Perkembangan teknologi mengubah cara masyarakat Indonesia bertransaksi. Jika dulu orang lebih nyaman membawa dompet tebal berisi uang tunai, kini ponsel pintar sudah cukup untuk menggantikan segalanya. Fenomena ini semakin terlihat setelah pandemi, ketika interaksi langsung dibatasi dan kebutuhan akan layanan digital meningkat tajam.
Bank Indonesia mencatat, pada 2024 nilai transaksi digital banking mencapai lebih dari Rp67.800 triliun, tumbuh 25% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini mencerminkan perubahan perilaku masyarakat yang kini lebih mengandalkan platform digital untuk kebutuhan finansial sehari-hari.
CIMB Niaga, yang tahun ini merayakan 70 tahun perjalanannya, menjadi salah satu bank yang terdepan dalam transformasi digital tersebut.
OCTO Mobile, Bank dalam Genggaman
Sejak diluncurkan, aplikasi OCTO Mobile menjadi ujung tombak digitalisasi CIMB Niaga. Fitur yang ditawarkan tidak hanya sebatas transfer dan cek saldo, melainkan mencakup pembayaran tagihan, pembelian pulsa, top-up e-wallet, pembukaan deposito, hingga investasi reksa dana.
“Tujuan kami adalah menghadirkan layanan perbankan yang lengkap, mudah, dan bisa diakses kapan saja. Semua kebutuhan finansial cukup dari satu aplikasi,” ujar Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga.
Dengan lebih dari 10 juta pengguna aktif, OCTO Mobile kini berkembang menjadi semacam super-app finansial. Dari membayar kopi di kafe, membeli tiket konser, sampai menyiapkan tabungan pendidikan, semua bisa dilakukan lewat satu genggaman.
Perubahan Gaya Hidup Nasabah
Generasi muda menjadi kelompok yang paling banyak memanfaatkan layanan digital ini. Milenial dan Gen Z tumbuh di era serba instan, sehingga kecepatan dan kemudahan adalah prioritas.
“Kalau dulu saya harus antri di ATM atau cabang, sekarang semua bisa dilakukan sambil menunggu ojek online,” kata Rizky, seorang karyawan start-up di Jakarta.
Cerita seperti Rizky menggambarkan perubahan besar: perbankan kini tidak lagi hadir sebagai gedung megah di pusat kota, melainkan aplikasi yang mengikuti ritme keseharian masyarakat.
Inklusi Keuangan Melalui Digitalisasi
Transformasi digital tidak hanya menyasar masyarakat perkotaan. Melalui teknologi, bank juga bisa menjangkau masyarakat yang sebelumnya sulit mendapat akses perbankan.
Seorang pedagang kain di Yogyakarta, misalnya, mengaku terbantu dengan fitur QRIS di OCTO Mobile. “Sekarang pembeli bisa langsung bayar pakai scan. Uangnya masuk real-time, saya tidak perlu lagi menunggu transfer manual,” ujarnya.
CIMB Niaga menilai inklusi keuangan menjadi aspek penting dalam perjalanan 70 tahun mereka. Digital banking dianggap sebagai cara untuk menjangkau lebih banyak orang, terutama pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.
Investasi pada Keamanan
Meski digitalisasi menawarkan kemudahan, isu keamanan tetap menjadi perhatian utama. CIMB Niaga berinvestasi besar dalam sistem biometric authentication, enkripsi end-to-end, serta pemantauan transaksi berbasis AI untuk mendeteksi potensi penipuan.
“Kami menerapkan prinsip safety by design. Setiap inovasi digital harus aman sejak tahap awal,” jelas Budi Nugroho, Chief Information Security Officer CIMB Niaga.
Bank juga aktif mengedukasi nasabah tentang pentingnya menjaga data pribadi dan menghindari modus penipuan online.
Dari ATM ke Super-App
Jika menengok ke belakang, CIMB Niaga selalu identik dengan inovasi. Pada 1987, bank ini memperkenalkan ATM pertama di Indonesia, yang kala itu dianggap revolusioner. Tiga dekade kemudian, inovasi itu bergeser ke ranah digital dengan hadirnya OCTO Mobile.
“Inovasi adalah DNA kami. Apa yang dulu dilakukan lewat mesin, kini bisa dilakukan lewat aplikasi,” ujar Lani.
Penutup: Masa Depan Digital Banking
Perubahan perilaku masyarakat menunjukkan satu hal: masa depan perbankan ada di digital. Namun, digitalisasi bukan hanya soal aplikasi, melainkan juga soal bagaimana layanan itu relevan, aman, dan inklusif.
Di usia 70 tahun, CIMB Niaga menegaskan bahwa kontribusi sejati mereka bukan sekadar menyediakan layanan finansial, melainkan mendampingi masyarakat dalam setiap perubahan zaman. Dari ATM hingga super-app, dari kartu plastik hingga QR code, semua bergerak menuju arah yang sama: perbankan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

