Soal Revitalisasi TIM, WAHYU DEWANTO Minta Anies Menerbitkan Pergub Perlindungan Komunitas Seniman

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan diminta DPRD untuk mengeluarkan peraturan gubernur (Pergub) terkait eksistensi komunitas seniman di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM). Selain itu PT Jakarta Propertindo sebagai pengelola revitalisasi TIM agar berkordinasi dengan para seniman ketika akan melaksanakan pembangunan fisik di lokasi tersebut.

Hal itu ditegaskan anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Wahyu Dewanto usai meninjau lokasi revitalisasi TIM di Jl Raya Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. “Setelah menyerap aspirasi di lapangan kami ingin menyampaikan. Pertama, Pak Anies agar menerbitkan Pergub untuk mewadahi komunitas seniman yang berada di TIM agar hak-haknya terlindungi dan merasakan TIM adalah rumah bagi para seniman,” kata Wahyu di gedung DPRD kawasan Kebon Sirih, Rabu (27/11).

Selain itu, PT Jakarta Propertindo (Jakpro) yang mendapat tugas dari Pemprov DKI sebagai pengelola dan penanggungjawan revitalisasi TIM tidak seenaknya menjalankan proyek tanpa melakukan pendekatan terhadap kimunitas seniman.

“Jakpro sebagai pengelola dan penanggung jawab revitalisasi TIM untuk berdiskusi kembali dengan para seniman yang saat in menolak pembangunan hotel standar kelas bintang empat di pusat kesenian itu,” ujar politisi Gerindra yang akrab dipanggil Bang WD. Menurutnya, harus ada diskusi lagi supaya ada jalan keluar terbaik.

Baca Juga:  Alokasikan Rp 2,41 T di APBD 2020, DEWAN Dukung Usulan Disdik DKI Buat Rehab 206 Sekolah

Saran itu disampaikan Wahyu karena masih adanya seniman-seniman yang mengadu tidak setuju dengan pembangunan hotel sebagai fasilitas komersial dalam kawasan pusat kesenian itu. Saran tersebut senada dengan pernyataan Wakil Ketua DPRD DKI M. Taufik yang tegas mendukung komunitas seniman menolak proyek hotel di kawasan TIM karena tidak sesuai dengan pusat kesenian dan kebudayaan.

Sebelumnya para seniman TIM menolak adanya pembangunan hotel dalam revitalisasi kawasan pusat kesenian Jakarta TIM dan akan dikelola oleh PT Jakarta Propertindo itu. “Kami bukannya menolak revitalisasi TIM, yang kami tolak pembangunan hotelnya. Itu kan tidak sesuai dengan citra TIM sebagai art center,” kata salah satu seniman TIM, Arie F Batubara.

Sedangkan budayawan Radar Panca Dahana juga memprotes rencana pembangunan hotel tersebut. Ia mengajak para seniman untuk menolak proyek tersebut. Tidak ada kaitan antara TIM dan hotel.

Apalagi, menurut dia lagi, di kawasan Cikini sudah terdapat begitu banyak hotel milik swasta sehingga tidak ada urgennya Pemprov DKI membangun bisnis penginapan. Ujung-ujungnya hanya berorientasi proyek dan tidak peduli bakal merusak eksistensi TIM sebagai tempat kebanggaan warga Jakarta berkreasi seni. ■ RED/JOKO S/G

Beri Tanggapan