JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Akibat usia pipa yang sudah mencapai 103 tahun dan jadi penyebab, Direktur Utama (Dirut) PAM Jaya Arief Nasrudin sebut bahwa persoalan kebocoran air di Jakarta masih menjadi masalah serius. Kenapa? Karena, hal itu berdampak pada tingginya angka kehilangan air atau non-revenue water (NRW).
Diungkapkan Arief lebih lanjut bahwa salah satu penyebab utama tingginya kebocoran adalah usia jaringan pipa yang sudah sangat tua. Dan, bahkan sebagian besar telah beroperasi sejak era kolonial Belanda.
“Makanya, kebocoran air di Jakarta itu relatif tinggi. Penyebabnya, ya karena pipanya sudah berusia 103 tahun. Malah sebagian besar dipasang sejak 1922,” kata Dirut PAM Jaya melalui keterangan resminya di Jakarta, Senin (10/11/2025).
Selanjutnya dijelaskan bahwa terkait pipa-pipa tua peninggalan Belanda tersebut, masih digunakan hingga kini untuk menyalurkan air dari Cibodas, Bogor, juga menuju reservoir di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Salah satu reservoir bersejarah yang dibangun pada tahun 1922 ternyata masih aktif dan mampu menampung hingga 20 juta liter air.
“Jika ke sana, bentuknya seperti bangunan heritage. Itu reservoir pertama yang dibangun Belanda. Faktanya masih berfungsi sampai sekarang,” terangnya.
Arief Nasrudin pun menilai bahwa kondisi infrastruktur yang menua membuat peremajaan jaringan pipa menjadi kebutuhan mendesak. Oleh karenanya, PDAM Jaya memerlukan tambahan pendanaan sekitar Rp14 triliun agar pipa-pipa lama dapat diganti secara bertahap hingga air yang disalurkan bisa langsung diminum.
Disebutkan pula bahwa selain pembaruan jaringan, PDAM Jaya juga berupaya memperluas cakupan layanan air bersih. Saat ini, layanan air bersih telah menjangkau 76,19 persen wilayah Jakarta atau lebih dari satu juta sambungan pelanggan. Pemerintah menargetkan cakupan meningkat menjadi 90 persen pada 2027.
“Untuk pergerakannya sangat cepat sekali. Tapi untuk mencapai target 90 persen, kami butuh dukungan semua pihak. Termasuk dari kalangan atau temen-temen media,” ungkapnya.
Pada bagian lain, kata Arief Nasrudin, program subsidi air bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tetap dijalankan. Tahun ini, alokasi subsidi mencapai Rp66 miliar. Malah akan meningkat menjadi Rp111 miliar tahun depan melalui program Kartu Air Sehat. Dari program tersebut, pelanggan hanya membayar Rp 1.000 per meter kubik air. © RED/AGUS SANTOSA

