PosBeritaKota.com
Nasional Top News

Akademisi Dr Rasminto Ingatkan Pentingnya Perkuat Nasionalisme & Wawasan Kebangsaan di Wilayah Perbatasan

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Selaku Akademisi Universitas Muhammadiyah Indonesia sekaligus Anggota Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) Provinsi DKI Jakarta, Dr Rasminto, mengingatkan pentingnya memperkuat nasionalisme dan wawasan kebangsaan di wilayah perbatasan sebagai benteng utama menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah meningkatnya tantangan global dan ancaman kejahatan lintas negara.

Pandangan tersebut disampaikan secara terbuka dalam Sosialisasi Penguatan Literasi Wawasan Kebangsaan yang diselenggarakan Badan Penghubung Provinsi Kepulauan Riau, Sabtu (6/6/2026) kemarin di Jakarta.

“Seperti kita tahu bahwa daerah perbatasan, tidak hanya berfungsi sebagai batas geografis suatu negara. Tetapi, juga menjadi beranda terdepan yang mencerminkan kekuatan identitas, persatuan dan ketahanan bangsa,” ujar Rasminto, seusai pemaparannya.

Dalam pandangannya bahwa pembangunan wilayah perbatasan harus berjalan seiring dengan penguatan karakter kebangsaan masyarakat.

“Jadi, wilayah perbatasan merupakan wajah Indonesia yang pertama kali dilihat dunia. Karena itu, masyarakat di kawasan perbatasan harus menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan, kedaulatan, dan kepentingan nasional. Nasionalisme yang kuat menjadi modal penting untuk menghadapi berbagai tantangan yang terus berkembang,” ungkapnya.

Dr Rasminto juga menjelaskan soal wilayah strategis seperti Kepulauan Riau memiliki peran penting karena berada di jalur perdagangan internasional dan berbatasan langsung dengan sejumlah negara tetangga.

“Nah, posisi tersebut memberikan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi, investasi, dan perdagangan, namun pada saat yang sama juga menghadirkan berbagai kerawanan yang perlu diantisipasi,” tuturnya.

Pada bagian lain, Dr Rasminto menyoroti maraknya peredaran narkotika, penyelundupan barang ilegal, perdagangan manusia, kejahatan siber, hingga berbagai bentuk kejahatan transnasional yang kerap memanfaatkan wilayah perbatasan sebagai jalur perlintasan.

Begitu pula soal ancaman tersebut tidak hanya berdampak pada aspek keamanan, namun juga berpotensi menggerus nilai-nilai kebangsaan apabila masyarakat tidak memiliki kesadaran nasional yang kuat.

“Ancaman terhadap bangsa saat ini tidak selalu hadir dalam bentuk agresi militer. Banyak ancaman yang masuk melalui jalur ekonomi, sosial, budaya, teknologi informasi, hingga kejahatan lintas negara. Karena itu, penguatan wawasan kebangsaan menjadi bagian penting dari sistem pertahanan bangsa yang harus dibangun secara berkelanjutan,” katanya.

Masih menurut Dr Rasminto bahwa pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi di wilayah perbatasan harus dibarengi dengan pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter, berintegritas, serta memiliki kecintaan terhadap tanah air. Menurut dia, kemajuan suatu daerah akan lebih kokoh apabila ditopang oleh masyarakat yang memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.

“Investasi dapat membangun kawasan, tetapi nasionalisme yang akan menjaganya. Infrastruktur dapat mempercepat pertumbuhan, tetapi semangat kebangsaan yang akan memastikan pembangunan tersebut tetap berada dalam koridor kepentingan nasional,” jabarnya.

Ditaambahkan Dr Rasminto soal wawasan kebangsaan yang berlandaskan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika harus terus ditanamkan kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda yang akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan.

“Dalam hal ini, generasi muda di wilayah perbatasan perlu dibekali kemampuan dan penguatan wawasan kebangsaan untuk menyaring berbagai pengaruh negatif yang datang melalui arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat,” imbuhnya.

Kendati demikian, kata Dr Rasminto, mereka tidak mudah terpengaruh oleh paham-paham yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan maupun berbagai bentuk disinformasi yang berpotensi memecah persatuan.

“Nasionalisme bukan sekadar slogan atau simbol. Nasionalisme merupakan kesadaran kolektif untuk menjaga Indonesia, merawat keberagaman, serta memastikan bahwa kemajuan bangsa dapat dirasakan oleh seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke, termasuk masyarakat yang berada di wilayah perbatasan,” tegasnya.

Lebih lanjut Dr Rasminto memaparkan bahwa keberhasilan menjaga wilayah perbatasan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan aparat dan kebijakan pemerintah. Tetapi, juga oleh partisipasi aktif masyarakat dalam merawat semangat kebangsaan.

“Pada saat nasionalisme tumbuh kuat di hati masyarakat, maka perbatasan bukan lagi menjadi titik rawan, melainkan menjadi beranda terdepan yang memperkuat kedaulatan dan martabat Indonesia di mata dunia,” tutupnya. ® RED/RAMADHAN ALDIANSYAH / EDITOR : GOES

Related posts

Karena dari Panggilan Hati, MAYA ANGKASA Memfasilitasi Jumasri ‘Sang Pencari Keadilan’ Bertemu dengan Hotman Paris

Redaksi Posberitakota

Bagi Anggota Pemegang KTA Muda yang Masa Berlakunya Habis, PWI Jaya Gelar OKK untuk Peningkatan Status

Redaksi Posberitakota

Di Gedung Promoter Inkopol Polri, MENHUB Minta Agar Transportasi Digital Terus Dikawal

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang