Makna Perintah Qurban Sebagai Bagian Dimensi Spiritualitas, Membunuh Sifat Kebinatangan dari Manusia Itu Sendiri

Oleh : Dr Jusuf Blegur

PADAHAL berqurban itu jiwa dan raga sebagai representasi keimanan dan ketaqwaan. Bukan sebaliknya malah terus menghidupkan dan memelihara syahwat duniawi, seiring gagal membunuh sifat kebinatangan dalam dirinya.

Puncak rangkaian ibadah haji telah tiba seiring umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idhul Adha tepat pada tanggal 10 Dzulhijjah 1447 H. Momentum refleksi sarat pembelajaran dan empiris capaian syariat, tarekat, hakikat dan marifat bagi entitas muslim. Lebaran Qurban tak hanya sebatas tradisi kewajiban religi, ia menjadi dimensi spiritualitas yang menjadi kiblat relasi substansi ke-Tuhanan dan kemanusiaan.

‘Unconditional trust’ Nabi Ibrahim alaihis salam kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyembelih Putranya Nabi Ismail alaihis salam telah menjadi kompilasi pikiran, perasaan dan logika yang telah mencapai tingkatan paripurna seorang hamba di hadapan Tuhannya. Nabi Ibrahim AS berhasil memasuki fase transendental atas kekuasan Ilahi pada semesta, manusia dan semua mahkluk hidup yang lemah dan tak berdaya yang melekat sifat salah dan merusak.

Sinyalemen kuat yang visioner dari firman Allah SWT yang tertuang dalam beberapa hikmah Al Quran. Tak ubahnya telah mengantisipasi betapa berbahayanya perilaku yang potensial kental dengan kekafiran, kemusyrikan dan kefasikan manusia pada umumnya dan umat Islam khususnya.

Sebagai makhluk yang mengidap genetik kejahatan tinggi berlumuran dosa. Sebagai manusia yang cenderung berbohong, korup dan sering menganiaya. Bahkan dapat tega membunuh sesamanya. Dalam beberapa kasus, manusia juga sering disebut sebaga komunal yang menjadi puncak predator terhadap alam dan habitat lain yang ada di dalamnya.

Sang Khalik yang Maha Besar, Maha Perkasa, dan Pemilik Kekuasaan Tak Terbatas. Secara struktural dan kultural telah membangun konstruksi nilai-nilai yang menjadi batas-batas pertarungan antara aqidah dan syahwat hewani yang meliputi eksistensi manusia. Allah SWT begitu luas pengetahuan, kasih sayang, dan pengampunannya serta seadil-adilnya menilai kehidupan manusia di muka bumi. Tak sedikitpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, bagi siapa yang sesat dan berbuat dzolim. Begitupun setiap yang menyebarkan kebaikan dan rasa syukur atas nikmat Allah SWT.

Ritual pengorbanan dan keikhlasan serta rasa syukur sebagai bentuk ketaatan Nabi Ibrahim AS kepada Tuhannya dengan menyembelih putranya Nabi Ibrahim AS yang kemudian diganti dengan hewan ternak. Merupakan sebuah peristiwa monumental sekaligus tonggak sejarah dan cikal bakal kesolehan sosial peradaban manusia. Sebagaimana termaktub dalam Perintah Shalat dan Berkurban dalam QS. Al-Kautsar Ayat 2, Sejarah dan Teladan Nabi (Ibrahim AS) dalam QS. Ash-Shaffat Ayat: 102-103, Syariat dan Hikmah Hewan Kurban dalam Al-Hajj Ayat 34 dan 37.

Ada ibadah vertikal (hablum minallah) sebagai bentuk penyerahan diri manusia dari Nabi Ibrahim AS atas kekuasaan dan otoritas Allah SWT dalam bingkai pengorbanan dan keikhlasan. Ada juga ibadah horisontal berupa solideritas sosial (hablum minannas) yang mewujud rasa peduli dan berbagi pada sesama. Sungguh Islam menjadi agama yang hak yang menyempurnakan perhelatan kehidupan dunia yang begitu sempurna meliputi struktur sosial kemanusiaan dan keimanan pada agama tauhid.

Ada juga yang menarik dan bisa saja menjadi ‘stretching point’ dari risalah teladan pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang historis, filosofis, dan teologis, yakni tentang penghambaan sejati penuh totalitas Nabi Ibrahim AS yang mutlak pada Sang Pencipta Penghidupan dan Kehidupan. Ini menjadi linear dengan perintah Allah SWT seperti tersurat pada, QS. Al-Hajj Ayat 47

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوَٰى مِنْكُمْۗ

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah SWT, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketaqwaanmu.”

Sinyalemen Al Quran sebagaimana diperintahkan Allah SWT, sejatinya juga memberi isyarat agar ibadah manusia itu tidak sekadar melaksanakan syariat, lebih dari itu harus bisa memaknai, menyentuh, dan memanifestasikan makna tarekat, hakikat dan marifat yang tersembunyi. Momentum dalam Idhul Adha tak terbatas ibadah ritual semata, lebih dari itu harusnya bisa menjadi gerakan sosial. Gerak pembebasan rakyat dan umat dari belenggu jahiliyah.

Apa yang menjadi pesan inti dari peristiwa yang menjadi tuntunan religi, acapkali kehilangan esensi dan substansinya. Penyembelihan hewan kurban terbatas hanya pada pembagian daging hewan pada masyarakat yang tak beruntung secara ekonomi dan dianggap kemurangan. Ada pesan sosial di dalamnya, tapi lebih dari itu menuntut komitmen dan konsistensi akidah yang kuat dalam mengabdi dan penyerahan diri pada Allah SWT semata.

Resonansi nilai-nilai pengorbanan Nabi Ibrahim AS kerap terabaikan umat Islam dalam ibadah spiritual dan ritual. Kesadaran transendental yang sarat altruisne dari Nabi Ibrahim AS sebagai wujud ketaatan paripurna hambanya terhadap Tuhannya, terasa gagal menjadi sistem sosial berkeadaban dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Juga dalam setiap pikiran, ucapan dan tindakan keagamaan, oleh umat Islam sekalipun.

Perilaku manusia di dunia pada umumnya dan umat Islam khususnya sering tercerabut dari prinsip-prinsip kemanusiaan dan ke-Tuhanan. Iklim global yang menampilkan panggung sekulerisasi dan liberalisasi semakin menyuburkan konspirasi Islamophobia. Umat Islam sendiri cenderung rapuh tanpa ukhuwah dan persatuan muslim dunia, larut dalam budaya kapitalisme yang membentuk manusia menjadi budak materi. Semua menghamba pada uang. Menjadikan keuangan yang berkuasa.

Lebih miris lagi, sesama muslim terus dirasuki sifat iri, dengki, dan hasad. Kecintaan pada dunia yang membuat mental takut mati, takut kehilangan harta benda dan jabatan. Terlalu mencintai dunia. Membuat sebagian besar umat Islam termarjinalkan dan kehilangan Al Quran sebagai pedoman hidup.

Di Indonesia sendiri, ibadah Idhul Adha bisa dibilang telah lama kehilangan makna dan urgensinya. Sepanjang tahun beribadah haji dan melakukan penyembelihan hewan qurban. Namun seiring itu kerap gagal mewujudkan kesadaran tindakan pengorbanan, keihklasan, dan ketakwaan sebagaimana perintah Tuhan. Sebagian besar umat Islam masih berkubang dalam kebencian dan permusuhan. Pertikaian dan konflik rentan terjadi antar sesama dan pemeluk agama lainnya.

Korupsi, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan dan jabatan serta tindakan kekerasan dan pembunuhan telah menjadi permisif dan seperti menjadi keharusan untuk memenuhi ambisi dan syahwat kekuasaan. Umat Islam cenderung sering terjebak pada simbolisme beragama tapi tak bertuhan.

Terasa begitu menyakitkan, tatkala menyadari sesama umat Islam mulai kehilangan rasa peduli, simpati dan empati. Tak ada lagi persaudaraan muslim yang bisa menjaga dan melindungi umat dari kebodohan, kemiskinan, dan dari penyakit serta kejahatan kemanusiaan, termasuk genosida skala lokal dan internasional. Umat Islam tercerai-berai, mudah difitnah, diintimidasi dan diteror. Terancam pemurthadan dan menjadi orang-orang yang tergolong kafir, musyrik dan fasik meski masih memeluk Islam

Loyalitas dan militansi kepada Tuhan sering kalah dan tergusur oleh kesenangan dan kemewahan hidup yang menggiurkan. Takut pada kekuasaan selain Allah SWT. Pemerintah bagai kumpulan para durjana, Ulama tak lagi berdakwah (mengajak umat pada kebaikan) dan bersifat tabligh (menyeru perintah Tuhan). Sementara umat terus melenceng dari akidahnya.

Pada akhirnya sulit membantah, seiring penyembelihan hewan qurban terus berlangsung. Sifat-sifat hewani yang penuh mudharat pada manusia terus terpelihara dan tumbuh berkembang membentuk mental dan karakter yang ganas.

Alih-alih dengan semangat menginsyafi semangat idul kurban. Umat Islam bukan bukan malah bertambah dan menguatkan keimanannya dengan pengorbanan, keikhlasan, rasa syukur, dan ketakwaannya pada pada Allah SWT. Sepertinya, banyak kalangan Muslim yang justru gagal membunuh sifat ‘Kebinatangan Manusia’ itu sendiri. (***/goes)

(Penulis : Jusuf Blegur adalah peraih gelar doktor dari Universitas Pendidikan Indonesia di tahun 2024, kini tinggal di Bekasi)

Related posts

Kriminologi 500 Tahun Jakarta, Agustus 1945 : Ketika Jakarta Kota Tanpa Tuan (Seri 20)

Di Momen Idhul Adha, Erna Santoso Berbagi Daging Qurban serta Menghibur Anak-anak Nelayan Tanjung Burung Tangerang

Dari Ciganjur Menuju ke Cibubur, Program Jumat Berkah Wartawan Ajak Berbagi BudayantaraTV Digital Network