Selalu Jadi Langganan Korban Banjir, PEMPROV DKI JAKARTA Prioritaskan Benahi 13 Sungai & Tali Air

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Wilayah DKI Jakarta kini kembali menjadi daerah langganan banjir karena didera berbagai masalah tata air. Adapun yang paling krusial yaitu kondisi 13 sungai yang sempit dan dangkal sehingga perlu dilakukan pengerukan sesegera mungkin.

Sejak terjadinya banjir bandang pada awal tahun baru dan disusul banjir berikutnya pada Jumat (24/1) membuat warga DKI jadi was-was menghadapi musim hujan. Warga menganggap hujan lebat sebagai momok menakutkan.

Maka pemerintah harus segera melakukan pekerjaan di 13 kali dilakukan pengerukan dan pendalaman agar airnya bisa mengalir lancar ke dalam kali dan tidak lagi meluap ke jalan raya. Setiap lokasi kali pelaksanaannya harus dikerahkan 15 buah excavator amphibi dan di bantu oleh aparat terpadu. Masyarakat tidak akan merasa was was dan ketakutan lagi.

Adapun 13 kali yang perlu dikeruk yaitu iliwung, Pesanggrahan, Kali Sunter, Buaran, Krukut, Kali Cakung, Kali Grogol, Mookervart, Kali Cipinang, Kali Baru Timur, Kali Jati Kramat, Kali Angke, dan Kali Baru Barat.

Pengamat tata air Jakarta DR Ir H. R. Heryanto, SH, MM menyarankan di dalam kondisi prihatin banjir seperti ini sebaiknya jangan saling menyalahkan. “Khususnya pemerintah pusat maupun Pemprov DKI harus cepat melakukan kerja nyata demi ketenangan masyarakat,” ujar R. Heryanto di Jakarta, Minggu (26/1).

Mantan Kordinator Waduk Pluit era Gubernur DKI Jokowi dan Ahok (2013-2017) ini berharap Menteri PUPR Basuki Hadimulyono dan Gubernur Anies berkordinasi untuk menjalankan tugasnya. Selama memimpin proyek Waduk Pluit dan sejumlah sungai, R. Heryanto sering dikunjungi Jokowi, baik saat jadi Gubernur maupun Presiden.

Pengamat tata air di jakarta ini berpendapat bahwa penataan 13 sungai besar maupun sungai kecil di Jakarta sama pentingnya dan sangat urgen. “Pemerintah pusat harus segera menormalisasi 13 sungai yang menyempit dan dangkal. Paling prioritas adalah Ciliwung, Kali Krukut di Kemang dan Pesanggrahan di Kembangan,” ujar R. Heryanto yang telah melakukan survei lapangan di beberapa lokasi.

Baca Juga:  Ada-ada Saja, KPK Segera Lelang Perhiasan dan Lukisan Koruptor

Sungai besar yang kini dalamnya cuma semeter atau dua meter harus dikeruk sedimentasinya yang mempersempit aliran. “Pekerjaan pengerukan sungai hingga kedalaman empat atau lima meter di tiap ruas sungai, butuh waktu sekitar tiga bulan dengan peralatan 15 alat berat ekskavator ampibi, 20 dumb truck, dan diback-up dari unsur TNI maupun Polri masing-masing 100 personil, ditambah sejumlah instasi terkait,” papar R. Heryanto yang berpengalaman menormalisasi Waduk Pluit, kawasan Kali Jodo, Kali Pakin Pasar Ikan, dan seabrek lainnya.

TALI AIR

Selama pengerjaan 13 sungai yang dilakukan pemerintah pusat, Pemprov DKI mengerjakan kali-kali kecil yang jadi kewenangannya, termasuk tali air dan saluran penghubung. “Kalau cuma membenahi kali kecil dan saluran akan sia-sia jika pendangkalan sungai besar didiamkan saja,” sambungnya.

Adapun desain baru tali air pada seluruh titik proyek pelebaran trotoar menurutnya sangat tidak sesuai dengan cuaca ekstrem. “Desain tali air yang yang terdiri dari dua paralon kecil itu justru menghambat laju air sehingga jalanan jadi cepat tergenang. Sebaiknya tali air dikembalikan ke desain semula yaitu ditutup pakai ram besi yang cukup lebar,” saran R.Heryanto.

Sebagaimana diketahui, data BPBD DKI Jakarta menyebutkan pada Jumat kemarin terdapat 78 titik banjir. Sebagian besar titik banjir tersebut terjadi pada kawasan eks proyek pelebaran trotoar seperti di Jl Cikini, Kramat Raya, Salemba dan seabrek lokasi lainnya. Karena itu pula, diharapkan bahwa Jakarta kedepan akan menjadi lebih baik lagi. ■ RED/JOKO S/GOES

Beri Tanggapan