Hakim PN Medan Diduga Korban Pembunuhan, ADVOKAT ALEXIUS TANTRAJAYA Desak DPR Terbitkan UU Contempt of Court

JAKARTA (POSBERITAKOTA) –Ditemukannya hakim Pengadilan Negeri Medan, Jamaluddin (55) dalam mobil di perkebunan kelapa sawit dalam keadaan tak bernyawa dan tubuhnya terluka membuat geger semua kalangan.

Dari hasil keterangan Kasatreskrim Polrestabes Medan Kompol Eko Hartanto, korban yang juga menjabat sebagai humas ini diduga dibunuh dan kini penyelidikannya sudah mengarah kepada pelaku yang juga diduga orang dekat korban.

Melihat peristiwa ini Advokat senior, Alexius Tantrajaya,SH, MH, menyatakan keprihatinannya. Bahkan anggota Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) DPC Jakarta Barat ini mendesak IKAHI mohon kepada DPR RI segera terbitkan UU Contempt of Court.

“Kasus seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Pemerintah harus bisa menyikapinya, sebab ini bisa menjadi preseden buruk. Untuk itu perlu diwujudkan Undang – Undang Contempt Of Court. IKAHI sebagai wadah organisasi hakim harus mendesak DPR RI untuk segera wujudkan Undang-Undang tersebut,” ucapnya.

Menurut pengacara Ibukota yang juga anggota Perhimpunan Advokat Indonesia (Paradi) ini aturan yang berkaitan dengan Contempt of Court atau setiap perbuatan, tingkah laku, sikap dan/atau ucapan yang dapat merendahkan dan merongrong kewibawaan, martabat, dan kehormatan badan peradilan ini sebenarnya sudah ada dalam KUHP dan KUHAP yang berlaku saat ini. Hanya tinggal dibuat Undang – Undang yang berdiri sendiri.

Alexius menambahkan bila hakim ini benar terbukti dibunuh, maka si pelaku dapat dipersalahkan melakukan tindak pidana pembunuhan berencana melanggar pasal 340 KUHP yg ancamannya hukuman mati atau penjara seumur hidup atau 20 tahun penjara.

Baca Juga:  Kena Batunya, DEBT COLLECTOR Suka Bawa Senpi Malah 'Didor' Polisi

“Nah, kalau sudah demikian tidak diperlu lagi adanya Undang – Undang Perlindungan Hakim karena tindak pidana umum sudah mengatur pembunuhan. Bila kemudian terbukti pembunuhan dilakukan alasannya berkaitan dengan putusannya korban selaku hakim, maka menjadi alasan pemberat bagi pelaku yang pidananya dapat ditambah dan diperberat,” tegasnya.

Karena itu, tambahnya, dari peristiwa ini jelas dapat kita lihat kalau dan profesi hakim ini harus dijaga indepedensinya. Jadi, mengingat profesi yang satu ini sangat riskan, maka IKAHI harus menyikapinya agar kedepan perirtiwa ini tidak terulang, minimal bila ada oknum yang akan berbuat seperti itu akan berfikir dua kali.

Dalam kaitan peristiwa ini pihak kepolisian kini tengah berusaha secepat mungkin mengungkapkan kasus kematian Jamaluddin. Oleh karena itu, kepolisian mengharapkan dukungan semua lapisan masyarakat agar kasus tersebut secepatnya terungkap.

Sebelumnya korban ditemukan tewas dalam mobil Toyota Land Cruiser dengan nomor polisi BK 77 HD di areal kebun sawit Desa Suka Rame, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Sumut Jumat (29/11/2019).

Penemuan mayat ini berawal saat warga melaporkan terkait adanya sebuah mobil yang masuk ke areal perkebunan sawit. Setelah itu, warga melapor kepada kepala desa, kemudian diteruskan ke Polsek Kutalimbaru. ■ RED/BUDHI/GOES

Beri Tanggapan