Bukan Kerja Musiman, GURIHNYA REJEKI Kaum Ibu Susukan Ditengah Perihnya Bawang Putih

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Di sebuah gang kecil RT 06 RW 08, Susukan, Ciracas, Jakarta Timur – aroma bawang putih tercium tajam sejak pagi. Di teras rumah-rumah sederhana, belasan ibu rumah tangga duduk bersila mengelilingi karung bawang putih seberat 20 kilogram.

Tangan mereka terlihat begitu cekatan manakala mengupas kulit bawang yang kering dan keras. Sementara mata perih tak bisa dihindari akibat uap menyengat dari kupasan bawang putih.

Tentu saja pekerjaan itu bukanlah sebagai musiman. Sudah hampir tiga tahun, para ibu di kampung ini menggantungkan tambahan penghasilan dari jasa kupas bawang putih. Upahnya Rp30.000 per karung – jumlah yang mungkin kecil, tapi sangat berarti untuk menambah uang belanja dapur.

“Kalau udah lama ngupas, tangan bisa panas, mata perih. Tapi kami udah biasa,” celetuk Siti (43) sambil terkekeh, meski sesekali menyeka air mata.

Bahkan tak jauh lokasi diduduk dari Siti, seorang ibu bernama Ana (40) terlihat sedikit berbeda. Tangannya tak langsung menyentuh bawang – ia memakai sarung tangan dari balon lateks berwarna bening.

“Kalau nggak pakai ini, tangan saya gatal dan panas. Pakai balon begini lumayan ngurangin perih,” ujar Ana, sambil menunjukkan sarung tangan darurat itu. Balon tipis yang dipotong dan dipasang di tangan menjadi solusi sederhana tapi efektif.

Kendati begitu, Ana tetap tertawa saat uap bawang mulai membuat matanya berkaca-kaca. “Sarung tangan sih aman, tapi mata tetap kena serangan,” ucapnya sambil bercanda dan membuat ibu-ibu lain ikut tertawa.

MNamun setiap ibu biasanya bisa menyelesaikan satu karung dalam dua hingga tiga jam. Jika sedang ramai order, mereka sanggup mengupas hingga dua karung per hari. Meski kerjaannya melelahkan, kegiatan ini menjadi penopang keuangan keluarga.

“Dapetnya nggak seberapa, tapi kalau rutin, lumayan buat jajan anak dan beli lauk,” tutur Sri (38), lagi.Jika terlihat kulit bawang yang menggunung di pojok rumah menjadi bukti kerja keras mereka. Tak ada mesin, tak ada pabrik hanya tangan-tangan ibu rumah tangga yang ulet dan sabar.

Sedangkan Blbagi warga Kampung Bawang Putih nama dari warga setempat, pekerjaan ini bukan sekadar cari uang. Ini juga ruang sosial – tempat berbagi cerita, saling membantu dan menjaga keakraban.“Nah, kalau rame-rame ngupas, nggak terasa capeknya. Malah kayak arisan,” timpal Yati (46) seraya sesekali mengusap matanya.

Perihnya bawang putih tak menyurutkan semangat mereka. Justru dari situlah rezeki mengalir. “Enggak gengsi ngupas bawang. Ini kerja halal,” ucap Ana sambil tersenyum, tangannya tetap bergerak lincah dengan sarung tangan balon. Justru ditengah kota besar, kisah para ibu-ibu dari Susukan tersebut, juga merupakan potret ketekunan yang sederhana namun mengharukan – bahwa dari perih yang kecil, lahirlah gurihnya kehidupan. © RED/KEMAL MAULANA /EDITOR : GOES

Related posts

Dukung Kebijakan Gubernur Pramono, Plt Sekretaris DPW PPP DKI Muhammad Hatta Siap Bantu Gencarkan Sosialisasi Program Pilah Sampah

Kriminologi 500 Tahun Jakarta, Agustus 1945 : Ketika Jakarta Kota Tanpa Tuan (Seri 20)

Hindari Perilaku Seks Menyimpang, Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan Nikahkan Pasangan Pemulung di Kota Bekasi