Krisis iklim bukan lagi isu jauh. Banjir yang makin sering, suhu panas ekstrem, hingga laut penuh sampah plastik adalah realitas sehari-hari. Di tengah situasi ini, perbankan punya peran penting: menentukan ke mana arus uang mengalir.
CIMB Niaga, yang merayakan 70 tahun berdiri pada 2025, memilih jalur hijau. Bank ini menyalurkan lebih dari Rp10 triliun pembiayaan hijau pada 2024, untuk proyek energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, hingga UMKM berorientasi lingkungan.
Dari Energi ke UMKM
Contoh nyata ada di proyek pembangkit listrik tenaga surya di Jawa Tengah dan program bus listrik di Jakarta. Selain itu, ada juga pelaku UMKM di Bandung yang membuat produk daur ulang plastik, bisa memperluas usahanya berkat kredit dari CIMB Niaga.
“Kami percaya, keberlanjutan bukan pilihan, melainkan kewajiban,” ujar Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga.
Sustainability Beyond CSR
Banyak bank menganggap keberlanjutan sebatas CSR. CIMB Niaga mencoba lebih jauh: menjadikannya strategi inti bisnis. Gedung kantor mulai beralih ke energi terbarukan, penggunaan kertas di cabang berkurang 40% berkat digitalisasi, dan program Kejar Mimpi mengedukasi generasi muda tentang literasi keuangan hijau.
Catatan Kritis
Namun, jalan ini tidak tanpa tantangan. Investasi hijau biasanya butuh waktu lebih lama untuk balik modal. Di sisi lain, gaya hidup masyarakat masih kontradiktif: bicara sustainability sambil menambah jumlah mobil pribadi, atau menuntut bank hijau sementara konsumsi listrik tetap boros.
Di sinilah letak peran bank: tidak bisa mengubah gaya hidup langsung, tetapi bisa mengarahkan arus dana ke arah yang lebih sehat.
Penutup
Usia 70 tahun adalah waktu untuk berkaca. CIMB Niaga menegaskan bahwa kontribusi mereka bukan hanya keuntungan finansial, tetapi juga warisan hijau bagi generasi mendatang.
Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya neraca keuangan, melainkan masa depan bumi itu sendiri. © RED/SUPRAPTO

