Terkait Yerusalem, GP ANSOR Kota Surabaya Minta Prabowo Cabut Pernyataannya

SURABAYA (POSBERITAKOTA) – Sejak era Presiden Soekarno hingga Presiden Jokowi, sikap bangsa Indonesia tegas menolak penjajahan yang dilakukan Israel pada bangsa Palestina. Bahkan sampai hari ini, Republik Indonesia hanya mengakui Palestina sebagai sebuah negara dan tidak mengakui negara Israel.

Karena itu, pernyataan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto yang meminta pemerintah Indonesia menghormati keputusan Australia memindahkan kedutaan besar dari Tel Aviv ke Yerusalem, mendapat kecaman dari ormas Islam.

Salah satunya Gerakan Pemuda Ansor. HM. Faridz Afif, Ketua GP Ansor Kota Surabaya menilai pernyataan Prabowo itu jelas melukai rakyat Palestina dan umat Islam di Indonesia yang selama ini mendukung kemerdekaan bangsa Palestina.

“Pernyataan Prabowo itu seolah mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Padahal Pemerintah RI secara tegas menolak Israel memindahkan ibukotanya dari Tel Aviv ke Yerussalem. Sebab status kota Yerusalem masih status quo,” sesal aktivis muda NU yang akrab disapa Gus Afif itu, Kamis (29/11).

Panglima Banser Kota Surabaya ini mendukung sikap Pemerintah RI yang sampai hari ini menolak pemindahan ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Alasannya, selain masih berstatus quo, Yerusalem adalah kota suci bagi tiga agama yaitu Islam, Kristen dan Yahudi.

Afif menjelaskan bahwa bagi umat Islam kota Yerusalem atau Al Quds sangat istimewa karena di sana ada Masjid Al Aqsa yang menjadi tempat Israq dan Mi’raj Nabi Muhammad. Bahkan Masjid Al Aqsa ini adalah kiblat pertama umat Islam sedunia sebelum ada kakbah.

“Bila melihat sisi historis dan spiritual, Yerusalem yang di dalamnya ada masjid Al Aqsa mempunyai nilai spiritual yang tinggi bagi umat Islam sedunia. Jadi tak bisa Israel secara sepihak mengusai kota Yerusalem dan menjadikan sebagai ibukota negara,” urai Afif.

Alumni pasca sarjana Unair ini mengaku sangat geram dan prihatin adanya tokoh nasional yang juga calon pemimpin nasional justru mengakui klaim Israel terhadap kota Yerusalem. Kenyataan ini miris karena Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia yang seharusnya berdiri mendukung Palestina.

Karena itu, pihaknya berharap Prabowo mencabut pernyataannya tentang Yerusalem dan meminta maaf kepada umat Islam. Tidak hanya umat Islam di Indonesia tetapi juga umat Islam dunia. Kalau dia tidak meminta maaf berarti bisa disimpulkan itu adalah sikap politik yang bersangkutan.

“Kalau memang itu sikap politik yang bersangkutan. Maka kami juga mengambil sikap untuk tidak memilih calon pemimpin nasional yang tidak membela Islam atau hanya mempolitisasi Islam,” tegas Afif.

Sekedar diketahui, Prabowo merespon rencana Australia yang akan memindahkan kedutaan besar mereka dari Tel Aviv ke Yerusalem. Menurut Prabowo pemerintah RI harus menghormati sikap Australia tersebut. ■ RED/DIDAY/GOES

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here