BEKASI (POSBERITAKOTA) – Pada saat ini tepatnya di hari Jum’at, kita telah memasuki tanggal 15 Agustus 2025 atau bertepatan dengan 21 Shafar 1447 H dalam Kalender Hijriah. Dan, lusanya atau dua hari kedepan, begitu memasuki tanggal 17 Agustus nanti, kita bakal secara bersama-sama memperingati hari istimewa, yakni HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Hal tersebut di atas disampaikan Drs KH Muhammad Makhtum selaku khotib saat mengawali khutbah Jum’at-nya, bertempat di Masjid At-taubah Villa Mas Baru, Babelan, Kabupaten Bekasi, Jum’at 15 Agustus 2025 Masehi (21 Shafar 1447 Hijriyah).
Karena itu pula, Kyai Makhtum selain ingin mengajak kepada diri dan seluruh jama’ah, hendaknya kita senantiasa berusaha untuk terus memupuk rasa syukur kita dan menguatkan keimanan ketaqwaan kita kepada Alloh Ta’ala. Dimana yang telah memberikan berjuta-juta nikmat dan menganugerahkan negeri yang indah serta terbebas dari cengkeraman penjajah.
Selain sebagai sebuah negeri yang subur dan kaya raya dengan sumber daya alam yang berlimpah. Juga satu negeri yang sudah merdeka begitu lama, tentunya akan sangat mempengaruhi kualitas penduduknya di dalam menjalankan segala perintah yang ada dalam agama dalam cakupan yang amat luas hingga permasalahan yang berkaitan dengan sebuah negara.
“Kenapa demikian? Sebab, hubungan agama dan negara, begitu sangat erat dan tidak akan dapat dipisahkan. Apalagi, karena keduanya berperan penting dalam menumbuhkan nasionalisme ditengah masyarakat guna pemenuhan hak dan kewajiban mereka,” urainya, melanjutkan khutbahnya.
Selanjutnya, Kyai Makhtum pun menggambarkan bahwa ‘agama‘ dan ‘negara‘ menuntut seluruh elemen masyarakat untuk hidup dalam kebaikan. Tentu saja dengan memelihara persatuan, kesatuan, perdamaian dan juga perlindungan.
“Seperti diketahui bahwa nasionalisme bukanlah sekadar istilah yang hanya diucapkan berkali-kali dalam momentum Hari Raya Kemerdekaan RI. Namun, nasionalisme bisa juga dimaknai dengan berbagai sudut pandang,” sebutnya.
Dari berbagai sudut pandang soal nasionalisme, diuraikan Kyai Makhtum lebih lanjut.
“Pertama, nasionalisme yang sejati adalah sikap untuk memperjuangkan Tanah Air dengan segala kemampuan yang dimiliki. Lalu, nasionalisme akan menggugah semangat perjuangan dan melahirkan pengorbanan untuk gigih mempertahankan Tanah Air, yaitu dari segala macam ancaman baik internal maupun eksternal. Hal itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh para Pahlawan Pejuang Kemerdekaan. Mereka rela untuk mengorbankan jiwa, raga dan harta demi Kemerdekaan Indonesia,” paparnya.
Namun disebutkan Kyai Makhtum bahwa berkaitan dengan hal tersebut di atas, Nabi Muhammad SAW صلى الله عليه وسلم bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam al-Tirmidzi :
مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ
Artinya: “Barang siapa yang mati mempertahankan hartanya, maka ia tercatat mati syahid. Barang siapa yang mati membela agamanya, maka ia pun terbilang mati syahid. Barang siapa yang mati melindungi darahnya, maka ia syahid. Dan barang siapa yang mati melindungi keluarganya, maka iapun syahid.”
Sedangkan yang kedua, disebutkan Kyai Makhtum, nasionalisme yang sejati adalah satu sikap positif untuk memegang teguh janji setia terhadap bangsa dan negara. Dari situ sehingga tidak akan mengkhianati negaranya untuk mengeruk keuntungan sebesar – besarnya demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Karena sikap nasionalisme akan melahirkan keteguhan di dalam hati seseorang untuk mempertahankan rasa cinta terhadap Tanah Air dan Bangsanya.
Oleh karenanya, lanjut khutbah Kyai Makhtum, ia sendiri juga akan melakukan segala upaya untuk membangun, memajukan dan mensejahterakan bangsa dengan segenap kemampuannya. Bahkan dengan segenap kemampuannya itu, dirinya juga akan menghindari segala perbuatan yang dapat merugikan dan menghancurkan bangsa dan negaranya.
“Kenapa? Karena, dirinya juga menyadari pada hakikatnya Alloh Ta’ala telah menitipkan negara ini kepada seluruh rakyat Indonesia untuk dirawat, dilestarikan serta dimakmurkan. Jadi, bukan semata untuk dikeruk dan dieksploitasi belaka untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya,” tambahnya.
Kyai Makhtum juga menguraikan bahwa hal ini semua sejalan dengan firman Alloh dalam Surat Hud, ayat 61 sebagai berikut :
هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا
Artinya: “Dialah Alloh yang telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian untuk memakmurkan bumi tersebut”.
معاشر المسلمين وزمرة المؤمنين رحمكم الله
Untuk yang ketiga, menurut Kyai Makhtum, nasionalisme yang sejati adalah satu sikap positif untuk menjunjung tinggi nilai bangsa dan norma negara. Seperti halnya diri kita menghormati bendera negara, simbol negara, lagu kebangsaan dan segala hal yang tidak bisa dilepaskan dari negara.
“Oleh karenanya dengan adanya perbedaan suku, RAS, bahasa, budaya dan agama dari berbagai daerah yang tersebar di seluruh Indonesia, tidak boleh memisahkan persatuan dan kesatuan bangsa karena bangsa Indonesia telah terikat dengan nilai-nilai luhur sejak dulu kala yang tercantum dalam Bhineka Tunggal Ika,” lanjut khutbahnya.
Begitu pun, tambah Kyai Makhtum bahwa seluruh rakyat Indonesia berdiri di atas tanah yang sama, Tanah Air Indonesia. Oleh karenanya, cinta terhadap Tanah Air harus lebih dikedepankan dari pada sekedar menonjolkan cinta terhadap kelompok maupu golongannya.
Bahkan, Nabi Muhammad SAW صلى الله عليه وسلم saat meninggalkan Kota Makkah, beliau mengajarkan kepada kita tentang pentingnya untuk cinta kepada Tanah Air.
Hal tersebut sebagaimana yang disabdakannya:
مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وَأَحَبَّكِ إِلَىَّ وَلَوْلاَ أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَك
Artinya : “Engkau (Mekkah) adalah negeri Alloh yang paling baik dan paling aku cintai, dan kalaulah penduduknya tidak mengusirku, tentu aku tidak akan meninggalkan engkau.”Begitu pula ketika Nabi Muhammad SAW صلى الله عليه وسلم memasuki Kota Madinah, beliau juga bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih keduanya sebagai berikut :
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ، كَمَا حَبَّبْتَ إِلَيْنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَ
Artinya: “Ya Alloh, jadikanlah Madinah sebagai kota yang kami cintai sebagaimana kami mencintai kota Makkah atau bahkan lebih dahsyat dari itu.”
معاشر المسلمين وزمرة المؤمنين رحمكم الله
Sebagai penutup Kyai Makhtum memaparkan bahwa satu hal yang harus kita ingat bahwa tanpa Indonesia, mungkin kita hanya seperti ikan yang hidup tanpa lautan dan atau mungkin kita hanya akan seperti burung yang hidup namun tidak memiliki udara.
“Dan, ingatlah wahai saudaraku semua, apapun yang kita nikmati dan rasakan saat ini adalah merupakan rahmat dan anugerah dari Alloh Ta’ala. Juga berkat buah perjuangan dan pengorbanan para Pahlawan pendahulu kita. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah mempertahankan kemerdekaan, mensyukuri nikmat kemerdekaan, menolak segala bentuk kekejaman dan penindasan serta mengutamakan sikap nasionalisme di dalam diri kita dan generasi selanjutnya,” tuturnya.
Kemudian lagi, kita jangan pernah melupakan jasa para Pahlawan kita. Juga orangtua kita dan juga para ulama serta guru-guru kita. Tentu dengan terus memuliakan dan mendo’akan mereka serta mengisi kemerdekaan dengan berbagai macam kegiatan positif, edukatif dan konstruktif.
“Jadi, bukan kegiatan yang isinya sekedar berhura-hura dan berpesta pora tanpa makna, sehingga justru akan menciderai kemuliaan perjuangan dan pengorbanan para Pahlawan Kemerdekaan Indonesia,” tutup Kyai Makhtum dalam khutbah panjang lebarnya. © RED/AGUS SANTOSA

