PosBeritaKota.com
Syiar

Allah SWT Tak Pernah Mendzalimi Hamba-Nya, MUSIBAH yang Dapat Menyelamatkan Hati

Oleh : Ustadz Dwi Taufan Hidayat

MUSIBAH sering kita benci karena terasa pahit, menghancurkan rencana, dan mengoyak kenyamanan. Namun di balik luka itu, bisa jadi Allah SWT sedang menyelamatkan kita dari kehancuran yang lebih besar. Apa yang tampak sebagai kehilangan, mungkin sebenarnya perlindungan.

Sebab, Allah SWT tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Ia menegur dengan cinta, mengingatkan dengan cara yang halus, dan membersihkan jiwa melalui ujian yang tak kita mengerti.

Ada kalimat yang sangat dalam maknanya: “Bisa jadi yang kita benci hari ini justru yang menahan kita dari kehancuran yang tidak kita sadari.” Ini bukan sekadar kata-kata motivasi, tetapi sebuah kaidah iman. Banyak manusia tidak sadar bahwa ketika hidup terlalu mulus, hati bisa tumbuh liar.

Ketika rezeki lancar, jabatan naik, pujian datang, dan semua pintu terbuka, manusia mudah merasa aman. Ia mulai lupa bahwa semua yang ia genggam hanya titipan. Dari situlah benih kesombongan muncul, lalu berkembang menjadi sikap meremehkan orang lain, merasa lebih suci, merasa paling benar, dan akhirnya melampaui batas.

Allah Ta’ala mengingatkan kita dalam Al-Qur’an bahwa kelapangan sering membuat manusia lupa diri:

كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ ۝ أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ

Artinya :
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6–7).

Ayat ini seperti cermin. Manusia melampaui batas bukan karena ia miskin, tetapi karena ia merasa cukup. Ia merasa tidak membutuhkan Allah SWT. Ia merasa kuat. Ia merasa aman. Dan ketika hati sudah merasa aman dari Allah SWT. saat itulah kehancuran sedang menunggu. Maka jangan heran jika Allah SWT kadang “mengganggu” kenyamanan kita. Bukan karena benci, tetapi karena cinta. Bukan karena ingin menyakiti, tetapi karena ingin menyelamatkan.

Allah SWT bahkan menegaskan bahwa boleh jadi sesuatu yang kita benci justru baik untuk kita:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Inilah inti dari hikmah musibah. Kita hanya melihat satu halaman, sedangkan Allah SWT. melihat seluruh kitab kehidupan kita. Kita menilai dengan rasa, Allah SWT menilai dengan ilmu. Kita menimbang dengan emosi, Allah SWT menimbang dengan rahmat dan keadilan. Maka ketika sebuah musibah datang, sering kali itu adalah pagar yang Allah SWT pasang agar kita tidak jatuh ke jurang yang lebih dalam.

Teks yang Anda tuliskan sangat tajam: “Seandainya bukan karena musibah, niscaya seorang hamba akan menjadi sombong, melampaui batas, dan berbuat zhalim.” Benar adanya. Banyak orang yang tidak pernah diuji akhirnya tidak mengenal dirinya sendiri. Ia tidak tahu betapa rapuhnya ia. Ia tidak sadar bahwa dirinya bisa berubah menjadi zalim jika terus diberi kelapangan tanpa teguran.

Allah Ta’ala menjelaskan bahwa musibah adalah sarana pendidikan jiwa, bukan sekadar hukuman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Artinya:
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Perhatikan kata “بِشَيْءٍ” (dengan sedikit). Artinya, musibah yang Allah SWT berikan sebenarnya tidak sebanding dengan kemampuan Allah SWT untuk menimpakan yang lebih besar. Kalau Allah SWT mau, cukup satu perintah saja, semuanya bisa hancur total. Tetapi Allah SWT tidak demikian. Allah SWT menguji secukupnya, sesuai ukuran iman seseorang.

Karena Allah SWT sudah menegaskan:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Artinya :
Allah SWT tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286).

Maka ketika kita merasa musibah itu berat, sebenarnya itu tanda bahwa kita sedang dibesarkan kapasitasnya. Allah SWT sedang menaikkan derajat sabar kita. Allah SWT sedang menguatkan tulang-tulang ruhani kita. Sebab iman tanpa ujian hanya akan menjadi slogan. Dan sabar tanpa tekanan hanya akan menjadi kata-kata kosong.

Rasulullah SAW ﷺ bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya:
“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya, dan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim).

Hadis ini seperti pelita. Orang beriman tidak pernah benar-benar rugi. Jika ia lapang, ia bersyukur. Jika ia sempit, ia bersabar. Dua-duanya menjadi jalan pahala. Dua-duanya menjadi jalan kedekatan kepada Allah SWT. Bahkan kesedihan pun bisa menjadi ladang pahala, selama hati tidak protes kepada takdir Allah SWT.

Rasulullah SAW ﷺ juga menegaskan bahwa musibah adalah penghapus dosa:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Artinya:
“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, dan kesusahan, حتى duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bayangkan, duri kecil pun dicatat sebagai sebab gugurnya dosa. Apalagi musibah besar yang menguras air mata, menekan dada, membuat tidur gelisah. Tidak ada tangisan yang sia-sia jika ia dibawa kepada Allah. Tidak ada luka yang kosong jika ia membuat seseorang semakin tunduk.

Karena itulah, kalimat dalam teks Anda menjadi sangat benar: “Maka Allah melindunginya dengan musibah itu dari semua hal tersebut, dan membersihkannya dari segala sesuatu yang ada dalam dirinya.”

Musibah adalah pembersih jiwa. Ada dosa yang tidak cukup ditebus dengan istighfar lisan saja, maka Allah SWT bersihkan dengan ujian. Ada sifat sombong yang tidak hilang hanya dengan nasihat, maka Allah SWT hancurkan melalui kehilangan. Ada cinta dunia yang terlalu melekat, maka Allah SWT cabut sebagian agar hati kembali lapang untuk mencintai akhirat.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan).” (QS. Asy-Syura: 30).

Ayat ini bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan untuk membuat kita sadar. Bahwa Allah SWT masih menutup banyak aib kita. Allah SWT masih memaafkan banyak dosa kita. Kalau semua dosa dibalas sekaligus, tak ada manusia yang sanggup bertahan. Tetapi, Allah SWT memilih cara yang lembut: menegur sedikit demi sedikit, agar kita kembali sebelum terlambat.

Dan di ujung teks Anda ada kalimat yang sangat indah: “Maha Suci Allah yang merahmati melalui ujian-Nya, dan menguji melalui nikmat-nikmat-Nya.”

Inilah hakikat kehidupan. Nikmat pun ujian. Kesehatan ujian. Anak ujian. Kekayaan ujian. Popularitas ujian. Bahkan ibadah pun ujian, apakah kita ikhlas atau ingin dipuji.

Allah Ta’ala berfirman:

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)

Maka jangan merasa aman hanya karena hidup sedang baik. Bisa jadi kelapangan itu adalah ujian yang lebih berat daripada musibah. Sebab banyak orang kuat saat miskin, tetapi runtuh saat kaya. Banyak orang sabar saat susah, tetapi lupa diri saat berhasil.

Jadi, ketika musibah datang, jangan buru-buru berkata, “Mengapa aku?” tetapi katakanlah, “Apa yang Allah SWT ingin perbaiki dalam diriku?” Sebab, seorang mukmin tidak melihat musibah sebagai akhir, tetapi sebagai pintu. Pintu taubat. Pintu kesadaran. Pintu kedewasaan iman.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5–6).

Perhatikan, Allah SWT tidak mengatakan “setelah” kesulitan, tetapi “bersama” kesulitan. Artinya, dalam musibah itu sendiri ada rahmat yang tersembunyi. Ada pertolongan yang tak terlihat. Ada doa-doa yang naik tanpa penghalang. Ada dosa yang luruh tanpa kita sadari.

Maka jika hari ini Allah SWT mengambil sesuatu dari hidup kita, jangan langsung menyimpulkan bahwa Allah SWT membenci kita. Bisa jadi Allah SWT sedang menyelamatkan kita dari kesombongan yang tumbuh diam-diam. Bisa jadi Allah SWT sedang menjaga kita dari jalan dzalim yang tanpa sadar kita tempuh. Bisa jadi Allah SWT sedang mengangkat derajat kita, karena Allah SWT ingin kelak kita datang kepada-Nya dalam keadaan lebih bersih.

Pada akhirnya, orang beriman akan berkata sebagaimana yang Allah ajarkan ketika musibah menimpa:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Artinya:
“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kami milik Allah SWT dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)

Kalimat itu bukan sekadar ucapan, tetapi pengakuan. Bahwa diri kita milik Allah SWT. Bahwa hidup kita milik Allah SWT. Bahwa apa pun yang hilang, sebenarnya kembali kepada Pemiliknya. Dan ketika hati mampu menerima itu, musibah tidak lagi menjadi gelap. Ia menjadi cahaya yang membimbing.

Maka benar, bisa jadi yang kita benci hari ini adalah bentuk kasih sayang Allah SWT yang paling halus. Musibah itu mungkin terasa menyakitkan, tetapi ia menahan kita dari kehancuran yang lebih besar. Dan betapa banyak orang baru mengenal Allah SWT setelah kehilangan, baru menemukan arah setelah jatuh, dan baru sadar setelah terluka. Semoga kita termasuk hamba yang mampu melihat rahmat di balik ujian, dan mampu bersyukur di balik nikmat. Aamiin. (***/goes)

(PENULIS: USTADZ TAUFAN HIDAYAT adalah Pemerhati Masalah Keagamaan dan Kehidupan Sosial Kemasyarakatan)

Related posts

Ibadah Umroh Bersama Keluarga, HENDARDJI SOEPANDJI Menempuh Perjalanan Sufistik ke Tanah Suci Makkah

Redaksi Posberitakota

Goresan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, SHALAT Perspektif Syariah – Tarekat & Hakikat (3)

Redaksi Posberitakota

Taraweh Malam ke-6 di Masjid Jami Al-Ikhlas RW 025 VGH Bekasi, USTADZ HUSNI MUBAROK Khotbah Ramadhan Itu ‘Bulannya Doa’

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang