OLEH : MEL SOFYAN
KETIKA bangsa ini sibuk berbangga dengan proyek kereta cepat dan jalan tol berbayar, jutaan rakyat di desa-desa masih harus melintasi jalan rusak untuk menjual hasil panen mereka. Ironis, karena pembangunan infrastruktur yang menelan dana triliunan rupiah itu lebih banyak dinikmati kalangan berduit, bukan rakyat kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Sudah saatnya kita berbicara jujur: arah pembangunan transportasi di Indonesia terlalu elitis dan berjarak dari kepentingan rakyat. Pemerintah tampak terpesona oleh proyek-proyek bergengsi yang hanya menghubungkan kota besar, namun lupa pada desa yang justru menjadi sumber kehidupan ekonomi bangsa.
Padahal, urat nadi sesungguhnya dari perekonomian Indonesia terletak pada jalan-jalan desa yang menghubungkan rakyat kecil di pelosok dengan pasar di kota.
Membangun jalan raya yang terintegrasi dari kota ke kota, dan menjangkau hingga ke desa, akan membuka akses nyata bagi seluruh rakyat.
Di sanalah perputaran ekonomi rakyat berlangsung: petani membawa hasil panen, nelayan menjual ikan segar, dan pelaku UMKM menggerakkan ekonomi lokal.
Ketika desa dan kota terhubung dengan baik, maka pemerataan ekonomi bukan lagi jargon. Pembangunan jalan desa bukan hanya soal aspal dan beton, tetapi tentang membuka pintu rezeki bagi jutaan keluarga yang selama ini terpinggirkan.
Sebaliknya, proyek kereta cepat dan jalan tol berbayar mahal tidak membawa manfaat nyata bagi daerah yang dilewatinya. Jalan tol memang mempercepat mobilitas, tetapi hanya bagi mereka yang mampu membayar mahal.
Sementara rakyat kecil tetap terjebak di jalan rusak tanpa pilihan lain.
Maka, tidak berlebihan jika pembangunan jenis ini lebih pantas diserahkan kepada sektor swasta — biarlah menjadi fasilitas komersial, bukan proyek yang menyedot dana publik.
Untuk menghubungkan antar pulau, transportasi udara merupakan solusi paling rasional bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Pesawat udara mempercepat pergerakan manusia dan barang, mempersingkat jarak, dan membuka potensi ekonomi baru di wilayah-wilayah terpencil. Kombinasi antara jalan raya yang merata dan transportasi udara yang efisien akan membentuk sistem konektivitas nasional yang adil dan efektif.
Negara tidak perlu berlomba membangun infrastruktur mewah. Pembangunan yang sejati adalah ketika seluruh rakyat, tanpa kecuali, mendapatkan akses yang sama terhadap sumber ekonomi. Ketika setiap desa tersambung oleh jalan yang baik, Indonesia tidak hanya menjadi negara besar secara geografis, tetapi juga kuat secara ekonomi dan sosial.
Kini saatnya bangsa ini meninjau ulang arah pembangunannya. Kita tidak membutuhkan proyek transportasi yang dibangun demi gengsi dan kebanggaan semu.
Yang kita butuhkan adalah jalan sederhana yang menyambung kehidupan rakyat, bukan jalur cepat yang justru memisahkan mereka dari kesejahteraan. (***/goes)
(PENULIS : MEL SOFYAN adalah Pemerhati Masalah Sosial & Pemerintahan)