JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Pihak eksektuif dan legislatif diminta untuk segera turun tangan. Pasalnya, Lembaga Pemantau Penyimpangan Aparatur Daerah (LP2AD) menemukan banyak kejanggalan dan gatot (gagal total) saat proses ujicoba RDF Plant Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara (Jakut).
Sedangkan temuan kejanggalan itu sendiri antara lain terkait comisioning RDF Plant Rorotan dalam proses ujicoba, dimana saat ini dengan menggunakan bahan baku yang diambil dari TPS3R TPST Bantargebang Bekasi, Jawa Barat.
Kritik di atas disampaikan oleh Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Penyimpangan Aparatur Daerah (LP2AD), Victor Irianto Napitupulu melalui keterangan tertulis yang diterima POSBERITAKOTA di Jakarta, Jumat (8/8/2025) malam.
Ditegaskan Victor lebih lanjut bahwa di dalam proses ujicoba ditemukan produksi bahan baku disuplay dari TPS3R di Daerah Khusus Jakarta (DKJ) hanya sanggup 2 ton/ hari x 11 TPS3R. Sedangkan untuk target comisioning RDF Rorotan butuh 50 ton/ hari, akibatnya mereka ambil bahan baku dari TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat lebih kurang 28 ton/ hari terhitung tanggal 31 Juli 2025.
Kondisi tersebut, menurut Victor, menandakan bahwa Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo yang disapa akrab Mas Pram – tidak mampu merealisasikan bahan baku 50 ton/ hari akibat kurang cerdasnya kinerja anak buahnya yakni Kepala Dinas (Kadis) Lingkungan Hidup (LH), Asep Kuswanto.
“Jadi, sanga jelasnya bahwa ini adalah proyek kebodohan yang harus dibayar mahal oleh Pemprov DKI, terutama pada saat ujicoba RDF Plant Rorotan, Cilincing, Jakut. Saya menilainya gatot alias gagal total,” beber Victor, lagi.
Sementara yang paling tidak masuk akal, sambung Victor pengemudi compactor harus mencuci armadanya terlebih dahulu. Baru setelah itu angkut bahan baku RDF Rorotan. Lantas, mereka tidak mendapatkan tambah BBM. Kemudian, mereka juga harus foto setelah memuat material landfill mining.
“Nah, pertanyaan saya sekarang, sampah dibuang ke Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. Lalu, dibawa kembali ke RDF Plant Rorotan. Bolak-balik kayak setrikaan dengan menghambur-hamburkan anggaran bahan bakar kendaraan,” ungkapnya, panjang lebar.
Masih menurut Victor, hal itu artinya konsep kerja program RDF Plant Rorotan Kadis LH DKI Jakarta yang dipimpin Asep Kuswanto, justru bagaikan kertas kusam.
“Karena itulah, saya minta baik pihak Eksekutif maupun Legislatif, segera melakukan upaya evaluasi. Mulai dari konsep awal, realisasi pekerjaan pihak ke III dan tata kelola bahan baku yang dibutuhkan RDF Plant Rorotan, supaya kedepannya hal ini tidak terjadi kembali. Pemprov malah beli konsep pengurangan sampah dari hilir tanpa judul jadi, ya tambah runyam dan ribetlah,” kata Victor, menambahkan.
Sedangkan secara terpisah, Kadis LH DKI Jakarta Asep Kuswanto saat mencoba dikonfirmasi hal tersebut melalui handphone genggamnya, tapi yang bersangkutan tidak dapat dihubungi alias tulalit.
Sementara dari informasi dan sumber yang dihimpun melalui pesan singkat WhatsApp (WA) yang beredar, jajaran Dinas LH DKI mengerahkan Kasatpel – Kasatpel untuk menerjunkan mulai dari pengemudi, mobil compactor dan lain-lain.
Mohon untuk tiap Satpel kirim 4 Unit Compactor. Sedang besok hari jumat, 31 Juli 2025 dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Setelah compactor sedang buang di Bantargebang agar menuju RDF Bantargebang untuk angkut matrial sampah lanfill menuju RDF Rorotan.
2. Untuk compactor sedang yang akan angkut mantrial lanfill dari Bantargebang ke Rorotan, maka dapat mengajukan prioritas.
3. Sebelum angkut matrial lanfil mohon untuk menuju car wash dahulu untuk dibersihkan.
4. Untuk compactor sedang mohon bisa standby di RDF Bantargebang pukul 08.00 WIB pagi. © RED/AGUS SANTOSA