OLEH : DIMAS SUPRIYANTO
DI USIA dan fase hidup seperti ini, saya belajar bahwa rezeki memang punya selera humor yang tinggi. Ia kerap datang dengan cara menyamar. Kadang ia datang sebagai secangkir kopi panas di bandara Hong Kong yang dingin, roti Canai di rumah makan India – kadang sebagai senyum sopir Grab di Ho Chi Minh City – yang tak fasih bahasa Inggris tapi fasih membaca wajah lelah penumpangnya.
Tidak selalu berupa saldo yang aman, apalagi notifikasi “uang masuk”. Transfer yang sudah diterima.
Beberapa bulan lalu saya duduk di Penang, di warung sederhana menatap pelabuhan tua. Berpose di belakang dinding muralnya yang khas itu. Di sana saya sadar: betapa hidup saya penuh cap imigrasi, tapi minim cap kepastian. Paspor saya lebih berisi daripada buku tabungan.
Saya bisa menyebut nama jalan di Kuala Lumpur, hafal rute MTR di Hong Kong, paham menawar cindera mata di Ben Thanh Market di Ho Chi Minh City. Tapi saya gagap ketika harus menghitung sisa uang sampai akhir bulan. Mencheck transferan baru yang tak kunjung masuk.
Inilah paradoks profesi dan pilihan hidup yang dulu saya doakan dengan penuh keyakinan. Saya ingin jadi wartawan agar bisa pergi ke mana-mana, bertemu siapa saja, melihat dunia dari dekat — dan doa itu terkabul nyaris tanpa potongan.
Tapi ada yang luput saya sebutkan detail kecil tapi krusial: keamanan finansial. Sampai hari ini, dompet dan saldo ATM saya sering tiris. Lengket. Tipis.
Nampaknya doa saya selama ini terlalu puitis – kurang administratif.
Maka – jadilah saya orang yang tampak mapan di unggahan foto—bandara, kota asing, sudut kafe—tapi harus berhitung ketat saat kembali ke tanah air.
Saya bisa bercakap tentang dinamika politik Asia Tenggara, tapi masih akrab dengan jadwal KRL, kepadatan bus kota, dan sensasi berdiri lama sambil menenteng tas berisi hidup seadanya.
Dari gedung tinggi ke pegangan besi di gerbong, dari lounge bandara ke peron bersama emak emak, saya menjalani nasib. Hidup memang kerap kontras bagi jurnalis pensiunan yang terus berjuang dan menulis ironi.
Saya tahu, saya tidak sendirian. Banyak kawan seprofesi yang mengalami hal serupa. Kami kaya cerita, tapi miskin kepastian. Kami menulis tentang kekuasaan, ketimpangan, dan janji-janji pembangunan, sambil diam-diam bertanya: kapan giliran hidup kami sedikit lebih stabil? Kami sering menjadi saksi sejarah, tapi jarang menjadi pemilik aset.
Di tengah ironi itu, rasa syukur tetap menemukan jalannya. Sebab tidak semua orang diberi tubuh yang cukup sehat untuk menempuh perjalanan jauh, kaki yang masih kuat mengejar gate dimana pesawat tujuan diparkir, jalan jalan menapaki kota asing, atau pikiran yang masih cukup jernih untuk mencatat dunia. Tidak semua orang bisa pulang dengan letih yang bermakna.
Tahun 2025 mungkin saya lewati dengan banyak perjalanan dan belum memberikan kemapanan. Belum menyisakan saldo yang menenangkan. Membikin anak anak dan ibunya ceria.
Tapi – tahun 2025 juga memberi saya pengalaman yang tidak bisa diuangkan, ingatan yang tidak bisa disita, dan keyakinan kecil bahwa hidup tidak sepenuhnya gagal . Hanya karena angka-angka saja yang tidak berpihak. ATM yang sering berterus terang, “Saldo Anda tidak mencukupi”
Saya masih harus berjuang, masih naik-turun KRL, bus TransJ dan MRT – masih berlari kecil melewati rintik hujan di bulan Desember ini – masih terus menulis, dan terus berharap — meski dengan nada yang lebih rendah dan doa yang kini lebih lengkap.
Kemarin saya merayakan Natal bersama teman teman dan mendengarjan kisah penulis dan jurnalis Fanny Jonathan – yang masa kecilnya penuh perjuangan karena ayahnya seniman. Saya kenal Gerson Poyk – almarhum ayahnya, seniman dan jurnalis yang bohemian dan nomaden.
Ya, Tuhan! Saya membayangkan anak anak saya yang juga tengah cemas dengan bapaknya yang wartawan pensiunan ini!
Ke depan, doa saya akan lebih realistis. Tetap ingin melihat dunia, tapi juga ingin pulang tanpa rasa cemas. Tetap ingin menulis dengan jujur, tapi juga ingin hidup tanpa harus selalu bernegosiasi dengan kekurangan.
Sampai saat itu tiba, saya akan terus berjalan — kadang naik pesawat, kadang naik bus kota – yang rutin dengan KRL — sebab begitulah jalan hidup yang digariskan kepada saya : sederhana, tidak glamor, tapi nyata.
Dan bukankah itu juga sejenis rezeki yang harus disyukuri? (***/goes)
(PENULIS : DIMAS SUPRIYANTO adalah Pensiunan Wartawan, kini tinggal di Depok )