BALI (POSBERITAKOTA) – Seorang pria asal Sumba, Krisno, menjadi korban sindikat lowongan kerja palsu di Bali. Ia disekap dan disiksa selama beberapa hari di dua hotel berbeda. Krisno bahkan diperas Rp 100 juta sebelum berhasil melarikan diri.
Kejadian ini terungkap setelah Krisno melapor ke Polresta Denpasar pada 9 Mei 2026. Krisno tiba di Bali pada 1 Mei 2026. Ia datang untuk mencari pekerjaan. Pada 4 Mei 2026, Krisno menerima tawaran lowongan kerja online. Penawaran itu datang dari oknum yang mengaku sebagai bos.
Krisno diundang wawancara kerja di Hotel Liberta Seminyak. Ia tidak menaruh curiga. Pelaku berbicara membawa nama Tuhan. “Saya tidak berpikir bahwa ini penipu,” kata Krisno, Selasa (9/6/2026). Ia menambahkan pelaku mengaku sesama Kristen.
Setelah wawancara selesai, barang-barang Krisno dirampas. Ponsel, laptop, koper, dan pakaiannya diambil. “Saya tidak punya apa-apa lagi,” ujarnya. Krisno kemudian dipindahkan ke Hotel Libertas Kedonganan.
Di sana, Krisno dituduh mencuri uang Rp 2 juta. Ia juga dituduh melakukan pelecehan. “Padahal saya tidak melakukan itu semua,” tegasnya. Krisno mulai disiksa sejak pukul 17.00 Wita hingga dini hari.
Ia disekap dan disiksa mulai 4 Mei hingga 9 Mei 2026. “Saya disiksa layaknya seekor anjing,” ungkap Krisno. Ia dipukul, diinjak, dan dicekik. Kalung salibnya ditarik dari belakang.
Pelaku juga menghubungi ibu Krisno di Sumba. Mereka meminta uang tebusan sebesar Rp 100 juta. Seorang oknum bernama Kenzo atau Audrey mengancam Krisno. Jika uang tidak dikirim, jari Krisno akan dipotong. Ancaman ini disampaikan pada 9 Mei 2026.
Pada 9 Mei 2026 sekitar pukul 04.00 dini hari, Krisno berhasil kabur. Ia melarikan diri saat penjaga tertidur pulas. Ia meminta bantuan di sebuah warung Madura. Krisno meminjam telepon untuk menghubungi keluarga.
Keluarga dan kerabatnya menjemput Krisno. Ia ditemukan dalam kondisi babak belur dan berlumuran darah. “Akhirnya berhasil kabur dari hotel,” kata Krisno. Ia lalu melapor ke Polresta Denpasar.
Polisi kini tengah menyelidiki kasus ini. Dua wanita yang diduga pelaku masih dalam pencarian. Kasus modus lowongan fiktif ini menjadi peringatan bagi pencari kerja. Masyarakat diimbau selalu waspada terhadap tawaran kerja mencurigakan.
Penyelidikan polisi terus berlanjut. Diharapkan pelaku sindikat penipuan kerja ini segera tertangkap. Modus penipuan dengan tawaran kerja palsu ini merugikan banyak pihak. ® RED/BALI 01

