PosBeritaKota.com
Opini

Dirayakan Setiap 9 Maret, HARI MUSIK NASIONAL & Kejayaan Pita Kaset di Industri Musik

OLEH : HANNOENG M. NUR

SETIAP tanggal 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional berdasarkan hari lahir pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya” Wage Rudolf Supratman. Kemudian dibuatlah aturan untuk menetapkan, yakni melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 10 Tahun 2013 tentang Hari Musik Nasional.

Meskipun muncul kontroversi juga karena berdasar penulusuran sejarah. Ternyata WR. Supratman justru lahir pada tanggal 19 Maret 1903, bukan pada tanggal 9 Maret 1903. Apapun kontroversi tersebut, namun yang paling utama adalah concern pada eksistensi musik Indonesia itu sendiri, dimana dianggap sebagai sebuah kekayaan nasional yang perlu terus dijaga dan dikembangkan. Lalu apakah musik Indonesia pernah berjaya?

Musik Indonesia, dalam hal ini adalah industri musik, pernah mengalami kejayaan, terutama saat media putar musik masih menggunakan pita kaset, di tahun 70-an hingga akhir 90-an. Jutaan keping kaset lahir di industri musik di dalam kurun waktu itu. Perusahaan-perusahaan rekaman berjaya saat itu, seperti Remaco, Purnama Record, Akurama, Yukawi, Jackson Record, Blackboard, JK Record dan Musica Studio serta beberapa lagi. Satu persatu label-label rekaman itu melahirkan artis-artis penyanyi atau group musik yang penjualan kasetnya bahkan menembus angka jutaan keping.

Beberapa artis memang hadir dengan penjualan kaset yang meledak, seperti Dian Piesesha, Ebiet G. Ade, Itje Trisnawati, Meriem Bellina, Betharia Sonata, Diana Nasution, Sheila On 7, Padi, Jamrud, Peter Pan dan banyak lagi. Bahkan lagu anak-anak pun ada yang mencetak penjualan kaset jutaan keping. Sebut saja misalnya Trio Kwek-kwek, Ria Enes & Boneka Susan dan Joshua. Para artis itu lahir tentu saja berkat lagu-lagu hebat para penciptanya seperti Rinto Harahap, Muhtar B, Pance Pondaag, Obbie Mesakh dan juga Papa T. Bob.

Namun dari semua lagu dan artis itu, rasanya pemegang rekor sepanjang sejarah industri musik Indonesia tetaplah ada di tangan Nike Ardilla. Penyanyi asal Bandung temuan Denny Sabri ini dicetak oleh Deddy Dores sebagai artis terkenal. Penjualan album Nike “Bintang Kehidupan” mencapai angka 6 juta keping untuk penjualan di Indonesia dan Asia Tenggara. Album yang dirilis pada Februari 1990 ini meraih “The Best Selling Rock Album” di ajang BASF Award, sementara saat ajang Asian Song Festival di Shanghai tahun 1991 Nike juga membawakan lagu ini dalam versi Bahasa Inggris (The Star of Life) dan meraih The Winner of New Singers Contest.

Penjualan kaset album pertama Nike itu disusul kemudian oleh album-album berikutnya. Juga terjual jutaan keping. Fenomena itu tentu saja belum terjadi lagi saat ini. Bukan saja karena pita kaset telah tergusur oleh lahirnya kepingan CD, tetapi karena saat ini telah lahir industri musik baru melalui platform digital.

Pita kaset telah menjadi sejarah. Ketika perusahaan Philips di Eropah membuat kaset pertama kalinya di tahun 1973, tentu tak terbayangkan penemuan mereka itu akan menjadi fenomena, tak juga membayangkan jika pada akhirnya akan lahir CD dan platform digital seperti saat ini.

Sejarah memang tak mungkin terulang, dalam format yang sama. Tapi kesukaan orang terhadap bagian sejarah itu tak bisa juga terelakkan. Masih banyak orang yang mencari pita kaset. Masih banyak juga yang setia menjualnya, seperti di Jalan Surabaya dan Blok M Plasa. Bahkan masih ada toko kaset yang tetap buka sejak tahun 70-an, seperti toko kaset Widodo milik Liem Kiem Beng di Mojokerto, Jawa Timur. (***)

(PENULIS adalah Redaktur Senior POSBERITAKOTA)

Related posts

Acuan Survei Setara Institute Tentang ISIS, ‘ANAK MUDA dalam Lingkaran Ekstremisme & Kekerasan’

Redaksi Posberitakota

Moment Doa Sahur & JELANG BUKA PUASA Diantara Tayangan Televisi

Redaksi Posberitakota

Ujaran Kebencian Itu Wajib, KELIRU JIKA KITA Diminta Diam atau Ambil Sikap Netral pada Kemaksiatan seperti Korupsi

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment