Kalau Begini Jadinya, APA KATA DUNIA… Kawan?

OLEH : MASSOES

BENCANA datang lagi, kawan!
Memporak-porandakan kehidupan, kawan! Melanda saudara-saudara kita, kawan!
Dengar rintihan mereka, rintihan kesakitan, kesedihan, kelaparan
dan keputus-asaan. Oh kawan,
mengapa kalian diam?

Jangan-jangan kau takut, menyesal atau pura-pura sedih,
karena terlibat bahwa bencana kalian yang buat. Tak mau terlihat, tak peduli, juga tak berani bertanggungjawab. Cari aman, bersembunyi dibalik keserakahan.
Apa kata dunia, kawan!

Begitulah, belakangan banyak suara yang bicara musibah bencana alam yang melanda Sumatera. Suara-suara itu datang, bisa tulisan di Medsos atau sekadar obrolan di warung kopi.

Seperti puisi, misalnya yang juga mewakili diri dan mengalir lewat jeritan hatinya melihat keadaan menyedihkan, mendera rakyat banyak ini. Dengan menulis, mereka melepas semua isi hatinya. Nggak peduli apa itu tulisannya sama kayak penyair betulan atau kacangan, nggak peduli.

Yang penting: aku ikut bicara soal tragedi yang diyakini banyak orang adalah akibat keserakahan segelintir manusia. Menggali bumi dan menguras isinya, membabat hutan secara brutal. Tak berpikir bahwa apa yang mereka lakukan jadi bencana, karena memang memporakporandakan alam. Mereka menumpuk harta, rakyat menderita.

Nitizen misalnya, mereka paling sengit. Suara mereka yang tak bisa dibendung. Unek-unek, emosi yang meledak-ledak meluncur dari pikiran melalui jari-jari, tanpa ampun.

“Ayo, siapa yang menggunduli hutan? Akibat ulah kalian, rakyat menderita. Nggak takut dosa, ya? Juga, nggak takut neraka, ya?” jarinya yang bermain di layar HP , terus menari mewakili mereka yang tak berdaya .

Soal mau didengar atau nggak, no problem. Pokoknya, kami sudah ikut mengingatkan bahwa ada yang nggak beres di negeri tercinta ini. Namun harus ada yang bertanggungjawab.

Kami ikut prihatin, ikut sakit, ikut merasakan apa yang dirasakan saudara-saudara kita, yakni para korban yang tak berdosa.
Sadar, sesadar-sadarnya, nggak mau menunggu wakil mereka yang ada di atas yang lambat berpikir, lambat bergerak.

Tapi, mereka cepat rebutan proyek, menikmati tujangan besar. Soal yang diwakilinya, rakyat mau menderita kek, mau lapar kek, masa bodoh ah! kalau begini jadinya, apa kata dunia, kawan? (***/goes)

(PENULIS : SOESILO ARIENANJAYA alias MASSOES adalah Wartawan Senior, pernah aktif di Harian PosKota, Jakarta)

Related posts

Kriminologi 500 Tahun Jakarta, Agustus 1945 : Ketika Jakarta Kota Tanpa Tuan (Seri 20)

Makna Perintah Qurban Sebagai Bagian Dimensi Spiritualitas, Membunuh Sifat Kebinatangan dari Manusia Itu Sendiri

Kriminologi 500 Tahun Jakarta, Pendudukan Jepang-Teror Kempeitai dan Kriminalisasi Informasi (Seri-19)