Ambil Pelajaran Soal Etika & Sportivitas, DARI SANTUNNYA CR-7 Hingga Kudeta Partai Demokrat

OLEH : MUH FITRAH YUNUS

SUDAH penulis sangka jauh-jauh hari sebelumnya, bahwa bintang sepakbola asal Portugal, Cristiano Ronaldo, akan mampu melewati rekor gol para pendahulunya. Terbukti! CR-7, panggilan akrabnya, telah menorehkan dan mencetak golnya yang ke-770. Tiga gol lebih banyak dari sang legenda sepokbola Brazil, Pele. Sedangkan Pele sendiri takjub dan merasa bangga atas capaian CR-7. Pele pun mengirimkan pesan ke CR-7 lewat akun instagramnya yang artinya kira-kira begini:

Cristiano, hidup adalah penerbangan solo. Masing-masing melakukan perjalanannya sendiri dan betapa indahnya perjalanan yang Anda jalani! Saya sangat mengagumi Anda, saya suka melihat Anda bermain dan itu bukan rahasia bagi siapa pun. Selamat atas pemecahan rekor gol saya di pertandingan resmi. Satu-satunya penyesalan saya adalah tidak bisa memeluk Anda hari ini. Tapi, saya memasang foto ini untuk menghormati Anda, dengan penuh kasih sayang, sebagai simbol persahabatan yang telah terjalin bertahun-tahun.”

Secara pribadi, penulis cukup kagum dengan sosok CR-7. Semangatnya untuk menapaki karir pesepakbola dari bawah hingga sekarang menjadi bintang patut diacungkan jempol. Pele sang sosok legenda panutan bagi CR-7 sejak kecil mampu ia lampaui. Dengan tekad yang kuat, CR-7 menjadi bintang pesepakbola dunia penuh etika dan kesantunan.

Mengapa demikian? Karena siapa sangka, di samping lihainya ia memainkan si kulit bundar, CR-7 juga memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Bagi bangsa Indonesia tentu sangat ingat pada tahun 2004, ketika gelombang Tsunami menerjang beberapa negara Asia, termasuk Indonesia, CR-7 datang ke Banda Aceh. Ia mengangkat seorang anak asal Aceh bernama Martunis yang selamat dari bencana Tsunami.

Tak terhitung sudah betapa banyaknya CR-7 menyumbangkan hartanya dalam kegiatan-kegiatan sosial. Saat bencana terjadi di Nepal, CR-7 dikabarkan memberi sumbangan US$ 5 juta. Upaya kemanusiaan Cristiano Ronaldo lain di antaranya mengunjungi banyak anak yang menderita berbagai penyakit, seperti tumor otak dan kanker tulang belakang. Selain itu, pada 2012 dia menyumbangkan Trofi Sepatu Emas yang diraihnya setahun sebelumnya untuk mendanai sekolah Palestina di Gaza.

Sebagai pesepakbola, CR-7 menunjukkan etika dalam dunia sepakbola juga jiwa sosial yang sangat tinggi, menolong sesama manusia. CR-7 merasakan betul betapa berharganya proses dan etika. Menjaganya akan memberikan buah ranum nan manis di masa depan.

Meski penulis hanya penikmat sepakbola, namun tindakan CR-7 mengingatkan satu pesan penting dari S. Jack Odell : “Masyarakat tanpa etika adalah masyarakat yang menjelang kehancuran”. Tentu buah ranum nan manis yang diharapkan CR-7 bukanlah kehancuran! Dan, hal ini penting jadi teladan bagi para elit politik negeri ini.

Konflik Partai Demokrat, jika diikuti secara seksama, hingga saat ini belum juga usai. Saling klaim kepemimpinan menghiasi konflik itu dan saat ini berujung pada saling lapor.

Bermula dari adanya kecurigaan akan adanya pengambilalihan paksa maupun ‘Kudeta‘ oleh sejumlah kader partai yang tak puas jika partai berlambang Mercy itu dibawah kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Akhirnya kudeta itu terbukti, beberapa mantan kader partai yang telah diberhentikan alias dipecat menyelenggarakan Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang, Sumatera Utara, lalu mengangkat Kepala Staf Presiden, Moeldoko, menjadi Ketua Umum Partai Demokrat versi KLB.

AHY pun bereaksi. Kemudian mengambil langkah cepat untuk menjelaskan dan menegaskan bahwa KLB tersebut inkonstitusional karena melanggar UU tentang Partai Politik, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai Demokrat. Selain itu tentu saja mengikis etika politik dan demokrasi di negara berideologikan Pancasila.

Kubu Moeldoko pun tidak ingin kalah, bersama pengurus versi KLB, mereka mendaftarkan legalitas kepengurusannya ke Kemenkumham RI, meski belum ada jawaban pasti apakah akan disahkan atau tidak.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun belum angkat bicara soal konflik ini. Alasannya, Presiden tak ingin ikut campur dalam konflik internal Partai Demokrat, meskipun telah memanggil Menkopulhukam dan Menkumham. Lantas, menanyakan bagaimana upaya penyelesaian konflik?

Dalam memupuk demokrasi itu sendiri, Pemerintah dan masyarakat harus berpadu, bersatu agar supaya menumbuhkembangkan kemauan baik politik (political will) di lingkungannya. Pastisipasi masyarakat adalah kebutuhan mendesak.

Melihat konflik yang terjadi di tubuh Partai Demokrat, seharusnya masyarakat ikut berempati dan mengangkat suara tentang pentingnya etika politik di negara ini. Jika ‘acuh’, maka harapan atas politik bersih, politik santun dan politik yang beretika – hanya manjadi mimpi panjang. Politik jangan dimaknai hanya mobilisasi massa di musim-musim Pemilu maupun Pilkada.

Apa yang dilakukan CR-7 sangat bijak. Sepakbola tidak hanya menjadi rutinitas olahraga dan industri, tapi juga nilai sportifitas dalam upaya melampaui perolehan gol Pele, ia raih. Di samping itu, ada juga tanggungjawab sosial yang dinyatalaksanakan. Bagi CR-7, sepakbola bukan hanya soal memainkan si kulit bundar, tapi juga soal etika dan kemanusiaan.

Politik di Indonesia pun demikian, juga harus menghadirkan kemanusiaan, etika dan sportifitas. Jangan sampai, apa yang dikhawatirkan Odell benar-benar terjadi. Ancaman serius bagi bangsa dan negara! (***)

(PENULIS adalah Direktur Eksekutif Trilogia Institute/Pemerhati HTN dan Kebijakan Publik).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here