OLEH : AGUS SANTOSA
BICARA soal ‘etika‘ seseorang akan berbanding lurus dengan yang namanya kehidupan sosial. Tentu seberapa besar seseorang itu pandai menerapkan perilakunya sehari-hari, terutama dalam berinteraksi sosial, karena memang jatidiri seorang tak lepas dari yang namanya makhluk sosial.
Berbeda dengan yang disebut ‘adab‘. Biasanya, persoalan ‘adab‘ bakal tumbuh pada diri seseorang, jika mau belajar atau memahami agama. Bisa melalui kewajibannya dalam beribadah fardhu alias sholat 5 waktu atau sering menghadiri kegiatan majelis taklim/pengajian. Baik di lingkungan tempat tinggal maupun di masjid.
Namun, bisa jadi kedua hal di atas baik itu ‘etika‘ maupun ‘adab‘, jauh dari kehidupan seseorang manakala aktifitas rutin ibadah fardhu sholat 5 waktu dan hadir di majelis taklim, justru terabaikan. Ukuran nalar berpikir dan perasaannya, justru jauh dari hal-hal yang lazim digunakan atau kurang pintar menerapkan dirinya di lingkungan tempat tinggal.
Ada persoalan sederhana yang kerapkali menimpa bagi siapa saja. Dan, hal itu sangat tak dipahami, juga cenderung memiliki pola pikir dibawah standar. Apa itu? Jika merasakan atau melihat ‘kebaikan‘ seseorang, tak harus berpikir misalnya untuk membalas budi. Cukup ‘dikenang‘ atau ‘diingat’, sehingga diri kita bakal dipandang atau dinilai masih memiliki yang namanya ‘etika‘ dan ‘adab‘.
Sebab, terkait ‘etika‘ maupun ‘adab‘ jika dimiliki seseorang, justru mengubur pandangan bahwa dia kaya raya atau pintar. Kedua hal tersebut di atas, jauh lebih tinggi nilainya, apabila seseorang cuma mengandalkan harta kemewaan atau kepintaran tapi tak bermanfaat buat lingkungan maupun orang lain.
Sedangkan perbuatan baik itu sendiri, bisa bermacam-macam – karena bakal bergantung dari niatnya. Ramah – banyak menyalami orang lain dengan bertegur sapa, jelas merupakan sifat-sifat mulia yang telah dicontohkan para Nabi atau seseorang karena memiliki ‘etika‘ dan ‘adab‘ yang tinggi.
Seperti mengingatkan maupun mengkritik orang lain agar jangan jadi ‘pembenci‘ atau ‘sok kuasa‘ atau merasa bisa melakukan segalanya alias mencegah sifat serakah – juga merupakan perbuatan baik. Artinya, agar orang yang dalam kategori di atas, tidak semakin terlena jadi bahan omongan (qibah) atau melakukan ‘dosa-dosa‘ lain – seperti tak sadar menikmati rejeki haram.
Tapi, terkadang perbuatan baik yang sudah dilakukan, tidak kemudian berbanding lurus dengan respon positif. Bahkan, kerapkali sebaliknya, terutama dari orang-orang yang lebih paham agama. Cenderung membela terhadap seseorang meski telah berbuat keliru.
Padahal, seharusnya orang-orang yang paham agama, lebih berani. Terutama dengan mengingatkan yang telah melakukan kekeliruan, apalagi menjadi bahan ‘qibah‘ di lingkungan. Faktor kemunafikan atau lemahnya iman, justru dapat mendegradasikan kapasitasnya sebagai orang yang lebih paham agama.
Sementara itu jika dihadapkan pada fakta sebaliknya, mungkin ada permakluman. Karena jauh atau tak mau belajar soal agama. Sampai kemudian memunculkan sikap ‘hasad‘ alias cenderung menampilkan rasa tak suka (pembenci-red).
Sebagai penutup bahwa bentuk justifikasi terhadap seseorang dengan kategori yang dibahas diawal-awal, juga kurang pas. Kenapa? Percuma juga diingatkan, jika terhadap jatidiri seseorang tak pernah mau belajar dalam soal kehidupan sosial, apalagi keagamaan.
Bisa dibayangkan jika saja pernah merasakan perbuatan baik dari seseorang, lantas diri kita nyaris tak bisa mengingatnya. Atau, boleh jadi karena sulitnya mengangkat ‘alam bawah sadar’ dari yang pernah dialami sebelumya terkait orang lain.
Tak perlu atau harus membalas budi baik orang! Cukup mengingat saja jasa kebaikan yang pernah kita rasakan. Jika mampu, artinya bisa disimpulkan – seseorang itu masih punya etika sosial maupun adab dalam konteks agama. (***)
(PENULIS : AGUS SANTOSA adalah Pemerhati Masalah Sosial dan kini masih aktif jadi Wartawan Ibukota, tinggal di Bekasi)

