PosBeritaKota.com
Opini

Ramadhan & Solidaritas Kolektif: DARI IBADAH ke Gerakan

OLEH : AGUNG NUGROHO – KETUA UMUM REKAN INDONESIA

MEMASUKI hari keempat Ramadhan, kita sudah melewati fase adaptasi. Tubuh mulai terbiasa. Empati sudah direnungkan. Kejujuran sudah diuji. Pertanyaannya sekarang: setelah semua itu, lalu apa?

Puasa memang dimulai dari diri sendiri. Kita menahan lapar, menjaga ucapan, dan mengendalikan emosi. Namun Ramadhan tidak pernah sepenuhnya bersifat pribadi. Ia selalu menghadirkan suasana kebersamaan. Waktu sahur dan berbuka dilakukan serentak. Masjid ramai. Kegiatan berbagi meningkat. Ada rasa terhubung satu sama lain.

Di sinilah solidaritas tumbuh.

Sosiolog Émile Durkheim menjelaskan bahwa masyarakat dapat bertahan karena adanya solidaritas, yakni rasa kebersamaan yang membuat orang merasa saling terkait. Ramadhan memperkuat rasa itu. Kita merasakan ritme yang sama, menahan diri pada waktu yang sama, dan merayakan berbuka pada waktu yang sama.

Namun rasa kebersamaan saja tidak cukup. Menurut Charles Tilly, perubahan sosial membutuhkan tindakan kolektif yang terorganisir. Artinya, kepedulian harus diwujudkan dalam langkah nyata dan berkelanjutan, bukan hanya semangat sesaat.

Ramadhan sebenarnya melatih kemampuan itu. Ia membentuk disiplin waktu, kesabaran, dan komitmen bersama. Jika selama sebulan masyarakat mampu menjalankan aturan yang sama dengan tertib, itu menunjukkan bahwa kita memiliki kapasitas untuk bergerak bersama dalam urusan yang lebih luas.

Ditengah berbagai persoalan sosial, seperti ketimpangan ekonomi dan lemahnya kepercayaan publik, solidaritas menjadi sangat penting. Perubahan tidak cukup mengandalkan kebaikan individu. Ia membutuhkan kerja sama dan komitmen jangka panjang.

Hari keempat Ramadhan dapat menjadi momen untuk memperluas makna ibadah. Dari disiplin pribadi menuju tanggung jawab bersama. Dari empati menuju aksi kolektif. Jika nilai-nilai puasa mampu diterjemahkan ke dalam gerakan sosial yang konsisten, maka Ramadhan bukan hanya menghadirkan suasana religius, tetapi juga kekuatan perubahan. (***/goes)

(PENULIS : AGUNG NUGROHO adalah KETUA UMUM REKAN INDONESIA, tinggal di Jakarta)

Related posts

Jika Galau Proporsional Terbuka atau Tertutup Tak Demokratis, PEMILU 2024 Pakai Sistem Distrik Saja

Redaksi Posberitakota

DPRD DKI Didesak Bentuk Pansus RDF, SUDAH DIBAYAR RP 1,2 TRILIUN – Masih Ujicoba – Minta Anggaran Lagi & Diduga Belum Perpanjang Jaminan Rp 64 Miliar

Redaksi Posberitakota

Lantaran Sudah Jadi Penguasa Ruang Publik, INDONESIA Harus Berani Melawan Hegemoni Platform Global

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang