Di PN Jakpus, PT GEMPITA PERKASA Menang Atas Gugatan Sengketa Film ‘Nagabonar Reborn’

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Setelah cukup lama berseteru dan bergulir sampai ke meja hijau, akhirnya kasus gugatan sengketa film ‘Nagabonar Reborn’ sudah berujung. Pemilik PT Gempita Cipta Perkasa milik Gusti Randa dan Trimedya Panjaitan, dinyatakan menang atas gugatan dari PT Demi Gisela Citra Sinema milik Deddy Mizwar.

Keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) lewat ‘ketuk palu’ dijatuhkan majelis hakim pada Kamis 28 Nopember yang baru lalu, karena diperkuat oleh fakta-fakta persidangan. Seperti disampaikan Gusti Randa bahwa gugatan pihak PT Demi Gisela Citra Sinema terkait hak cipta Nagabonar Reborn ditolak secara keseluruhan.

“Jadi pada sidang 28 Nopember kemarin, PN Jakpus telah memutuskan bahwa dalam kasus gugatan perdata soal kepemilikan hak cipta atas Nagabonar, dimenangkan oleh PT Gempita Cipta Perkasa,” tegas Gusti Randa di Jakarta.

Artis yang juga dikenal sebagai pengacara tersebut, menyebutkan justru tidak ada satupun argumen dari pihak penggugat yang mendapat persetujuan hakim. “Sedangkan dari fakta persidangan dengan saksi ahli Kemala Atmodjo menyampaikan fakta-fakta bahwa kita telah membeli hak cipta dan telah mendapatkan izin dari ahli waris Mutiara Sani,“ tambah dia.

Pada bagian lain, Gusti Randa pun menyinggung lebih jauh tentang ahli waris film tersebut. Bahkan, menyampaikan bahwa pihaknya memiliki surat penetapan dari Kementerian Kehakiman. “Bahwa Mutiara Sani adalah ahli waris dari seluruh karya Asrul Sani,“ katanya.

Baca Juga:  Umumkan Lelang Elektronik, 60 ANS PENKOT JAKPUS Dibekali Bimtek Aplikasi SIRUP V 2.3

Sejatinya, ditambahkan Gusti Randa, sebenarnya tak mempermasalahkan menang atau kalah saat di persidangan. Ia hanya ingin menjaga komitmen, agar bisa memproduksi film Nagabonar Reborn relevan dengan kondisi negara sekarang.

“Nagabonar Reborn merupakan film yang baik untuk ditonton, karena kita memang butuh sosok pahlawan seperti Nagabonar,“ jelas Gusti Randa lagi.

Sementara itu Kemala Atmodjo sebagai saksi ahli yang ditemui terpisah, mengungkapkan bahwa gugatan tersebut sebenarnya bisa disebut Obscuur Libel yang berarti masih belum jelas. “Kalau merek yang digugat, harusnya pakai UU No. 15 Tahun 2001 tentang Merek. Di situlah tempat menggugat mereka dagang,“ urainya.

Kemala pun merujuk pada gugatan hak cipta (UU No. 28 Tahun 2014), mengenai barang yang digugat harus sudah ada. Seandainya barang yang digugat belum ada, bisa disebut dilatoria (prematur). Hal itu menyelimuti sengketa film Nagabonar.

“Karena itu, seluruh gugatan layak ditolak untuk seluruhnya. Jadi, sudah benar putusan hakim tersebut,” nilai Kemala Atmodjo mencoba menyimpulkan. ■ RED/GOES

Beri Tanggapan