JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Pengamat sosial Mel Sofyan melontarkan kritik keras terhadap kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang dinilai masih melenceng dari tujuan utamanya: membantu masyarakat kecil.
Ditengah gejolak harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik global, Mel Sofyan juga menilai hal ini adalah momentum paling tepat bagi pemerintah untuk melakukan koreksi besar terhadap kebijakan subsidi energi.
“Jangan sampai uang negara habis untuk mensubsidi gaya hidup. Subsidi BBM itu harus kembali ke relnya: untuk rakyat yang benar-benar membutuhkan. Jadi, bukan untuk pemilik mobil pribadi,” tegasnya kepada POSBERITAKOTA, Jumat (20/3/2026).
Lebih lanjut Mel Sofyan menilai bahwa selama ini subsidi BBM berpotensi salah sasaran karena masih dinikmati oleh kelompok masyarakat yang secara ekonomi relatif mampu. Tanpa pembatasan yang tegas, ketimpangan akan terus terjadi.
“Ini bukan sekadar soal siapa punya mobil. Ini soal keadilan. Ketika orang mampu ikut menikmati subsidi, sementara rakyat kecil masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, di situlah kebijakan menjadi tidak adil,” paparnya.
Selain itu Mel Sofyan juga menyoroti lemahnya regulasi dalam penggunaan kendaraan pribadi di Indonesia. Ia mendorong pemerintah untuk tidak setengah hati dalam menata persoalan ini.
Salah satu langkah konkret yang ia usulkan adalah penerapan syarat kepemilikan garasi atau tempat parkir bagi pemilik mobil pribadi.
“Faktanya, jutaan mobil pribadi tidak memiliki tempat parkir yang layak. Jalan umum dijadikan garasi. Ini bukan hanya masalah ketertiban, tapi juga bentuk ketidakadilan dalam penggunaan ruang publik,” tegasnya.
Menurutnya, tanpa keberanian pemerintah untuk membuat aturan yang tegas dan berpihak, beban subsidi akan terus membengkak dan tidak efektif.
“Kalau pemerintah berani tegas, beban subsidi bisa ditekan. Anggaran itu bisa dialihkan untuk hal yang lebih mendesak: pendidikan, kesehatan dan penguatan ekonomi keluarga masyarakat kecil,” tutup Mel Sofyan. © RED/AGUS SANTOSA