Cari Solusi Jangan Bikin Polusi, ANGKAT DERAJAT Sampah Supaya Jadi Bergengsi

OLEH : MASSOES

SUATU pagi yang gelap. Gelap karena mendung dan asap hitam mengepung sebagian wilayah perumahan warga. Peristiwa pagi itu memang sangat tidak membuat nyaman. Asap yang masuk rumah sangat menggaggu penghuni yang sedang istirahat. Sulit bernapas.

Kegaduhan itu disebabkan seorang warga yang seenaknya membakar sampah di lingkungan tersebut. Tentu saja perbuatannya itu membuat marah banyak orang. Bayangkan saja, pagi di hari libur, masih ada sebagian orang yang istirahat harus menghirup asap yang pengap, bermacam bau menyengat.

Peristiwa di atas memang tidak sangat diharapkan, di mana pun juga. Apalagi di lingkungan yang padat penduduk, pastinya akan menuai dampak perseoalan serius. Karena asap hasil pembakaran sampah akan menimbulkan berbagai masalah kenyamanan dan kesehatan.
Soal sampah di ligkungan padat, nggak bisa dibuang sembarangan.

Dulu, di daerah yang masih longgar alias punya pekarangan, sampah nggak jadi soal. Penduduk bisa membuat lobang di belakang rumah untuk menampung sampah. Dibakar dan dimanfaatkan bekas bakarannya untuk pupuk. Begitu seterusnya.
Itu kan cerita dulu, ya.

Sekarang? Di zaman wilayah padat, Jabodetabek, misalnya. Nggak mungkin warga nampung sampah sendiri dan membakarnya, akan menimbulkan masalah, seperti kasus di atas.

Belakangan urusan sampah sedang mencuat. Persoalan sampah bikin pusing pejabat yang menanganinya. Sampah nggak ada habis-habisnya, memang. Namanya juga sampah. Udah jelek bau, bikin penyakit. Siapa yang peduli?

Tapi, semua harus pedulilah. Sampah itu datangnya kan dari warga, dari rumah-rumah. Sampah rumahtangga, yang terdiri dari kertas daun dan plastic. Benda jelek kotor ini membludag setiap saat dan jumlahnya sampai berton-ton.

Sampah juga diproduksi oleh banjir. Nggak aneh bahwa selepas banjir biasanya sampah numpuk dan berceceran di manana. Sampah apa saja terbawa oleh air banjir dari hilir ke hulu.

Dan, kesalahan yang paling biasa kan dilimpahkan pada masyarakat. ”Makanya jangan buang sampah sembarangan. Buang sampah kok di kali, kan nggak bener!”

Para yang berwenang juga saling menyalahkan,saling tuding. ”Ente nggak becus ngatur wilayah, banjir, sampah di mana-mana!”

Tangerang Selatan, misalnya lagi kelabakan didera sampah. Wilayah ini disebut sedang darurat sampah. Sampah menumpuk di manan-mana. Berceceran di sepanjang jalan wilayah itu merusak keindahan dan mengganggu mata dan pikiran.

Jalan raya bagai velbak.
Warga protes, kata mereka pemerintah tidak mampu melaksanakan tugasnya. Yakni membuang sampah pada tempatnya, tidak membiarkan menumpuk di pinggir jalan raya, bukan saja menggangu jalan tapi serangan bau tak sedap dan kesehatan.

Bahwa produksi sampah dari warga memang cukup deras. Dikabarkan Pemerintah Tangsel saat ini membuang sampah ke TPA luar wilyahnya sebanya 200 ton perhari; “ Dengan biaya Rp90 juta sehari,” ujar petugas.

Jadi, ngomong-ngomong soal sampah kayaknya ini tugas kita semua, pemerintah dan juga masyarakat.

Pemerintah bolehlah dengan programnya. Buat tempat pembuangan sampah. Bukan sekadar untuk menampung barang bekas, sampah, tapi bisa mengubah sesuatu yang berguna bagi masyarakat luas.

Misalnya, sampah jadi tenaga listik, gas bahan bakar, jadi macam-macam barang berguna. Pakaian, sepatu, tas dan barang-barang rumahtangga lainnya.

Pokoknya mengangkat derajat sang sampah. Dari jelek, kotor, bau jadi keren dan wangi.
Kayaknya jika kita mampu mengolah sampah dengan baik, dari tingkat lingkungan, misalnya.

Diharapkan mampu menghindari gunung sampah seperti di Bantargebang, Bekasi dan wilayah lain yang pastinya menimbulkan dampak kurang sedap.

Warga masyarakat jelas harus ikut mendukung, karena kita sadar bahwa sampah sebagian besar keluar dari pintu rumah kita. Tanpa sadar kita begitu banyak menyumbang sampah.

Maka, seharusnya kita ikut menjadi solusi bukan bikin polusi, begitu kata pepatah tentang kebersihan lingkungan. Satu lagi, kok naga-naganya ada juga yang doyan sampah.

Buktinya, PN Serang Banten, lagi menyidangkan kasus korupsi dana pengelolaan sampah. Kok tegel (tega) ya, sampah masih mau dimakan? Dasar sampah! (***/goes)

(PENULIS : SOESILO ARIENANJAYA alias Massoes adalah Wartawan Senior Pensiunan Harian POSKOTA)

Related posts

Kriminologi 500 Tahun Jakarta, Agustus 1945 : Ketika Jakarta Kota Tanpa Tuan (Seri 20)

Makna Perintah Qurban Sebagai Bagian Dimensi Spiritualitas, Membunuh Sifat Kebinatangan dari Manusia Itu Sendiri

Kriminologi 500 Tahun Jakarta, Pendudukan Jepang-Teror Kempeitai dan Kriminalisasi Informasi (Seri-19)