PosBeritaKota.com
Hukum Opini

Noel, OTT KPK & Mafia Industri yang Gemar Minum Keringat Buruh

OLEH : BENZ JONO HARTONO

ADA pemandangan klasik di negeri ini, satu orang ditangkap OTT KPK, televisi gegap gempita, media sosial penuh debat, sementara para buruh tetap harus kerja 12 jam sehari, dengan upah yang bahkan tidak cukup, untuk bayar kos dan makan tempe. Inilah Indonesia, ‘sirkus elit’ di panggung depan, dan penderitaan rakyat di belakang layar.

NOEL, BENAR ATAU SALAH?

NoeL ditangkap OTT KPK. Benar atau salah? Ah, itu urusan hukum. Toh di negeri ini, kebenaran seringkali tergantung siapa yang pegang palu sidang dan siapa yang punya dompet tebal.

Seringkali vonis bukan ditentukan pasal, tapi seberapa kuat genggaman di lingkaran kekuasaan. Jadi, soal NoeL, publik hanya bisa menonton sambil ngemil popcorn basi.

MAFIA INDUSTRI RAJA TANPA MAHKOTA

Yang lebih menyedihkan, para mafia industri yang menindas buruh justru aman-aman saja. Mereka tak pernah kena OTT. Padahal merekalah raja tanpa mahkota, minum keringat buruh, makan daging dari peraturan yang mereka beli.

BURUH DIGAJI MURAH DEMI DAYA SAING

Outsourcing dipuja-puja, katanya demi ‘efisiensi’. Serikat buruh ditekan, katanya demi ‘stabilitas investasi. Lucunya, para pejabat berfoto dengan investor sambil tersenyum, sementara buruh, jadi kuli abadi tanpa kepastian.

OTT JADI PANGGUNG, BUKAN PERANG

OTT yang digembar-gemborkan itu seperti konser tunggal, sorot lampu diarahkan pada orang tersangka, sementara ratusan pemain band mafia industri, bebas main musik di belakang panggung.

Satu orang diborgol, ratusan lainnya tepuk tangan lega. Publik pun merasa ‘ada keadilan’, padahal yang terjadi hanya pergantian wayang dalam kotak yang sama.

SAATNYA MENGHENTIKAN SIRKUS

Korupsi dan penindasan buruh adalah dua sisi koin yang sama. Selama mafia industri dilindungi oleh pasal pesanan dan pejabat pesanan, buruh akan terus menjadi sapi perah. OTT hanya akan jadi tontonan, bukan revolusi.

Jadi, kalau benar negeri ini mau bersih, hentikan sirkus. Bongkar mafia industri. Jangan cuma nangkap ikan kecil yang tercebur jaring, tapi biarkan paus rakus tetap berenang di lautan uang. (***/goes)

(PENULIS : BENZ JONO HARTONO adalah Praktisi Media Massa, tinggal di Jakarta)

Related posts

Simpan Shabu, OKNUM PNS Kabupaten Sukabumi Terancam Dipecat

Redaksi Posberitakota

ESTETIKA SINISME di Layar Teve

Redaksi Posberitakota

Ahli Waris Gunawan Lakukan Pendekatan ke Pihak Gereja untuk Minta Ganti Rugi

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang