BEKASI (POSBERITAKOTA) – Dalam khutbah Jum’atnya di Masjid As-Syifa Taman Kebalen Indah, Babelan, Bekasi – Drs KH Muhammad Makhtum menekankan pentingnya dan sekaligus menjadikan momentum Maulid Nabi untuk menjaga akhlak generasi muda.
“Seyogyanya pada bulan Maulid ini kita jadikan sebagai sarana silaturahmi dan juga kita jadikan kesempatan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW,” ucap Kyai Makhtum dihadapan para jamaah yang hadir, Jumat (29/5/2025) Hijriyah.
Melanjutkan khutbahnya, Kyai Makhtum menyebutkan bahwa sekarang ini kita berada atau memasuki bulan Rabiul Awwal, tepatnya tanggal 5 dalam kalender Hijriah. Dimana lebih sering kita sebut dengan bulan Maulid atau Maulud.
Kanapa disebut demikian, lanjutnya karena memang dalam bulan ini telah terjadi satu peristiwa agung, yakni kelahiran Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Sebagai sosok manusia dan makhluk paling mulia di alam raya, sosok uswah atau teladan serta panutan yang sempurna.
“Yang mana kita diperintahkan untuk senantiasa mengikuti ajaran dan Sunnah-sunnahnya, memperbanyak shalawat kepadanya agar mendapatkan syafaatnya. Bahkan yang bershalawat bukan hanya kita yang menjadi umatnya, namun juga para malaikat dan Alloh Taa’la pun bershalawat kepadanya,” urai Kyai Makhtum.
Selanjutnya, disebutkan bahwa hal itu sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 56 :
*اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا*
Artinya : “Sesungguhnya Alloh Ta’ala dan para malaikat-NYA bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
Digambarkan Kyai Makhtum bahwa diutusnya Nabi Muhammad SAW hadir ke dunia ini, yakni tidak lain adalah untuk membawa sebuah misi yang amat mulia. Sebagai Rahmat bagi alam semesta, beliau adalah pendidik dan pengajar utama bagi manusia untuk menyampaikan agama yang lurus. Selain itu, beliau pun diutus untuk memperbaiki akhlak manusia. Juga mengeluarkan mereka dari alam kegelapan menuju cahaya iman dan Islam.
“Dan, di dalam Islam, akhlak mulia atau sering disebut adab menjadi faktor terpenting dalam kehidupan manusia mendampingi ilmu pengetahuan dan yang lainnya. Bersama dengan akhlaq atau adab yang mulia itulah, maka kehidupan antar individu dalam masyarakat akan terjalin. Termasuk dapat tertata dengan baik hingga membawa kepada puncak perdamaian, ketentraman serta keharmonisan.
Rasulullah bersabda:
*إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخَلاقِ( رواه البخاري والبيهقي والحاكم)*
Artinya : “Sungguh aku diutus oleh Alloh Taa’la untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Menurut Kyai Makhtum bahwa dengan demikian akhlak atau adab yang mulia menjadi penentu utama bagi setiap pribadi muslim dalam kehidupannya. Sehingga para ulama pun berkata: “Al-Adab fauqal ilmi’. Bahwa akhlak/adab itu di atas ilmu pengetahuan. Yang artinya hendaknya pendidikan adab yang dapat membentuk karakter kepribadian seseorang, haruslah lebih didahulukan untuk diajarkan dan diterapkan kepada setiap muslim sedari kecil.
“Begitupun di dalam pendidikan formal, para guru juga sudah seharusnya lebih mengedepankan aspek afektif (mengutamakan sikap dan karakter), dibandingkan aspek kognitif (mengutamakan kepintaran otak). Oleh karenanya, fungsi guru dan orangtua yang paling utama adalah mendidik agar generasi muda menjadi lebih baik dan terus lebih baik. Jadi, bukan hanya sekedar mengajar untuk mengejar generasi muda menjadi orang pintar,” urai Kyai Makhtum, panjang lebar.
Melanjutkan khutbahnya, Kyai Makhtum menyebutkan bahwa aaat ini pendidikan akhlak dan karakter generasi muda sudah saatnya untuk menjadi prioritas utama. Hal ini dikarenakan tantangan dan godaan zaman di tengah-tengah perkembangan teknologi yang semakin memprihatinkan.
“Juga banyak serta dapat kita saksikan bersama, akibat perkembangan teknologi dan informasi saat ini. Berapa ancaman terhadap degradasi moral generasi muda sangat mencolok di depan mata. Kita lihat bagaimana saat ini akhlak para pemuda sudah mulai terkontaminasi dengan pergaulan bebas dan juga tereduksi akibat gaya hidup yang serba digital,” ungkapnya.
Kyai Makhtum juga memaparkan bahwa maraknya kenakalan remaja, merajalelanya tindak kejahatan serta meningkatnya angka kriminalitas, mulai dari tindakan pembulian, asusila, sex bebas, pecandu Narkoba, kurangnya kepedulian sosial dan menurunnya rasa sosial – kemanusiaan yang dilakukan dan digandrungi generasi muda.
Bahkan, tambahnya, hal itu paling sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dan saat ini kita rasakan mereka lebih asik dan khusyuk bermain di dunia maya dengan ponsel dan gadget Androidnya, ketimbang bersosialisasi di dunia nyata. Kebiasaan interaksi dan berkomentar di media sosial yang tak melihat dengan siapa mereka berbicara, seakan menjadi guru-guru baru yang mewarnai kehidupan mereka. Sehingga dapat dirasakan, mereka seakan telah kehilangan budaya unggah-ungguh dan tepo seliro
“Akibat mudahnya berkomunikasi, berinteraksi dalam mencari informasi, sedikit demi sedikit membuat generasi muda menggampangkan dan menyepelekan berbagai hal. Sehingga berdampak kepada sikap malas, mudah menyerah dan kurang semangat dalam menghadapi tantangan permasalahan. Kenapa? Karena, mereka sudah terbiasa dengan hasil yang instan dan tanpa mengenal sebuah perjuangan berat yang melelahkan.
Kembali digambarkan Kyai Makhtum bahwa kejadian dan peristiwa seperti di atas, hendaknya menjadi perhatian serius Pemerintah. Selain patut direnungi oleh para orangtua dan guru pada umumnya.
“Oleh karenanya, momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, dapat mendorong semangat untuk kembali memperkuat penjagaan akhlak generasi muda penerus. Dan, sudah menjadi kewajiban bagi para guru dan orangtua, kiranya perlu mengontrol aktivitas mereka. Begitu pun kepedulian terhadap lingkungan sangat diharapkan, guna turut memantau pergaulan mereka. Tentu agar akhlak baik mereka tetap terjaga. Sebab akhlaklah yang menjadi barometer, apakah seseorang dikatakan insan terbaik ataukah tidak,” sebut Kyai Makhtum.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari sahabat Ibnu Umar:
*خَيْرُ النَّاسِ أحْسَنُهُمْ خُلُقًا*
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya.”
Namun, sebut Kyai Makhtum dengan berpijak pada hadits tersebut, kiranya sudah saatnya di bulan Maulid ini kita kembali meneladani akhlak Nabi yang merupakan suri tauladan terbaik sepanjang masa.
Hal ini sebagaimana telah ditegaskan oleh Alloh Ta’ala dalam Al-Qur’an surat Al-ahzab ayat 21 :
*لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ*
Yang artinya : “Sungguh, pada (diri) Rasulullah SAW benar-benar ada suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Alloh Ta’ala dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah SWT.”
Selain menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum untuk menjaga akhlak generasi muda, seyogyanya pula bulan Maulid ini kita jadikan sebagai sarana silaturahmi dan juga kita jadikan kesempatan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Juga dengan meneladani dan mengikutinya serta memperbanyak sholawat kepadanya. Dengan harapan hidup kita makin lebih barokah dengan syafa’at nya sampai hari kiamat.
“Sebab, pada hakikatnya kita semua tidak ada yang mengetahui ibadah mana yang akan diterima oleh Alloh Ta’ala. Barangkali kita beranggapan bahwa kuantitas dan kualitas ibadah yang dilakukan sudah maksimal, namun ternyata hal itu belum tentu bernilai dalam pandangan Alloh Ta’ala . Dengan demikian kita harus senantiasa berdo’a agar memperoleh rahmat-NYA serta senantiasa memperbanyak bershalawat kepada Nabi agar mendapatkan syafaatnya.
Dalam sebuah hadits diceritakan : “Ada seorang sahabat yang mengadu kepada Nabi. Ia merasa tidak rajin dalam menjalankan ibadah namun punya modal kecintaan kepada Alloh Ta’ala dan Rasul-Nya. Maka jawaban Nabi pun sangat menggembirakan, dimana sahabat tersebut akan dikumpulkan bersama Nabi di hari kiamat nanti.
*عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ*
Artinya : “Dari sahabat Anas, sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, kapan hari kiamat terjadi ya Rasul? Nabi bertanya balik, apa yang telah engkau persiapkan? Ia menjawab, aku tidak mempersiapkan untuk hari kiamat dengan memperbanyak shalat, puasa dan sedekah. Akan tetapi aku sangat mencintai Alloh dan Rasul-Nya. Nabi pun berkata, engkau kelak dikumpulkan bersama orang yang engkau cintai.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Menutup khutbah Jum’atnya, Kyai Makhtum berharap semoga bermanfaat untuk kita semuanya. “Mudah-mudahan kita juga bisa meneladani dan mengikuti Nabi serta dapat meneruskan perjuangannya kepada para generasi muda sebagai penerus bangsa. Tentu agar mereka dapat menjadikan akhlak mulia sebagai pilar peradaban kehidupan manusia. © RED/AGUS SANTOSA