PosBeritaKota.com
Syiar

Khutbah di Masjid Jami Abubakar As-Shidiq RW 024 VGH Babelan, KYAI MAKHTUM Gambarkan Nabi Muhammad SAW Sebagai Pemimpin Ideal yang Patut Diteladani

BEKASI (POSBERITAKOTA) – Melalui khutbah Jum’atnya (12 September 2025 H) di Masjid Jami Abubakar As-Shidiq RW 024 Perumahan Villa Gading Harapan (VGH) Gerbang Timur, Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi – Drs KH Muhammad Makhtum selaku iman dan khotib menggambarkan Nabi Besar Muhammad SAW sebagai pemimpin ideal yang patut diteladani.

Lebih jauh digambarkan dalam khutbahnya dihadapan ratusan jamaah bahwa seorang pemimpin adalah tokoh sentral yang menjadi panutan dalam kemajuan sebuah bangsa. Oleh karenanya, jikalau pemimpinnya baik, maka bangsanya pun akan baik dan maju serta sejahtera. Begitu pun sebaliknya, apabila pemimpinnya buruk maka bangsanya pun akan dibuatnya menjadi terpuruk.

“Dan, negeri kita tercinta Indonesia adalah sebuah negara besar yang telah mengalami beberapa kepemimpinan sepanjang sejarah. Namun, problem kepemimpinan serta gejolaknya selalu muncul ditengah kehidupan masyarakat Indonesia. Baik itu dari level yang tertinggi hingga level yang terendah,” ucapnya.

Kembali dipaparkan secara detail oleh Kyai Makhtum bahwa untuk mendapatkan gambaran pemimpin yang ideal, maka kita dapat melihat dan meneladani sosok Nabi Muhammad SAW yang telah berhasil menanamkan keadilan dalam pemerintahan dan membawa Madinah menjadi kota yang maju melampaui masanya.

Melanjutkan khutbahnya, Kyai Makhtum menyebutkan bahwa hal itu terjadi berkat ketegasan sikap Nabi Muhammad SAW di dalam mengambil setiap kebijakan yang berkeadilan pada tiap tindakan. Nabi Muhammad SAW pun tidak pernah membedakan perlakuan kepada setiap orang.

“Baik itu dari kalangan elit terhormat maupun kepada rakyat jelata. Mereka semua dipandang sama dihadapan hukum. Malah hal tersebut, Nabi Muhammad SW lakukan bahkan kepada kaum kerabat dan keluarganya sendiri,” ulasnya.

Dijabarkan Kyai Makhtum bahwa di dalam sebuah riwayat yang dikutip Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya, beliau meriwayatkan sebuah hadist :

*عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ المَرْأَةِ المَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ، فَقَالُوا: وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالُوا: وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ، ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ، ثُمَّ قَالَ: إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ، أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا*

Yang artinya : “Dari Sayyidah ‘Aisyah رضي الله عنها, bangsa Quraisy pernah mengalami konflik kepentingan dalam kasus pencurian yang dilakukan oleh seorang wanita bangsawan dari suku Makhzumiyah. Mereka berdiskusi: siapa yang bisa menyampaikan amnesti ini kepada Rasulullah? Mereka memutuskan: tidak ada yang berani menyampaikan ini, kecuali Usamah ibn Zaid, orang yang dicintai Rasulullah. Usamah ibn Zaid menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah. Rasulullah tegas merespons: apakah kamu berani memberikan amnesti hukum yang telah ditetapkan oleh Alloh …! Nabi kemudian bangun dan berkata: sesungguhnya hal yang menjadikan umat terdahulu binasa adalah mereka tidak menjatuhkan hukuman kepada orang yang terhormat jika melakukan pencurian, tetapi mereka menjatuhkan hukuman kepada orang lemah yang melakukan pencurian. Demi Alloh, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, maka sungguh aku potong tangannya (sebagai balasannya).

“Namun di era modern seperti sekarang ini, fenomena atau kejadian seperti di atas rasanya akan sulit kita jumpai dari para pemimpin dunia. Justru yang terlihat adalah mereka terkesan memberikan perlindungan terhadap keluarga, kerabat, kolega dan orang-orang terdekat yang terlibat kasus hukum. Akhirnya, keadilan hukum lebih banyak ditegakkan kepada orang-orang lemah atau rakyat biasa, dimana mereka berada diluar lingkaran kekuasaan,” kata Kyai Makhtum seraya mencontohkan.

Selanjutnya, dinukil Kyai Makhtum bahwa di dalam Al-Qur’an, Alloh memberikan sorotan dan perhatian tajam atas fenomena-fenomena yang terjadi diatas, Alloh berfirman:

*ياَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ*

Yang Artinya : “Wahai orang – orang yang beriman, jadilah kalian penegak (kebenaran) karena Alloh (dan) jadilah saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil…! Karena (adil) itu lebih dekat pada ketaqwaan. Bertakwalah kalian kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha teliti terhadap apa yang kalian kerjakan.”

معاشر المسلمين وزمرة المؤمنين رحمكم الله

“Sesungguhnya keadilan hendaklah ditegakkan kepada siapa saja, tanpa memandang strata kehidupan seseorang. Baik dalam aspek sosial, politik, ekonomi dan seterusnya. Hal ini adalah warisan Nabi kita yang dilanjutkan dan dipertahankan oleh para pemimpin/khalifah setelah ke-Nabian. Sebagai contoh, Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq, khalifah pertama setelah Nabi wafat, ketika dipilih dan diangkat menjadi pemimpin, beliau memastikan keadilan yang akan ditegakkan tidak memandang status dan kedudukan seseorang. Orang yang punya kekuasaan tidak akan mendapatkan keistimewaan di depan hukum, dan rakyat biasapun akan tetap mendapatkan jaminan keadilan. Pidato kepemimpinan Sayyidina Abu Bakar ini diriwayatkan Ma’mar ibn Rasyid dalam kitab Jami’ Ma’mar ibn Rasyid:

*يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ وُلِّيتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِخَيْرِكُمْ، فَإِنْ ضَعُفْتُ فَقَوِّمُونِي، وَإِنْ أَحْسَنْتُ فَأَعِينُونِي، الصِّدْقُ أَمَانَةٌ، وَالْكَذِبُ خِيَانَةٌ، الضَّعِيفُ فِيكُمُ الْقَوِيُّ عِنْدِي حَتَّى أُزِيحَ عَلَيْهِ حَقَّهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، وَالْقَوِيُّ فِيكُمُ الضَّعِيفُ عِنْدِي حَتَّى آخُذَ مِنْهُ الْحَقَّ إِنْ شَاءَ اللَّهُ*

Yang artinya : “Wahai manusia, aku telah diangkat menjadi pemimpin kalian, padahal aku bukanlah orang terbaik diantara kalian. Bila aku lemah, maka kukuhkanlah aku, dan bila aku baik, maka bantu dukunglah aku. Kejujuran adalah amanah/tanggung jawab, dan kebohongan adalah penghianatan. Rakyat biasa adalah orang terhormat bagiku sampai aku bisa memberikan haknya, sedangkan bangsawan adalah rakyat biasa bagiku sampai aku bisa menegakkan keadilan dengan mengambil haknya.”

Disebutkan bahwa selain Sayyidina Abu Bakar, maka sosok Sayyidina Umar ibn al-Khaththab juga telah berhasil menegakkan keadilan yang diwariskan oleh Nabi.

Sayyidina Umar tidak pernah memberikan fasilitas kerajaan kepada keluarganya. Bahkan keluarganya sering diingatkan agar tidak memanfaatkan jabatan ke-Khalifah-an Umar untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain yang kita kenal dengan sebutan gratifikasi.*_

Selain itu Sayyidina Umar juga selalu berpesan kepada para pejabat di lingkungannya agar berlaku adil kepada siapa saja di depan hukum. Sebagai contoh Sayyidina Umar pernah menulis surat kepada Abu Musa Al-Asy’ari sebagaimana yang dikutip Al-Baihaqi dalam kitab Al-Sunan al-Kubra-nya:

*فَإِنَّ الْقَضَاءَ فَرِيضَةٌ مُحْكَمَةٌ، وَسُنَّةٌ مُتَّبَعَةٌ، افْهَمْ إِذَا أُدْلِيَ إِلَيْكَ، فَإِنَّهُ لَا يَنْفَعُ كَلِمَةُ حَقٍّ لَا نَفَاذَ لَهُ، آسِ بَيْنَ النَّاسِ فِي وَجْهِكَ وَمَجْلِسِكَ وَعَدْلِكَ ، حَتَّى لَا يَطْمَعَ شَرِيفٌ فِي حَيْفِكَ ، وَلَا يَخَافَ ضَعِيفٌ مِنْ جَوْرِكَ.*

Yang artinya: “Kepemimpinan adalah satu kewajiban yang harus dipatuhi dan juga Sunnah Nabi yang harus diikuti. Pahamilah permasalahan dengan baik jika ada orang yang mengadukan sesuatu kepadamu karena slogan kebenaran tidak berguna jika tidak dipraktikkan. Berikan kesetaraan dalam perlakuanmu kepada semua orang, sampai orang bangsawan tidak akan merasa tenang dan aman karena tidak tersentuh hukum dan rakyat biasa tidak merasa pesimis karena kedhalimanmu.”

*معاشر المسلمين وزمرة المؤمنين رحمكم الله*

Kemudian disampaikan Kyai Makhtum bahwa Pemimpin atau Imam yang adil merupakan sosok penting dalam perjalanan sebuah bangsa. Lebih dari itu tegak dan kuatnya sebuah negeri diantaranya juga sangat dipengaruhi oleh kehadiran seorang pemimpin yang adil. Selain itu pula pemimpin yang adil do’anya sangat didengar oleh Alloh Ta’ala dan amat mustajabah. Oleh arenanya saking mulianya kedudukan pemimpin yang adil, Nabi pun memposisikannya sebagai orang pertama yang akan mendapatkan naungan dari Alloh Ta’ala pada hari kiamat.

Hal ini sebagaimana telah diriwayatkan al-Bukhari dalam kitab Shahihnya :

*سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الإِمَامُ العَادِلُ…*

Yang artinya : “Tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan dari Alloh Ta’ala pada hari yang tidak ada naungan, kecuali naungan dari Alloh Ta’ala. Pertama, adalah pemimpin yang adil…”

“Sedangkan untuk memperoleh pemimpin yang adil, kita disarankan hendaknya kita ummat Islam senantiasa mencintai Alloh Ta’ala, mencintai Rosulullah SAW dan senantiasa dekat dengan Para Ulama dan fuqoha (para ahli agama ) yakni dengan sering hadir di majelis-majelis dan halaqah mereka, sering meminta nasihat kepada mereka tentang apa yang seyogyanya kita lakukan agar hidup kita lebih diberkahi oleh Alloh Ta’ala. Karena pada akhir zaman yang terjadi adalah ummat Islam seringkali meninggalkan dan menjauhi ulama dan fuqoha (ahli agama), malas hadir di majelis-majelis dan halaqah mereka.serta enggan meminta nasehat kepada mereka, sehingga Alloh pun murka hingga memberikan pemimpin yang dhalim terhadap ummat ini, dan Alloh Ta’ala juga mengurangi bahkan menghilangkan keberkahan dari hasil jerih payahnya atau hasil usahanya serta dikhawatirkan su’ul khotimah saat meninggalkan dunia ini,” ulas Kyai Makhtum, panjang lebar dalam khutbah Jum’atnya.

Semoga penutup khutbahnya, Kyai Makhtum berharap : “Semoga kita bangsa Indonesia ini akan mendapatkan anugerah Alloh Ta’ala berupa pemimpin atau imam yang adil, yang dapat menghantarkan kita kepada kemakmuran dan kesejahteraan serta memperoleh keridhaan Alloh Ta’ala. Sampai pada puncaknya menjadi negeri yang Subur Makmur Gemah Ripah loh jinawi Toto Tentrem Kerto Raharjo menjadi Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofuur Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

*وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ ٱللَّهِ فَأَذَٰقَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلْجُوعِ وَٱلْخَوْفِ بِمَا كَانُوا۟ يَصْنَعُونَ*

Yang artinya : “Dan, Alloh Ta’ala telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, yang mana rizkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap penjuru, akan tetapi (penduduknya), justru mengingkari nikmat-nikmat Alloh Ta’ala. Karena itu, Alloh Ta’ala menimpakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan. Juga karena disebabkan oleh apa yang selalu mereka perbuat.” © RED/AGUS SANTOSA

Related posts

Memohon Ampunan & Rahmat Allah SWT Turun Tanpa Batas, BELAJAR MERENDAH dalam Doa Sejati

Redaksi Posberitakota

Isi Kultum ‘Malam ke-14 Taraweh’, USTADZ HM MAKHTUM Ajak Jamaah Menjaga & Merawat Amalan Ibadah hingga Hari Kiamat

Redaksi Posberitakota

Selain Umroh & Haji, PT ZARSQI TOUR AND TRAVEL Perkenalkan Wisata Ziarah Bumi Para Nabi di 5 Negara

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang