PosBeritaKota.com
Opini Syiar

Hari ke-8 Jalani Ibadah Puasa: KUALITAS, Bukan Sekadar Kuantitas

OLEH : AGUNG NUGROHO – KETUM REKAN INDONESIA

MEMASUKI hari kedelapan puasa Ramadhan, ritme ibadah biasanya telah menemukan bentuknya. Sahur menjadi kebiasaan. Lapar lebih mudah dikendalikan. Jadwal ibadah berjalan tanpa banyak gejolak. Puasa tidak lagi terasa baru.

Di titik inilah refleksi menjadi penting.

Karena setelah lebih dari sepekan, pertanyaannya bukan lagi soal kuat atau tidak kuat. Pertanyaannya bergeser: apakah yang bertambah hanya jumlah hari, atau juga kedalaman makna?

Ramadhan sering kali diukur dengan angka. Berapa kali khatam. Berapa banyak takjil dibagikan. Berapa kegiatan sosial diikuti. Kuantitas mudah terlihat dan dihitung. Ia memberi rasa pencapaian yang konkret.

Namun kualitas bekerja dalam diam. Ia tidak selalu tercatat, tetapi terasa dalam perubahan sikap dan cara pandang.

Puasa sejatinya bukan perlombaan akumulasi aktivitas, melainkan proses pendalaman kesadaran. Delapan hari menahan lapar seharusnya tidak hanya melatih fisik, tetapi juga mempertajam empati dan integritas.

Fenomena serupa dapat ditemukan dalam gerakan sosial. Banyak inisiatif tampak besar di permukaan, dengan partisipasi luas dan dokumentasi yang ramai. Namun setelah momentum berlalu, dampak jangka panjang sering kali terbatas.

Dalam kajian gerakan sosial, keberhasilan tidak ditentukan semata oleh jumlah partisipan atau intensitas mobilisasi awal. Yang lebih menentukan adalah arah yang jelas, strategi yang matang, serta dampak yang berkelanjutan. Gerakan yang kuat bukan hanya besar, tetapi dalam.

Puasa hari kedelapan menawarkan pelajaran yang sama. Kualitas tidak terletak pada banyaknya aktivitas, melainkan pada transformasi yang terjadi dalam diri. Apakah kita menjadi lebih adil dalam bersikap? Lebih jujur dalam bekerja? Lebih peduli dalam mengambil keputusan?

Jika perubahan itu tidak hadir dalam keseharian, maka puasa berisiko menjadi rutinitas spiritual tanpa implikasi sosial.

Memang benar, solidaritas publik meningkat selama Ramadhan. Donasi bertambah, kegiatan sosial meluas. Namun tantangan seperti ketimpangan ekonomi dan akses pendidikan tetap membutuhkan kerja yang sistematis dan berkelanjutan. Ini menunjukkan bahwa kebaikan tidak cukup banyak. Ia juga harus berkualitas.

Hari kedelapan adalah momen untuk menilai kedalaman itu.

Apakah puasa kita hanya bertambah hitungan hari, atau juga bertambah bobot nilai?
Apakah kebaikan kita hanya terlihat, atau benar benar mengubah?

Ramadhan bukan sekadar tentang seberapa banyak yang dilakukan.
Ia tentang seberapa dalam maknanya meresap dan bertahan setelah bulan ini usai. (***/goes)

(PENULIS : AGUNG NUGROHO adalah Ketua Umum REKAN Indonesia, tinggal di Jakarta)

Related posts

Dhuafa Rajin Sholat Berjamaah, MASJID AL-FURQAN Sedekahkan Beras Melalui ATM

Redaksi Posberitakota

CERAMAH DI MALAM KE-26, USTADZ ABDUL RASYID MINTA KITA MANFAATIN PELUANG DI SISA RAMADHAN & BANYAK DOA AGAR DAPAT KUCURAN RAHMAT’

Redaksi Posberitakota

Waduk Jatiluhur Jebol Layak Dianalisa Secara Serius, PRABOWO – KDM & PRAMONO Wajib Jaga Fungsi Hutan di Hulu

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang