PosBeritaKota.com
Opini Syiar

Jadi Bukan Sekadar Alat Komunikasi, KATA-KATA Bisa Menyelamatkan atau Membinasakan?

OLEH : TAUFAN HIDAYAT

DI ANTARA sekian banyak surat dalam Al Qur’an, terdapat satu surat yang secara khusus menyinggung kekuatan kata kata. Ia bukan sekadar kisah para nabi, tetapi pelajaran mendalam tentang bagaimana ucapan dapat menjadi jalan keselamatan atau justru kehancuran. Surat Asy Syuara mengajarkan bahwa lisan manusia bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga amanah yang menentukan nasib dunia dan akhirat.

Di dalam Al Qur’an terdapat sebuah surat yang secara khusus menyingkap kekuatan kata kata dalam kehidupan manusia, yaitu Surat Asy Syuara. Nama Asy Syuara berarti para penyair. Penamaan ini tidaklah kebetulan. Pada masa Arab sebelum Islam, para penyair memegang posisi yang sangat kuat dalam masyarakat. Kata kata mereka dapat mengangkat kehormatan suatu kabilah atau menjatuhkannya dalam kehinaan.

Dalam dunia yang dipenuhi oleh keindahan bahasa dan kepiawaian retorika itu, Al Qur’an turun membawa kebenaran yang melampaui seluruh keindahan puisi mereka. Ia bukan sekadar susunan kalimat indah, tetapi wahyu yang mengarahkan manusia kepada kebenaran.

Surat ini dibuka dengan ungkapan yang sangat menyentuh tentang keadaan Rasulullah ﷺ ketika menghadapi penolakan manusia terhadap dakwahnya. Allah menggambarkan betapa besar kepedulian Nabi kepada umat manusia hingga beliau hampir menghancurkan dirinya sendiri karena kesedihan.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Artinya:

“Boleh jadi engkau akan membinasakan dirimu sendiri karena mereka tidak beriman.” (QS Asy Syuara ayat 3).

Ayat ini memperlihatkan betapa besar kasih sayang Rasulullah kepada manusia. Beliau tidak sekadar menyampaikan pesan, tetapi memikul kegelisahan yang mendalam ketika manusia menolak kebenaran.

Namun Allah menghibur beliau dengan mengingatkan bahwa keimanan tidak boleh dipaksakan.

إِنْ نَشَأْ نُنَزِّلْ عَلَيْهِمْ مِنَ السَّمَاءِ آيَةً فَظَلَّتْ أَعْنَاقُهُمْ لَهَا خَاضِعِينَ

Artinya:

“Jika Kami kehendaki, niscaya Kami turunkan kepada mereka suatu mukjizat dari langit sehingga tengkuk mereka tunduk kepadanya.” (QS Asy Syuara ayat 4).

Ayat ini mengajarkan bahwa Allah SWT mampu memaksa manusia untuk tunduk. Namun iman yang dipaksakan bukanlah iman yang lahir dari kesadaran hati. Allah SWT menghendaki manusia beriman dengan kesadaran, bukan dengan keterpaksaan.

Setelah itu Surat Asy Syuara menghadirkan serangkaian kisah para nabi yang memiliki pola yang hampir sama. Kisah Nabi Musa, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shaleh, Nabi Luth, dan Nabi Syuaib. Setiap nabi datang membawa pesan yang sama, mengajak manusia untuk bertakwa kepada Allah SWT dan meninggalkan kesyirikan.
Seruan mereka hampir selalu dimulai dengan kalimat yang sama.
أَلَا تَتَّقُونَ

Artinya:

“Mengapa kamu tidak bertakwa?”

Namun jawaban kaum mereka pun hampir selalu sama. Mereka menolak dengan alasan yang berulang sepanjang sejarah. Mereka berkata bahwa para nabi hanyalah manusia biasa seperti mereka. Mereka meragukan kerasulan para nabi dan mengancam mereka dengan berbagai bentuk kekerasan.

Di sinilah Al Qur’an memperlihatkan sebuah pola sejarah yang sangat penting. Penolakan terhadap kebenaran bukanlah fenomena yang hanya terjadi pada satu bangsa atau satu zaman. Ia adalah fenomena yang terus berulang dalam perjalanan manusia. Ketika hati manusia telah tertutup oleh kesombongan dan kepentingan dunia, maka sejelas apa pun kebenaran disampaikan, ia tetap akan ditolak.

Kisah Nabi Ibrahim AS dalam surat ini meskipun singkat tetapi sangat mengguncang kesadaran manusia. Ibrahim bertanya kepada ayah dan kaumnya dengan pertanyaan yang sederhana tetapi sangat mendasar.
مَا تَعْبُدُونَ
أَئِفْكًا آلِهَةً دُونَ اللَّهِ تُرِيدُونَ

Artinya:

“Apa yang kamu sembah? Apakah kamu menghendaki sembahan selain Allah dengan jalan kebohongan?” (QS Asy Syuara ayat 70 sampai 71).

Pertanyaan ini sebenarnya sederhana. Namun tidak ada yang mampu menjawabnya dengan jujur. Sebab jika mereka menjawab dengan jujur, maka seluruh sistem keyakinan yang selama ini mereka bangun akan runtuh.

Di sinilah kita memahami bahwa banyak manusia menolak kebenaran bukan karena kebenaran itu tidak masuk akal, tetapi karena mereka takut kehilangan kepentingan yang selama ini mereka nikmati.

Surat ini juga menampilkan dialog dramatis antara Nabi Musa AS dan Fir’aun. Dalam percakapan itu Fir’aun tidak langsung menolak kebenaran yang dibawa Musa. Ia mencoba memutar arah pembicaraan dengan mengungkit masa lalu Musa.

قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِ

سِنِين
وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ وَأَنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Artinya:
“Bukankah kami telah mengasuhmu di antara kami sejak engkau masih kecil dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan engkau telah melakukan perbuatan yang telah engkau lakukan itu, dan engkau termasuk orang yang tidak tahu berterima kasih.”
(QS Asy Syuara ayat 18 sampai 19)
Fir’aun mencoba menggiring percakapan dari pesan tauhid menuju serangan pribadi kepada Musa. Inilah salah satu strategi yang sering digunakan oleh para penolak kebenaran sepanjang sejarah. Ketika tidak mampu membantah pesan yang dibawa, mereka menyerang pribadi pembawa pesan.

Pada akhir surat ini Allah memberikan pelajaran yang sangat penting tentang kekuatan kata kata. Allah menjelaskan bahwa tidak semua kata memiliki nilai yang sama. Ada kata kata yang menyesatkan manusia, tetapi ada pula kata kata yang menjadi cahaya bagi kehidupan.
وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ
أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ
وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya:
“Dan para penyair itu diikuti oleh orang orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah dan mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya. Kecuali orang orang yang beriman, beramal saleh dan banyak mengingat Allah.”
(QS Asy Syuara ayat 224 sampai 227)
Ayat ini bukan mencela keindahan bahasa atau seni berbicara. Yang dicela adalah kata kata yang tidak memiliki tanggung jawab moral. Kata kata yang indah tetapi menyesatkan manusia.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan umatnya tentang bahaya lisan melalui sebuah hadis yang sangat terkenal.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa setiap kata yang keluar dari lisan manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Lisan dapat menjadi jalan menuju keselamatan, tetapi juga dapat menjadi sebab kebinasaan.

Surat Asy Syuara pada akhirnya mengajarkan bahwa kata kata bukan sekadar suara yang melintas di udara. Ia adalah amanah yang memiliki dampak besar dalam kehidupan manusia. Kata kata dapat menyalakan harapan, membangun peradaban, dan menghidupkan hati yang mati. Namun kata kata juga dapat memecah belah, menipu, dan menghancurkan manusia.
Karena itu seorang mukmin harus berhati hati dengan lisannya. Setiap ucapan harus lahir dari iman, kejujuran, dan tanggung jawab kepada Allah. Sebab di hadapan Allah kelak, bukan hanya perbuatan yang akan diperhitungkan, tetapi juga setiap kata yang pernah keluar dari mulut manusia.

Related posts

Ahad 6 Nopember, MASJID JAMI AL – IKHLAS RW 025 VGH BEKASI Gelar ‘Haflah Maulidurrosul Muhammad SAW’ 1444 H/Tahun 2022

Redaksi Posberitakota

Memasuki Usia ke-63 Tahun, AKTRIS RENNY DJAJOESMAN Makin Istiqomah Bikin Pengajian Rutin Mingguan

Redaksi Posberitakota

Negara Ternyata Paling Rajin Menggurui Ulama, TAPI MALAH LUPA Jika Diminta Memikirkan Kesejahteraan Hidup Mereka

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang