OLEH : KH LUTFI HAKIM MA
SALAM rempug, Kenapa Al-Qur’an menyebutkan kisah Nabi Yusuf AS sebagai “Ahsanal Qashash” (أَحْسَنَ الْقَصَصِ) – yang secara bahasa berarti “kisah yang paling baik”?
Seandainya kita menyimpan beras selama 6 (enam) bulan saja, yang terjadi beras akan penuh dengan kutu. Lalu, bagaimana cara Nabi Yusuf AS menyimpan gandum sebagai cadangan pangan bagi penduduk Mesir di masa paceklik selama 7 (tujuh) tahun- bahkan nyaris tidak ada yang rusak atau busuk.
Dalam Surah Yusuf ayat 47, Nabi Yusuf AS menemukan solusi tersebut cukup dengan 3 (kata), tapi kaya makna, yaitu ”dzaruhu fisunbulih“, biarkan gandum dalam tangkainya! Bukan saran bodoh seperti yang dikatakan pejabat kita: “Matikan kompor bila masakan sudah matang.”
Dari sini kita disadarkan bahwa ternyata sekam gandum adalah natural packaging yang bagus untuk mencegah serangga masuk, menjaga kelembaban tetap stabil, mencegah oksidasi dan meminimalisir gesekan antar biji yang bikin cepat rusak.
Menariknya, gandum yang disimpan utuh dalam sekamnya bisa tahan 10 tahun lebih. Sementara yang sudah dipisah lebih cepat rusak. Ilmu pangan modern baru menemukan teknologi ini di abad ke-20.
Arkeolog menemukan situs penyimpanan Mesir kuno bukan lumbung biasa, tapi “Silo” (bentuk beehive atau silinder dari batu bata lumpur). Dinding yang tebal menjaga stabilitas suhu, lantai yang elevated mencegah udara lembab dari tanah, dan ventilasi yang pasif sebagai sirkulasi udara kering tanpa listrik.
Hasilnya kelembaban rendah, tidak ada kondensasi, dan serangga pun susah masuk. Teknologi ini menjadikan stok grain dapat bertahan bertahun – tahun – persis yang dibutuhkan sebagai persediaan selama 7 (tahun) paceklik.
Nabi Yusuf AS tidak sekadar tahun cara menyimpan, tapi merancang sistem logistik skala negara. Selama 7 (tujuh) tahun masa subur, setiap daerah wajib setor sebagian hasil panen ke lumbung pusat.
Bukan disimpan sendiri-sendiri. Kebijakan tersebut diambil untuk menghindari adanya penimbunan dan distribusi tetap merata serta stok tidak hilang atau rusak karena penyimpanan buruk di rumahtangga.
Waktu paceklik datang, Mesir punya cadangan pangan yang cukup untuk penduduk di seluruh wilayah, bukan hanya anak-anak sekolah, tapi menyertakan orang tuanya – bahkan ada negeri tetangga yang datang minta bantuan.
Dalam satu kisah Nabi Yusuf AS ini, berkumpul sekaligus ilmu pangan, arsitektur, manajemen krisis, hingga kebijakan ekonomi makro yang dunia modern pun masih dipelajari. Belum ada kisah sejarah lain yang sekompleks dan seakurat ini dalam satu rangkaian instruksi.
Al-Quran menyebutnya “Ahsanal Qashash” Kisah Terbaik. Sekarang kita tahu, itu bukan sekadar julukan puitis ,tapi pengakuan atas presisi manajemen yang melampaui zamannya.
Semoga pemimpin negeri ini dapat mengambil hikmahnya dan mendapatkan hidayah Allah SWT, sehingga masa paceklik akibat geopolitik internasional dapat teratasi dengan baik. Tabik! (***/goes)
(PENULIS : KH LUTFI HAKIM MA adalah Imam Besar Forum Betawi Rempuh/FBR, kini tinggal di Jakarta)

