31.4 C
Jakarta
5 December 2022 - 11:42
PosBeritaKota.com
Syiar

SAMPAI AKHIR ZAMAN KELAK, PESAN NABI MUHAMMAD SAW KE UMATNYA : JADIKAN AL-QUR’AN & HADIST UNTUK PEGANGAN HIDUP

OLEH : SOFYAN SP.D

NABI MUHAMMAD SAW adalah Nabi yang terakhir (the last prophet), yang diberi wahyu (revelation) oleh Allah SWT berupa Al-Qur’an yang mana isinya berupa ajaran-ajaran dari Allah SWT untuk umat Rasulullah (Baginda Nabi Muhammad SAW) tersebut dan berlaku sampai akhir zaman untuk dipatuhi khususnya bagi orang-orang yang beriman (believers).

Bahkan sewaktu beliau masih hidup, segala macam persoalan yang apabila umat Islam, terutama para sahabatnya ada yang mengalami kebuntuan (deadlock) dalam memecahkan persoalan. Atau ada yang kurang paham misalnya mengenai masalah hukum, tata cara shalat, tata cara zakat, puasa, tata cara haji, jual beli, rukun iman, hidup bertetangga, tata cara hidup bermasyarakat, tata cara cara shalat jenazah, masalah toleransi dalam Islam, siapakah yang boleh dinikahi dan tidak, masalah hutang piutang, riba, masalah tata cara memilih pemimpin, masalah pinjam meminjam, tata cara jual beli, masalah wasiat, kewajiban membela negeri, masalah kesehatan jasmani dan rohani dan lain sebagainya – maka mereka bisa menanyakannya langsung kepada Rasulullah. Kapan saja dan dimana saja.

Rasulullah pun dapat menjawab atau memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan yang sedang dihadapi oleh para sahabatnya itu dengan sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya. Kenapa? Hal itu karena Rasulullah selalu dibimbing atau dituntun oleh Allah SWT, yakni melalui wahyu berupa
Al-Qur’an.

Adapun jika terkait masalah, misalnya seperti yang disebutkan di atas bagaimana tentang tata cara shalat, tata cara puasa, zakat, haji dan lain sebagainya – Rasulullah menjelaskan atau sampaikan melalui haditsnya. Itu sebenarnya dari Allah SWT juga, karena tidak mungkin Nabi Muhammad SAW menjelaskannya atas kemauan dirinya sendiri.

Melihat fakta atau kenyataan seperti itu, maka layak kalau Nabi Muhammad SAW dikatakan sebagai Al-Qur’an Berjalan (The walking Koran).

Nabi Muhammad SAW telah tiada. Namun ketika masyarakat suatu bangsa, dimanapun berada menemui berbagai macam persoalan atau permasalahan, ke mana mereka harus bertanya? Jawabnya : Bertanyalah kepada Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Adakah jawabannya di situ? Sesuaikah jawabannya dengan masalah yang sedang dihadapi?
Karena Al-Qur’an dan Hadits Nabi itu sudah menjelaskan atau mengatur kehidupan umat manusia secara lengkap atau menyeluruh (conprehensive).

Disamping kita itu mencari jawabannya yang sesuai berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits Nabi, tentu boleh juga kita bertanya kepada ahlinya atau yang sesuai dengan bidangnya masing masing. Misalnya kalau kita ingin mengetahui masalah penyakit, tentu kita bertanyanya kepada para ahli kesehatan, para dokter.

Kalau kita ingin mengetahui masalah bangunan gedung, tentu kita bertanyanya kepada para ahli bangunan gedung (architect). Kalau kita ingin mengetahui masalah agama khususnya yang berhubungan dengan hukum Islam, tentu bertanyanya kepada para ulama yang benar-benar 0aham tentang Al-Qur’an dan Hadits. Sebab para ulama itulah pewaris para Nabi.

Nabi Muhammad SAW bersabda dalam Haditsnya yang artinya sebagai berikut : “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sungguh para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka telah mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak“. (HR. Tirmidzi No. 2681, HR. Abu Dawud No. 3641).

Selanjutnya, Nabi Muhammad SAW ketika masih hidup , beliau berpesan kepada umatnya agar dalam mengarungi hidup ini mau berpegang teguh kepada kedua warisan yang beliau tinggalkan. Apa itu kedua warisan yang dimaksud? Tidak lain adalah berupa Al-Qur’an dan Hadits untuk menjadi pedoman hidup (the way of life) bagi manusia, supaya tidak tersesat selama – lamanya. Hal ini sesuai dalam haditsnya yang berbunyi : Taraktu fiikum amraini lan tudhilluu maa tamassaktum bihimaa kitaaballaahi wasunnata Rasuulihi.

Artinya : “Aku telah tinggalkan kepada kalian dua hal yang jika kalian berpegang teguh kepada nya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunah Nabi-Nya,” (HR Malik dalam Al-Muwatha).

Berdasarkan Hadits di atas, maka khususnya bagi umat Islam wajib/mutlak hukumnya mempelajari kedua warisan dari Nabi Muhammad SAW tersebut. Baru setelah itu mempelajari yang lain-lainnya.

Jadi, jangan sampe kebalik-balik, atau bahkan malah Al-Qur’an dan Hadits tidak dipelajari sama sekali. Nah, begitulah yang harus kita sadari sebagai umat Rasullullah atau Baginda Nabi Muhammad SAW. Akhirnya, penulis cuma bisa berharap, semoga kita semua selalu mendapat Petunjuk atau Hidayah dari Allah SWT. Aamiin. (***)

(PENULIS adalah Alumni Lembaga Pengajaran Bahasa Arab As-su’udi di Jakarta, Tahun 1985)

Related posts

Dikelola Yayasan Jami Al-Ikhlas RW 025 Kebalen Bekasi, TAMAN PENDIDIKAN AL-QURAN Didik 100 Murid

Redaksi Posberitakota

Ketum PBNU, KH SAID AQIL SIRADJ Sebut Perjodohan Tanda Kebesaran Allah SWT

Redaksi Posberitakota

Goresan Imam Besar Masjid Istiqlal, MENGUATKAN TELINGA BATIN (SAMA’)

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang