Krisis Global Menguat, PENGAMAT SOSIAL MEL SOFYAN : “UMKM Jadi Benteng Terakhir Bagi Ekonomi Indonesia”

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Bayang-bayang krisis ekonomi global menguat akibat geopolitik dunia yang terjadi saat ini. Oleh karenanya, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) serta pedagang kecil di Indonesia, diminta meningkatkan kewaspadaan dan mulai mempersiapkan langkah antisipatif menghadapi potensi krisis ekonomi yang diperkirakan dapat terjadi dalam beberapa waktu kedepan.

Begitu pun dengan sektor UMKM yang selama ini dikenal sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Jumlahnya mencapai lebih dari 60 persen dari total pelaku usaha di Indonesia dan mampu menyerap lebih dari 90 persen tenaga kerja nasional. Bahkan dalam berbagai periode gejolak ekonomi, sektor ini terbukti menjadi penyangga utama yang menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.

Pengamat sosial dan sekaligus pelaku usaha kecil, Mel Sofyan, menilai situasi ekonomi global saat ini menunjukkan tanda-tanda yang perlu dicermati secara serius. Ia bilang potensi krisis yang dapat terjadi ke depan memiliki karakter yang lebih kompleks dibandingkan krisis ekonomi 1998.

“Jika krisis pada 1998 dipicu oleh persoalan finansial di kawasan Asia, kondisi saat ini jauh lebih rumit karena dipengaruhi berbagai faktor global yang saling terkait,” ucapnya.

Lebih jauh Mel Sofyan menjelaskan bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel dan Iran, serta kemungkinan meluasnya konflik ke berbagai kawasan lain, berpotensi memicu ketidakpastian ekonomi global yang berkepanjangan.

Dalam situasi seperti itu, Mel Sofyan mengingatkan para pelaku UMKM dan pedagang kecil untuk menyiapkan strategi usaha yang lebih berhati-hati dan realistis. Pengalaman masa lalu memang menunjukkan bahwa usaha kecil relatif lebih tangguh dalam menghadapi krisis, namun perubahan struktur ekonomi global membuat tantangan ke depan tidak bisa dianggap ringan.

Tak lupa, Mel Sofyan juga menekankan pentingnya pengelolaan keuangan yang disiplin serta langkah bisnis yang lebih terukur agar pelaku usaha dapat menjaga keberlangsungan usahanya.

“Pelaku UMKM sebaiknya menghindari spekulasi usaha yang berisiko tinggi, menahan diri dari penambahan utang yang tidak produktif, serta mengurangi pembelian barang yang berpotensi mengalami penyusutan nilai, terlebih jika dilakukan melalui skema kredit,” pintanya.

Di sisi lain, Mel Sofyan juga mendorong pelaku usaha untuk memperkuat efisiensi operasional, menjaga arus kas tetap sehat, dan fokus pada kebutuhan pasar yang paling mendasar.

Ditambahkan bahwa kemampuan UMKM untuk tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi tidak hanya menentukan kelangsungan usaha para pelaku usaha kecil itu sendiri, tetapi juga sangat berpengaruh terhadap stabilitas perekonomian nasional.

“Jika sektor UMKM mampu bertahan menghadapi badai krisis yang mungkin terjadi, pada hakikatnya mereka sedang menjadi benteng terakhir yang menjaga perekonomian Indonesia,” tutup Mel Sofyan dalam keterangan tertulisnya yang diterima POSBERITAKOTA, Sabtu (7/3/2026). © RED/AGUS SANTOSA

Related posts

Dukung Kebijakan Gubernur Pramono, Plt Sekretaris DPW PPP DKI Muhammad Hatta Siap Bantu Gencarkan Sosialisasi Program Pilah Sampah

Di Kabupaten Badung Bali, BBTF 2026 Rampung dan Transaksi Pariwisata Capai Rp 6,9 Triliun

Hindari Perilaku Seks Menyimpang, Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan Nikahkan Pasangan Pemulung di Kota Bekasi