Digitalisasi Adalah Infrastruktur: Komitmen CIMB Niaga Bukan Sekadar Inovasi, Tapi Keniscayaan

Sumber Foto: Ist

DENPASAR (POSBERITAKOTA) – Digitalisasi bukan lagi sekadar tren, ia telah menjadi infrastruktur utama dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam laporan e-Conomy SEA 2023 yang dirilis Google dan Temasek, Indonesia memimpin pertumbuhan ekonomi digital Asia Tenggara dengan total nilai transaksi mencapai 82 miliar dolar AS. Namun, pertanyaan pentingnya bukan hanya soal angka, melainkan: siapa yang mendapat akses terhadap pertumbuhan ini, dan siapa yang tertinggal?

Di tengah transisi menuju masyarakat tanpa uang tunai, perbankan digital menjadi tulang punggung ekonomi harian. Namun transformasi ini bukan tanpa tantangan. Ketimpangan digital (digital divide) masih nyata: lebih dari 50 juta warga Indonesia belum memiliki rekening bank, dan sekitar 30 persen pengguna internet tidak merasa nyaman melakukan transaksi daring, menurut survei LIPI 2022.

Inilah titik di mana digitalisasi tidak bisa dilihat hanya dari sisi teknologi, tapi juga dari sisi keadilan. Inklusi keuangan yakni akses terhadap layanan keuangan yang aman, terjangkau, dan dapat diandalkan, adalah isu publik yang seharusnya melibatkan pemerintah, swasta, dan masyarakat secara setara.

Di sinilah peran lembaga perbankan seperti CIMB Niaga menjadi relevan. Dalam usianya yang ke-70, bank ini tidak hanya berfokus pada inovasi produk, tetapi juga memperluas jangkauan layanan digital melalui strategi “Mobile First, Human Always.” Aplikasi OCTO Mobile dan layanan Digital Lounge hanya sebagian dari upaya mereka dalam merespons kebutuhan masyarakat urban maupun semi-urban.

Namun, keberhasilan perbankan digital bukan hanya soal UX yang mulus atau promo cashback. Keberhasilan sesungguhnya terletak pada kemampuannya menghilangkan hambatan akses: dari literasi keuangan hingga ketersediaan jaringan internet yang stabil di luar kota besar.

Kita juga tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan demografis: 60 persen pengguna mobile banking adalah generasi milenial dan Gen Z. Sementara itu, kelompok usia di atas 50 tahun masih bergantung pada layanan konvensional. Maka, digitalisasi tanpa pendekatan inklusif hanya akan memperlebar jurang.

Alih-alih mengejar laju inovasi semata, perbankan nasional seharusnya menempatkan manusia sebagai pusat dari transformasi digital. Bukan hanya menjadi pengguna, tapi juga penerima manfaat yang adil.

70 tahun perjalanan CIMB Niaga mencerminkan satu hal penting: bahwa kepercayaan dibangun bukan hanya melalui kecanggihan teknologi, tetapi juga melalui empati dalam merancang masa depan ekonomi. Dan dalam ekonomi digital yang sedang tumbuh ini, empati mungkin adalah teknologi paling revolusioner yang kita butuhkan.© RED/RS

Related posts

Gubernur Bali Wayan Koster Sebut Pariwisata Bali Sumbang 55% Devisa Nasional di 2025

Ke Seluruh Indonesia, ‘Bonte Cari Pahala Sabang-Merauke’ Siap Hadirkan Pelatihan Kesehatan Tradisional Gratis

Resmi Berakhir ‘Sebar Qurban 2026’, Amanah Pequrban Menjangkau 204.184 Penerima Hak Program