Butuh Investasi Rp 60 M, PERUMDA PASAR Jaya Siap Bangun Pengolahan Sampah Jadi Pakan Ternak

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Perumda Pasar Jaya yang mengelola 153 pasar tradisional ternyata sebagai salah satu penyumbang sampah terbesar di Ibukota. Tiap hari dari seluruh pasar tersebut memproduksi sampah sekitar 560 ton dari total volume timbulan sampah sekitar 7 ribu ton se-DKI Jakarta.

Untuk membuang sampah dari pasar menuju TPST Bantar Gebang Bekasi, dibutuhkan biaya sekitar Rp 1 miliar per bulan untuk dibayarkan kepada Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.

“Gubernur DKI Jakarta telah menugaskan kepada kami untuk melakukan swakelola sampah dengan cara mengolah sampah menjadi pakan ternak,” ujar Dirut Perumda Pasar Jaya, Arief Nasrudin di kantornya Jl Cikini Raya, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (28/5).

Dalam rangka efisiensi pengeluaran serta menjaga kebersihan lingkungan, Perumda Pasar Jaya akan mengelola sampah sendiri. Caranya, sampah basah dari 153 pasar akan diolah menjadi pakan ternak berupa larva.

“Sesuai penugasan dari Gubernur DKI Anies Baswedan, kita merencanakan mengelola sampah sendiri secara bertahap,” kata Arief didampingi sejumlah direksi.

Menurutnya, sebagian besar limbah pasar tradisional merupakan sampah basah yang cocok diolah untuk bahan baku pakan ternak. Pihaknya akan bekerja sama dengan pihak ketiga untuk merealisasi pembangunan fasilitas tersebut.

“Pekerjaan akan dimulai awal tahun 2020 dan pada tahap awal ditargetkan dapat mengurangi volume timbulan sampah sekitar 40 ton sehari dan tahun berikutnya mencapai 140 ton, dan seterusnya sehingga sangat mengurangi sampah yang harus dibuang ke Bantar Gebang,” papar Arief.

Direktur Tehnik Dono Pratomo menambahkan, rencana ini sudah matang dibahas di internal Perumda Pasar Jaya dan akan bekerja sama dengan PD Dharma Jaya, yang memiliki lahan yang cukup di Jalan Raya Penggilingan, Jakarta Timur.

“Dharma Jaya selain memiliki lahan, BUMD yang fokus mengelola ketersediaan daging, juga memproduksi kotoran ternak. Ini pas untuk pengolahan sampah yang ramah lingkungan ini. Sebab kami nanti tidak membakar sampah,” paparnya.

Pembangunan lahan pengolahan sampah menjadi pakan ternak ini akan dimulai awal 2020. Investasi untuk pembangunan pengolahan sampah menjadi pakan ternak ini membutuhkan investasi Rp 60 miliar.

“Dalam hal ini, kami tidak fokus untuk mencari keuntungan, namun untuk mengolah sampah menjadi sesuatu yang berguna. Ditambah lagi, tidak merusak lingkungan berupa polusi,” imbuh Dono. ■ RED/JOKO/S

Beri Tanggapan