Sumbangan Warga Binaan, USTADZ DEWA PUTU ADHI-MASTER LIMBAD Terima 150 Al-Quran Braile & Masker

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Warga binaan atau terpidana yang selama ini berada di dalam tembok penjara, masih dipandang hina oleh masyarakat. Padahal, jika mau melihat mereka yang sesungguhnya, tak sedikit telah berusaha memperbaiki diri. Bahkan masih perduli lewat aksi positif, terutama untuk berbuat bagi masyarakat yang justru hidup bebas di luar penjara.

Komunitas Da’i Lapas Nasional (DLN) yang diwakili Ustadz Dewa Putu Adhi dan Master Limbad, baru saja menerima sumbangan sebanyak 150 naskah Al-Quran Braile dan masker untuk para korban bencana asap di Riau dan Kalimantan. Sedangkan sumbangan itu datang dari para warga binaan yang ada di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Jakarta, Jumat (20/9) petang kemarin.

“Sungguh, apa yang dilakukan saudara-saudara kita sebagai warga binaan yang ada di lembaga pemasyarakatan, sangat membanggakan sekaligus mengejutkan bagi kami. Mereka minta sumbangan tersebut, disampaikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Baik terkait naskah Al-Quran Braile maupun masker,” tutur Ustadz Dewa Putu Adhi kepada POSBERITAKOTA, Sabtu (21/9) pagi.

Menurutnya, selama ini Komunitas DLN sebelumnya sudah secara rutin menggelar program dakwah ke Lapas di wilayah Jabodetabek. Para warga binaan dibina untuk belajar membaca Al-Quran, Tadarusan serta menghapal AlQuran. Salah satu dampak positifnya, mereka (warga binaan-red), berinisiatif menyumbangkan naskah Al-Quran Braila serta masker bagi masyarakat yang sedang tertimpa bencana di Riau maupun Kalimatan.

Baca Juga:  Sengketa Pilpres Sudah Usai, H BECENG Ajak Warga Jakarta Kembali Bersatu

Sedangkan Master Limbad yang kini banyak terjun dalam syiar agama Islam bersama sejumlah da’i maupun ustadz Ibukota, mengungkapkan apresiasinya. Sebab, menurut dia, warga binaaan yang berada di dalam tembok penjara juga merupakan saudara.

“Mereka butuh bimbingan dan pengakuan eksistensinya. Karena, mereka berharap bisa kembali dan diterima masyarakat. Hampir sebagai besar telah bertaubat dan mengakui kesalahan. Kesemua itu juga berkat program Komunitas DLN selama ini,” tutur pria asal Slawi, Tegal, yang juga dikenal sebagai magician (pesulap-red) tersebut.

Perlu menjadi catatan bahwa program Komunitas DLN di Jabotabek memiliki sasaran agar para warga binaan di Lapas-Lapas, bisa lebih meningkatkan keimanan. Termasuk tekun menjalani perintah sholat 5 waktu serta ada juga yang bersyahadat memeluk agama Islam. ■ RED/AGUS SANTOSA

Beri Tanggapan