PosBeritaKota.com
Top News

Berpulangnya Jurnalis Senior, SELAMAT JALAN Gantyo Koespradono

CATATAN : DIMAS SUPRIYANTO

TAK terasa, saya menitikkan airmata saat mendengar berita dia telah berpulang. Gantyo Koespradono, jurnalis senior rekan seangkatan di media cetak, alumni STP angkatan ’78, berpulang pada hari Senin petang, 26 Januari 2026, pukul 17.49 WIB, di RS Siloam MRCC Semanggi.

Jenazah disemayamkan di rumah duka, Cluster Cemara No.12, Perumahan Taman Royal 3, Tangerang. Dan Selasa pagi ini, 27 Januari 2026, jenazah akan dibawa ke GKJ Tangerang, pada pukul 08.00 WIB, untuk ibadah Tutup Peti. Pelepasan Jenazah diselengarakan di pada pukul 12.00-13.00 WIB untuk selanjutnya dimakamkan di Lestari Memorial Park Tangerang, pada pukul 14.00 WIB.

Terakhir saya menitikkan airmata untuknya saat dia mengisahkan sakit kanker pada pita suaranya (laring) sehingga dia tak bisa bicara alias bisu – sejak setahun terakhir ini. Dia sahabat saya, rekan seprofesi sesama jurnalis angkatan 1980an.

Gantyo Koespradono, mulai berkarir jurnalistik pada majalah “Progres”, koran “Angkatan Bersenjata”, dan harian “Media Indonesia”. Dia juga menjadi penyiar radio dan masuk tim pemenangan presiden Jokowi-JK. Sempat menjadi caleg NasDem. Tak terpilih hingga menghabiskan masa pensiunannya dengan menulis buku.

Tak kurang 10 judul berbagai tema, dari motivasi, company profile, proses kreatif, jurnalistik dan juga buku seputar gereja dan Kristiani. Dua buku dihasilkannya sejak dia mengidap kanker. Selain merekam perjalanannya sebagai penyintas kanker juga buku otobiografi.

Tahun lalu, saya meresensi buku perjalanan hidupnya “Rekaman Kehidupan Anak Bawang” setebal 358 halaman yang sangat mengejutkan. Untuk pertamakali saya membaca autobiografi yang mengisahkan penulisnya menyiapkan makam untuk dirinya sendiri. Memilih lokasi makam yang diinginkan berdua bersama isteri tercintanya.

Nama saya dihadirkan di bukunya itu, di halaman 160 – bersama sama Pak Rosihan Anwar, guru jurnalisme kami. Saya anggap itu sebagai sanjungan dan kehormatan.

Saya mengenalnya sejak 1986. Kami dipertemukan di acara pelatihan jurnalistik untuk wartawan film. Sama sama mendapat wawasan dunia film dan kritiknya dari H Rosihan Anwar dan Dr Salim Said almarhum dan pengajar lainnya. Film “Nagabonar” baru dirilis saat itu.

Kelas kami memilihnya untuk mewakili para peserta untuk menyampaikan kesan pesan sebagai peserta. Ucapannya runtut dan dramatis, meski saya lupa apa saja yang diucapkannya – lantaran itu peristiwa 40 tahun silam.

Rekan rekan jurnalis yang ikut penataran datang dari berbagai media dan berbagai kota. Sebagiannya sudah jadi redaktur bahkan pemimpin redaksi di media masing masing. Seperti Us Tiarsa di PR dan Octo Lampito di KR.

Lama tak berjumpa kami dipertemukan di KRL Depok – Manggarai – sekira dua tahun lalu. Kangen kangenan setelah puluhan tahun tak jumpa. Sudah pensiun sebagai jurnalis “MI” dan mengajar sebagai dosen di IISIP Lenteng Agung, ungkapnya. Dia lancar bicara dengan gayanya yang khas, santun dan runtut. Selanjutnya kami silaturahmi lewat WA dan FB.

Saya dibuat terkejut ketika dalam status FB-nya dia divonis dokter mengidap kanker laring. Dan lebih mengejutkan lagi ketika dia kehilangan suara. Padahal dia punya keahlian sebagai penyiar radio – pengasih acara “Ngopi Sore” Nasdem – mengandalkan suara. Dan pernah mewawancarai tokoh tokoh nasional dalam acara yang diasuhnya.

Gantyo Kuspradono, jurnalis yang semula berpindah dari media ke media, mengisi masa pensiun berkelana dari kampus ke kampus, sebagai tenaga pengajar bahasa Indonesia jurnalistik sambil menulis buku, berganti pindah dari rumah sakit ke rumah sakit, dari RS Pondok Indah, RS Mayapada Hospital Tangerang, RS Hermina Daan Mogot hingga RSK Dharmais.

Kini dia tak sakit lagi. Dia telah berpulang petang kemarin.

Selamat jalan ke rumah Bapa di Surga, sahabatku Gantyo Koespradono. Kiranya beristirahat dalam damai dan kasih-Nya.

Semoga Tuhan memberikan kekuatan dan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Gusti Allah ingkang Maha Welas,
kawula masrahaken sugeng lan gesangipun mitra ingkang kawula tresnani. Mugi Panjenengan paring tentrem langgeng lan katresnan sejati. Amin. (***)

(PENULIS : DIMAS SUPRIYANTO adalah Jurnalis/Wartawan Senior, pernah bekerja hingga pensiun dari Harian POSKOTA)

Related posts

Luncurkan The Jakarta Watch, KETUM MADAS NUSANTARA HM JUSUF RIZAL SH Ingin Bantu Gubernur Pramono Anung Awasi Abuse of Power di Jakarta

Redaksi Posberitakota

Sabtu 15 Juni Besok di GRJT Otista, SENIMAN TEATER Bakal Gelar ‘Peringatan 40 Hari Berpulangnya Dorman Borisman’

Redaksi Posberitakota

Pengusaha & Pemerhati, MEL SOFYAN : “Dana Rp 200 Triliun Bagi UMKM – Pedagang Kecil Tak Guna karena Anjloknya Daya Beli Masyarakat”

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang