangan dibangun hotel yang ujung-ujungnya untuk bisnis. “Saya mendukung langkah para seniman untuk menolak pembangunan hotel di TIM. Keberadaan hotel nantinya bakal menggerus eksistensi pusat seni dan budaya,” ujar Taufik, Jakarta, Minggu (24/11).

Dia juga mempertanyakan langkah pengembang di sana yang ingin membangun hotel. “Apa perlunya membangun hotel? Di kawasan Cikini sudah banyak sekali bangunan hotel milik swasta. Jadi, tidak urgen. Justru kalau perlu uang pengelolaan TIM dibsubsidi oleh APBD sepenuhnya. Bukan berarti kurang uang lalu pengelola membangun hotel untuk cari untung,” tegas politisi Gerindra.

Baca Juga:  Ngomong Gelar Liga Inggris, KOMPANY Optimis City Bakal Mempertahankan

Sebelumnya, Para seniman yang berkegiatan di kawasan TIM menolak keterlibatan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) untuk mengelola kawasan dan fasilitas TIM. Mereka juga mempertanyakan rencana hotel dibangun di TIM.

Hal itu terungkap dari hasil Diskusi ‘PKJ-TIM Mau Dibawa Ke mana?’, Rabu (20/11). Seniman Radhar Panca Dahana dengan lantang menolak. Ia menyambut protes keras yang disuarakan para seniman pada pertemuan itu. Dia menegaskan TIM ini adalah rumah seni dan budaya. “Ini rumah kita yang harus dipertahankan sesuai kaidah berdirinya TIM,” tegasnya.

Menurutnya tidak ada hubungannya, membangun kebudayaan dengan membangun hotel bintang lima di TIM ini. “Itu kebudayaan koplok! Sedangkal itukah pemahaman tentang kesenian dan kebudayaan? Yang terjadi sekarang adalah assasinasi terhadap kebudayaan. Terhadap ruang kesenian kita. Ya. Kalau begini, jangankan Gubernur, Presiden pun harus kita lawan,” tandas Radhar di hadapan para seniman. ■ RED/JOKO S/G

Beri Tanggapan