Jika Melenceng Harus Diluruskan, M TAUFIK Minta Wartawan & LSM Kritisi Kinerja Gubernur Anies

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Sebagai mantan Wakil Ketua Pemenangan Anies-Sandi pada Pilkada DKI 2017, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Mohamad Taufik tidak serta-merta mendukung seluruh program kerja Gubernur Anies Baswedan. Ia justru mengingatkan kepada para aktivis LSM dan wartawan untuk mengkritisi kinerja kepala daerah agar sesuai harapan masyarakat banyak.

“Pak Anies itu jangan dibiarkan melenggang saja sehingga lupa terhadap program prioritas. Dia harus sering dikritik. Jika ada kebijakan yang tidak bermanfaat harus segera diingatkan, biar tidak berlarut-larut. Kalau ada yang melenceng, harus diluruskan,” ujar Taufik pada acara buka bersama sejumlah wartawan dan aktivis LSM di salah satu kediamannya kawasan Pondok Rangon, Jakarta Timur, Minggu (19/5).

Ia mencontohkan salah satu program mubazir yang harus dikritisi adalah proyek pembangunan LRT Jakarta. Proyek tersebut merupakan pembangunan termahal di dunia, tapi tidak ada manfaat.

“Bayangkan saja, pembangunan trek kereta LRT dari Depo Kelapa Gading hingga Stasiun Rawamangun, panjangnya cuma 5,8 kilometer tapi menelan biaya Rp 6,2 triliun atau sekitar Rp 1,1 triliun per kilometernya,” papar Taufik yang juga Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta.

Baca Juga:  Sampaikan Soal Beauty 4.0, DOKTER LANNY Pembicara Tunggal di Acara 'Aesthrtic Outlook 2019'

Menurutnya megaproyek yang dikerjakan PT Jakpro tersebut sebagai proyek gagal waktu dan gagal fungsi. LRT mestinya digunakan untuk angkutan atlet Asian Games 2018 yang digelar di Jakarta pada Agustus tahun lalu. Tapi nyatanya, hingga saat ini kereta tersebut belum bisa dioperasikan secara resmi.

“Selain itu, angkutan ini juga tidak banyak diminati masyarakat karena jaraknya sangat pendek. Ini mengesankan proyek yang dipaksakan,” ujar Taufik sambil mendesak Anies maupun Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) tidak mendiamkan adanya proyek mubazir tersebut.

Taufik berharap agar TGUPP punya kerjaan, sebaiknya melaporkan kasus proyek LRT Jakarta ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Megaproyek ini sangat berbau sekali terhadap aroma korupsi.

“Sebab, nilai rupiahnya sangat besar dibanding hasil kerjanya. Selain itu juga terkesan dipaksakan. Ada apa nih?” sambung Taufik yang sangat berharap agar proyek ini diusut dari ujung sampai pangkal untuk mengetahui orang-orang yang bermain di dalamnya. ■ RED/JOKO/S

Beri Tanggapan