OLEH : AGUS SANTOSA
KALBU merupakan pangkal perasaan bathin atau hati suci yang (murni) perlu dipelihara oleh siapa pun. Apalagi ketika diri kita dihadapkan pada kebutuhan tentang pentingnya hidup beragama. Juga termasuk dalam ranah kehidupan sosial kemasyarakatan.
Jangankan terhadap saudara sendiri. Karena, sejatinya (dalam pandangan Islam), setiap makhluk yang bernama manusia adalah bersaudara. Begitu pun terhadap orang lain, karena takdirullah (Allah SWT) kemudian harus saling kenal atau hidup bertetangga.
Oleh karenanya, menjaga tali silaturahmi itu melebihi apa yang kita punya. Baik itu terkait harta, kedudukan, jabatan maupun segala yang melekat dalam diri kita. Tak serta merta, jika memiliki semua yang di atas, lantas menjadi sombong.
Ada fakta yang bisa dikentarai dari kehidupan seseorang yang merasa lebih dulu tinggal di satu lingkungan, tapi tanpa sadar hanya merasa dirinyalah yang menguasai. Padahal, apa bentuk kontribusinya terhadap lingkungan, misalnya.
Jangankan sampai mau tergerak untuk menolong orang lain, bertegur sapa saja sebagai kewajiban sebagai makhluk sosial, jauh panggang dari api. Boleh jadi, jatiditi seseorang yang masuk dalam kategori tersebut, karena memang jauh atau sama sekali tak mau belajar tentang agama.
Sebab, jika saja orang yang bersangkutan minimal mau belajar tentang agama, tak seegois tersebut. Bahkan, mengingat kebaikan orang lain saja, tak mampu. Bagaimana dirinya bisa atau mau berbuat baik kepada orang lain?
Faktor pendidikan formal dan juga turunan dari keluarga (orangtua), meski dapat dominan membentuk kepribadian seseorang, jika dikemudian hari mau belajar soal agama – setidaknya lama – kelamaan bakal larut menjadi pribadi yang dapat bersandar pada etika dan adab yang bagus dan dimilikinya.
Tak salah jika menyebut seseorang yang dominan memiliki karakter pembenci, juga merupakan sikap bodoh. Dasarnya, apa? Yakni ketika seseorang itu masih dijauhkan dari keinginan untuk belajar soal agama.
Ada 4 golongan dalam kehidupan atau jatidiri yang melekat dari seorang Muslim. Bahkan ini bisa jadi patokan diri kita dalam konteks hubungan dengan Allah SWT maupun sesama (manusia) di lingkungan kita tinggal.
Pertama : Seseorang yang mendapatkan akheratnya bagus, tapi dunianya buruk. Tentu kondisi ini masih tetap disyukuri. Bisa rajin atau istiqomah beribadah, tapi kehidupan dunianya masih jauh dari mapan (miskin – misalnya).
Kedua : Seseorang yang juga memiliki akheratnya bagus, namun duniawinya juga bagus. Tentu ini menjadi harapan bagi siapa pun. Dikenal tekun ibadah, juga karenanya kekayaannya (harta) – bisa terus bersedekah atau berbuat kebaikan pada orang lain.
Ketiga : Seseorang yang akheratnya buruk, tapi duniawinya bagus. Masih meninggalkan ibadah-ibadah fardu dan sunah. Sedangkan dalam kehidupan dunianya berlimpah harta (kekayaan). Cuma duniawi yang kemudian diharapkan bisa dihargai oleh semua orang.
Keempat : Seseorang yang sudah akheratnya buruk, namun diperburuk pula duniawinya. Sudah jauh dari agama atau ibadah wajib dan sunah yang diperintahkan/diajarkan agama, namun kehidupannya masih saja miskin.
Oleh karenanya, memulailah dengan pribadi (jatidiri) yang pintar bersilaturahmi. Pergunakan kemampuan dalam soal agama maupun ilmu sosial. Sebab, melakukan ibadah kebaikan tersebut, jika diri kita berani mengingatkan orang lain – sesama Muslim. Tentu agar tak larut dalam kesalahan yang selalu diulang-ulang.
Tidak lantas menimbulkan sikap pada diri kita jadi pembenci. Sebab, melihat diri orang lain memiliki pribadi sombong, serakah, merasa serba hebat – tapi orientasinya ternyata dibalik itu hanya ingin mencari keuntungan pribadi (uang) – apa salah jika kita tak perlu takut untuk mengingatkan? (***)
(PENULIS : AGUS SANTOSA adalah Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan dan Agama. Masih aktif sebagai Wartawan Ibukota, kini tinggal di Bekasi)

