Tahun 1987, sebuah mesin di sudut cabang Bank Niaga mengejutkan banyak orang. Kotak besi itu mengeluarkan uang tanpa bantuan teller. Masyarakat menatap heran: apakah aman? apakah benar-benar uang asli? Itulah ATM pertama di Indonesia, yang menandai era baru layanan perbankan.
Hari ini, tiga dekade lebih berlalu, keajaiban serupa terjadi lagi. Bedanya, bukan mesin di pojok cabang, melainkan aplikasi di ponsel. Melalui OCTO Mobile, CIMB Niaga mengklaim hampir semua layanan bank bisa dilakukan tanpa keluar rumah.
OCTO Mobile sebagai Super-App
Dengan lebih dari 10 juta pengguna aktif, OCTO Mobile tumbuh menjadi salah satu aplikasi finansial terbesar di Indonesia. Volume transaksi digital pada 2024 mencapai Rp4.800 triliun, melampaui transaksi tatap muka di cabang.
“Target kami sederhana: semua layanan perbankan harus bisa ada di genggaman,” kata Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga.
Tetapi di balik kemudahan itu, ada realitas lain: tidak semua orang terbiasa dengan transaksi digital. Seorang sopir angkot di Bandung mengaku bingung menggunakan aplikasi. “Kalau salah klik, uang bisa hilang. Jadi saya tetap ke ATM saja,” ujarnya.
Transformasi dan Kesenjangan
Inilah wajah digital banking hari ini: canggih bagi sebagian orang, rumit bagi sebagian lainnya. Survei Bank Indonesia menyebutkan, 30% masyarakat Indonesia masih belum terbiasa menggunakan layanan digital.
CIMB Niaga mencoba menjawab dengan edukasi literasi keuangan, termasuk pelatihan untuk UMKM dan komunitas desa. Namun pertanyaannya, apakah transformasi digital terlalu cepat berlari dibandingkan kesiapan masyarakat?
Penutup
Sejarah ATM mengajarkan satu hal: teknologi yang awalnya ditolak, lama-lama diterima. Barangkali hal sama akan terjadi pada digital banking. Yang penting, bank tidak hanya meluncurkan aplikasi, tetapi juga mendampingi masyarakat agar tidak tertinggal.
Bagi CIMB Niaga, 70 tahun bukan sekadar perjalanan waktu, tetapi bukti bahwa inovasi harus berjalan seiring dengan inklusi. © RED/SUPRAPTO

