Bukti Sudah Sinergi, PENGURUS YAYASAN-DKM & JAMAAH Memadati Masjid Jami Al-Ikhlas RW 025 VGH Bekasi

BEKASI (POSBERITAKOTA) – Tak kenal maka tak sayang. Silaturahmi merupakan simpul paling efektif di dalam membangun kebersamaan, apalagi dilakukan di dalam masjid. Sebab, syiar pertama di masjid adalah sholat berjamaah dan hadir dalam majelis ta’lim atau pengajian rutin yang diadakan oleh kelembagaan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM).

Jika boleh menyebut berkat sinergitas antara pengurus DKM dan Yayasan, terutama di lingkungan Masjid Jami Al-Ikhlas RW 025 Perumahan Villa Gading Harapan (VGH) Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi – ternyata terbukti mampu menjaring jamaah lebih banyak lagi.

Dalam event ta’lim rutin pada minggu keempat setiap bulannya yang menghadirkan penceramah Ustadz H Makhtum dan sekaligus pemberian santunan kepada puluhan anak yatim/dhuafa, Minggu (26/1/2020) malam kemarin – mampu menjaring sebanyak 60 – 70 jamaah masjid. Boleh jadi tingkat atau kualitas ‘kemakmuran’ masjid sudah mulai terasa.

Peranan Yayasan dan DKM dengan melibatkan unsur pimpinan kelembagaan RW 025 beserta Pengurus dan Ketua-ketua RT yang ada, tak boleh dikesampingkan begitu saja. Mereka pun sangat penting jika dalam momentum silaturahmi melakukan diskusi-diskusi secara informal. Dari situ diharapkan muncul pemikiran-pemikiran konstruktif yang seyogyanya demi pencapaian idealnya Masjid Jami Al-Ikhlas itu sendiri.

Bahkan momentum simbolis adanya kontribusi (sumbangan) pihak ekternal untuk pengadaan pintu masjid yang sudah diprogramkan pihak Yayasan Jami Al-Ikhlas – sangat tepat disosialisikan dalam ‘pertemuan akbar’ di dalam masjid. Itu juga membuktikan bahwa roda organisasi Yayasan, sudah mulai berjalan. Lebih lagi ditopang oleh unsur kelembagaan DKM.

Sejalan dengan pemikiran Ustadz H Makhtum selaku Ketua Umum Yayasan/Pembina, setahun proses berjalannya roda organisasi langsung menginisiasi terhadap kebutuhan pintu masjid. Sebagai proyek percontohan untuk kebutuhan 1 (satu pintu) lebih dulu, segenap pengurus Yayasan diminta action mencari kontribusi bentuk dana dari luar (eksternal).

“Idealnya memang harus seperti itu, karena keberadaan Yayasan justru ingin menggali dana atau kontribusi dari luar. Tentu saja tanpa mengenyampingkan kontribusi dari internal lingkungan atau kontribusi dari warga masyarakat setempat di RW 025,” ucap Ustadz H Makhtum kepada POSBERITAKOTA.

Sedangkan untuk event pemberian santunan yang sudah memasuki masa setahun, diharapkan periodiknya tak boleh terhenti. Bahkan mulai mendapat perhatian dari warga maupun tokoh masyarakat di lingkungan RW 025.
Mereka secara terbuka ingin ikut berkontribusi dan menjadi donatur tetap.

Sosok pimpinan dan pengurus teras lain dalam Yayasan seperti Ustadz H Robet Henderi (Ketua Pengurus Harian), Nanang Sofyan (Sekretaris), Zanuarianto (Bendahara) serta dari DKM meliputi Khoirul Anwar (Ketua), Harjono (Bendahara), Aldy Ardian (Sekretaris) – memang dituntut harus bersinergi dan bekerja keras.

Baca Juga:  Setahun Perjalanan, YAYASAN JAMI AL-IKHLAS RW 025 VGH Kebalen Prakarsai Lelang Wakaf Pembuatan Pintu Masjid

Ketua DKM Khoirul Anwar bersama jajaran pengurus lain dan termasuk bidang kehumasan – ingin lebih mensosialisasikan program kerja DKM dan termasuk peranan Yayasan yang sedang berkonsentrasi pada kelanjutan proses pembangunan Masjid Jami Al-Ikhlas. “Sebab, komitmen bersinergi adalah langkah saling mendukung satu sama lain,” jelasnya.

Menyikapi dari hasil pembicaraan secara informal antara Ketua Umum Yayasan/Pembina, Ketua Pengurus Harian, Ketua DKM, Ketua RW 025 beserta para sesepuh yang concern atau memiliki perhatian besar pada Masjid Jami Al-Ikhlas – sama-sama menginginkan bahwa akselerasi pembangunan masjid bisa terus dilakukan secara konsisten dan bertahap.

Ketua RW 025 Sukoco pernah menegaskan komitmentnya untuk mendukung keberadaan Yayasan Jami Al-Ikhlas. Bahkan kelembagaan yang dipimpinnya (RW 025) mengajak unsur pimpinan Yayasan dan DKM – untuk lebih membangun sinergitas. Jika hal itu bisa dilakukan, niscaya keberadaan masjid – bakal terus berkesinambungan proses pembangunannya.

Menurut Sukoco, pihaknya juga akan menggandeng unsur Ketua RT 01 sampai RT 017 di lingkungan RW 025. Kenapa? “Karena, peran mereka adalah yang menjadi jembatan utama dan selalu mengkomunikasikan dengan warga setiap ada program. Baik itu program yang datangnya dari DKM, Yayasan maupun kelembagaan RW 025,” tuturnya.

Hal senada juga pernah diharapkan oleh Kriss Yan Ari, tokoh masyarakat dan mantan Ketua RW 025 (pertama). Ia sangat yakin bahwa partisipasi masyarakat di lingkungan RW 025 sangat besar. Meski tak harus dengan cara terburu-buru untuk proses penyelesaikan pembangunan masjid.

“Biar saja mengalir apa adanya sesuai proses. Yang penting harus dilakukan dengan cara berkesinambungan. Keberadaan masjid yang ada sekarang, sudah cukup membanggakan, karena hampir mayoritas (80 persen) dibangun dari kontribusi atau swadaya murni warga RW 025 selama bertahun-tahun,” katanya.

Sementara itu Ustadz Rojali, pemuka agama di lingkungan RW 025, meminta agar kelembagaan DKM menghidupkan ta’lim yang melibatkan kalangan anak-anak dan remaja. Satu misal, menurutnya, setiap Kamis malam Jumat diadakan ta’lim atau pengajian rutin. Artinya, program kegiatannya tak memprioritaskan kalangan bapak-bapak atau ibu-ibu saja.

H Lukman Hakim, juga dikenal sebagai tokoh masyarakat dan Ketua RT 06 di lingkungan RW 025, mengaku sangat memberikan apresiasi terhadap kelembagaan DKM dan Yayasan. “Hal penting lain, saya minta ayo libatkan seluruh potensi warga yang ada di lingkungan RW 025, terutama untuk berkontribusi kepada pembangunan masjid,” sarannya. ■ RED/ROHMAT/AGUS SANTOSA

Beri Tanggapan