26.7 C
Jakarta
21 July 2024 - 04:41
PosBeritaKota.com
Daerah

Binaan dari Human Initiative, SEMANGAT KOLABORASI untuk Kebangkitan Petani Bunga Krisan Cianjur

CIANJUR (POSBERITAKOTA) – Penuh pesona yang memikat, tapi juga sarat dengan makna. Begitulah Bunga Krisan yang juga disebut Krisan Hargem (Chrysanthemum), si cantik nan anggun dari Asia Timur.

Sedangkan di Indonesia, bunga ini jelas lebih akrab berjuluk Bunga Seruni. Dimana melambangkan kekaguman, pujian, kebangsawanan, keceriaan hingga kedukaan.

Bunga Krisan itu sendiri hadir dalam beragam warna dan ribuan jenis yang juga hasil dari perpaduan dengan Bunga Krisan dari negara lain. Bahkan, keindahannya tak hanya bisa dinikmati di taman, tapi juga menghiasi ruangan rumah, hotel dan malah kerapkali menjadi buket istimewa.

Dalam hal budidaya Bunga Krisan, justru banyak dijumpai di dataran tinggi. Malah dikelola oleh kelompok tani maupun individu. Salah satu penghasil terbaiknya adalah di Desa Nyalindung, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di sini, Bunga Krisan tak hanya menjadi sumber keindahan, namun juga menjadi mata pencaharian bagi banyak orang.

Seperti sudah diketahui dan bahkan dari generasi ke generasi berikutnya budidaya Bunga Krisan Hargem di desa tersebut. Namun sayang.duka menyelimuti Nyalindung pada 21 November 2022. Gempa bumi dangkal 5,6 Magmitudo melanda serta menghancurkan banyak lahan Bunga Krisan.

Sampai-sampai para petani pun terpuruk, merasakan penurunan pendapatan akibat bencana. Jastru ditengah keterpurukan, secercah harapan hadir melalui program pemberdayaan petani Bunga Krisan, yakni hasil dari kolaborasi Sahabat Inisiator, para relawan dan juga pemerintah daerah (Pemda) setempat.

Bentuk bantuan tersebut, tak hanya memulihkan semangat para petani. Di sisi lain juga seperti membuka jalan baru, yakni untuk bangkit dari keterpurukan yang pernah dialami.

Sejatinya, program tersebut tak hanya berfokus pada pemulihan fisik lahan Bunga Krisan. Tapi juga memberikan pelatihan dan pendampingan usaha bagi para petani. Mereka diajarkan teknik budidaya yang lebih modern dan efisien, serta strategi pemasaran yang lebih efektif.

Berkat program ini, para petani Bunga Krisan di Nyalindung mulai bangkit. Lahan mereka kembali hijau, hasil panen membaik serta pendapatan mereka pun otomatis kembali pulih.

Pendamping petani Bunga Krisan, Hargem Urwah Azizurahman (36) menuturkan bahwa ada 15 petani penggarap di lahan sewa.

“Luas lahannya yang digarap 15 petani binaan Human Initiative (HI) tahap pertama ini baru 400 m2x 400 m2 , dikelola secara modern, dibuat green house mesti kerangkanya baru dari bambu, namun sudah lumayan baik,” ujar Urwah kepada POSBERITAKOTA yang mewawancarai beberapa waktu lalu.

Sedangkan metode budidaya menggunakan green house. Baik untuk perkembangan pohon, produksi dan melindungi Bunga Krisan dari hama. Cuaca ekstrem, penuh ketidakpastian membuat budidaya bunga tersebut, seringkali tidak mendapatkan hasil yang maksimal alias tak sesuai harapan.

Terkait modal awal yang dibutuhkan atau diperlukan para petani, jelas lumayan besar. Hal itu tidak bisa dihindari. Namun dengan green house hasil yang diraih lebih optimal. “Umur Bunga Krisan dari tanam hingga menghasilkan bunga siap panen, lebih kurang 90 hari,” jelas Urwah lagi.

Oleh karenanya, ia berharap intervensi Human Initiative (HI) kepada petani Bunga Krisan, tidak berhenti di situ saja. Masih banyak dari mereka yang ingin mendapatkan bantuan serupa, tentu agar hasil budidayanya terus meningkat. Lalu, kehidupan keluarganya pun jadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Urwah juga berharap Human Initiafive bersama para pecinta Bunga Krisan di Indonesia, terus membantu kampanye terkait kebaikan dan eksistensi Bunga Krisan agar masyarakat luas semakin mengenal dan menggunakannya.

Pemberian pelatihan tentang strategi pemasaran Bunga Krisan harus terus dilakukan. Sebab, sampai saat ini, para petani masih menjual hasil panennya ke tengkulak atau pengepul, sehingga mereka tidak bisa menikmati harga Bunga Krisan yang bagus.

Nah, justru para pengepullah yang mendapatkan untung besar. Karena dari tangan petani hingga (user) pengguna di kota-kota besar seperti, Jakarta, Bandung, Bogor dan wilayah Detabek (Depok, Tangerang dan Bekasi) memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Tentunya bagi kalian yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut, bisa mengunjungi solusipeduli.org untuk melihat program kebaikan-kebaikan lainnya. Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi? © RED/REL/AGUS SANTOSA

Related posts

Antara Duka & Keceriaan Anak-anak, SEBANYAK 6 DESA di Kecamatan Brebes Tak Berdaya Dilanda Banjir Besar

Redaksi Posberitakota

Tingkat Provinsi Jabar 2022, DESA GEDEPANGRANGO Jadi Finalis ‘One Village One Story’

Redaksi Posberitakota

Sambut dengan Wajah Sumringah, WARGA DESA BINUSAN DALAM NUNUKAN Langsung Menikmati Dibukannya Sarana Jalan

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang