OLEH : KH LUTFI HAKIM MA – IMAM BESAR ‘FBR‘
SALAM rempug! Sesaat lagi kita akan memasuki Ramadhan 1447 H/2026 M sebagai bulan mewah yang bukan hanya dalam kehidupan manusia. Tetapi, juga bagi Allah SWT sendiri.
Allah SWT sangat posesif, sangat memendam rasa memiliki terhadap ibadah puasa hamba-hamba-NYA selama bulan Ramadhan. Ibadah yang lain, seperti shalat, zakat atau haji, untuk (kepentingan) manusia itu sendiri, tapi “Puasa untuk-Ku!”, begitu firman Allah SWT dalam sebuah hadis Qudsi.
Jadi, ketika memasuki bulan Ramadhan, kita – baik sendiri – sendiri atau beramai – ramai- – berduyun-duyun melakukan kerja bakti, kerja pengabdian, kerja keprihatinan, membangun ketahanan dan kesabaran untuk dipersembahkan kepada-NYA sebagai pembuktian cinta yang terlapar dan terhaus kepada-NYA.
Setiap rasa geliat lapar di perut kita; setiap kehausan di tenggorokan kita; setiap rasa sakit dari kesabaran yang dilakoni pada siang hari kita, serta setiap hikmah dan kematangan yang lahir dari itikad dan kerempugan kita, langsung direbut dan direngkuh dalam dekapan-NYA. Secara terang-terangan, Allah SWT mengungkapkan rasa bahagianya karena persembahan cinta kita melalui ibadah puasa.
Cinta Allah SWT kepada kita – sebagaimana juga dialirkan dalam darah batin kita – begitu romantis dan sangat menyentuh perasaan. Seolah-olah Allah SWT pernah tidak memiliki atau kehilangan kita, sehingga selama Ramadhan ditegaskan bahwa seluruh diri yang berlapar-dahaga ini semata-mata milik-NYA. Padahal, puasa merupakan proses dasar penyelamatan manusia atas dirinya sendiri.
Nah, tunggu apalagi? Mari manfaatkan Ramadhan untuk meraih cinta dan sekaligus romantisme-NYA…!!! (***/goes)
(PENULIS : KH LUTFI HAKIM MA adalah Imam Besar FBR, tinggal di Jakarta)