OLEH : KAMARUDDIN RACHMAT
FENOMENA bendera One Piece adalah fenomena sosial, sebuah isyarat sosial tentang sesuatu yg menyembul di permukaan. Sama dengan fenomena alam akan terjadinya hujan. Diawali dengan angin berhembus, awan gelap beriring, disusul guruh/gluduk, maka turunlah hujan.
Fenomena akan terjadinya hujan, tidak menyalahkan angin dan mendung. Tapi, sedia payung sebelum hujan. Atau memberikan kanal antisipasi terjadinya banjir, ini adalah kepekaan alami.
Fenomena bendera One Piece bisa jadi itu, adalah sebagai gejala terjadinya keresahan sosial, bagi yang peka bukan menyalahkannya, tapi memberikan payung dan kanalisasi- kanalisasi, yakni dengan cara mencari tau apa yang sesungguhnya yang terjadi di masyarakat saat ini.
Bila bendera One Piece diumpamakan bisul ditubuh , apakah itu masalah kesehatan, yang tidak perlu di salahkan sang bisulnya, tapi yang perlu di diagnosa adalah mengapa muncul bisul?
Saat ini kepekaan sosial sangat dibutuhkan oleh terutama golongan yang berkuasa, ibarat penyakit, maka apakah bendera one piece itu sekedar hanya lipoma atau justru gejala awal cancer yang berbahaya.
Begitu pula apabila fenomena bendera One Piece sebagai pertanda penyakit sosial, sebaiknya dicari penyebabnya bukan dicari siapa-siapa yang mengibarkannya.
Sepanjang 10 tahun dibawah rezim Jokowi yang menekan. Yakni dengan hukum ada ditangan Jokowi dengan pola kriminalisasi, ini juga endapan yang bisa menyebabkan munculnya keresahan sosial.
Dan, ditambah lagi dengan mulai putus asanya rakyat, terhadap gaya kepemimpinan Presiden Prabowo yang tadinya dianggap antithesa dari Jokowi. Tapi, ternyata hanya proses. Sedangkan fakta di masyarakat sekarang ini, salah satunya adalah menukiknya daya beli masyarakat fenomena Rojali dan Rohana di mall-mall memang ada, bukan karangan.
Bagi penguasa atau siapapun yang punya uang, tidak ada masalah dengan beras, air minum dan lain-lain sebagai kebutuhan dasar. Tapi, rakyat yang menderita kesulitan, akibat derasnya PHK dan sempitnya lapangan kerja. Maka, hal ini adalah masalah gangguan yang prinsip.
Lantas, ditambah lagi perilaku Presiden Prabowo Subianto yang ambivalen. Antara lain melecehkan Indonesia Gelap, anti akademisi, gemar jalan-jalan ke luar negeri dengan berombongan, mengampuni koruptor hanya demi untuk menyatukan.
Padahal ada sejarahnya Bung Karno yang menjadi korban dari obsesinya sendiri, menyatukan semua unsur dibawah Nasakom.
Memasang bendera One Piece dibawah bendera Merah Putih, apakah itu isyarat akan bubarnya Indonesia tahun 2030? Sebuah kata yang pernah diucapkan Prabowo? Bangsa atau rakyat saat ini seperti berada di simpang jalan. Berhenti terpaku, bengong, hanya satu kejutan yang mengagetkan saja.
Mungkin bisa belok ke kiri atau ke kanan dengan tiba-tiba. Bendera One Piece bisa jadi gejala dari problem sosial yang akan terjadi lebih besar lagi. Yuk semua kita berpikir. (***/goes)
(PENULIS : KAMARUDDIN RACHMAT adalah Pengamat Masalah Sosial, kini tinggal di Jakarta)

