Baca Panggilan Hati untuk Tunduk kepada Allah SWT, REZEKI – Iqra & Kerendahan Hati

OLEH : USTADZ TAUFAN HIDAYAT

IQRA bukan sekadar perintah membaca huruf, tetapi panggilan untuk membaca hidup dengan hati yang tunduk kepada Allah SWT. Setiap hari kita diuji: apakah kita semakin dekat pada Al-Qur’an atau semakin jauh karena merasa sudah cukup baik.

Rezeki bukan hanya uang, tetapi juga kesempatan menyentuh mushaf, membaca ayat-ayat-Nya, dan dibersihkan dari dosa. Sebab kesombongan rohani adalah jalan kesesatan yang halus namun mematikan.

Dalam kehidupan ini, ada kalimat yang sangat sederhana namun mengandung lautan makna: Iqra’ bacalah. Perintah pertama yang turun dari langit kepada Nabi Muhammad SAW ﷺ bukanlah perintah untuk mengumpulkan harta, bukan perintah untuk membangun kekuasaan, bukan pula perintah untuk menaklukkan manusia.

Yang pertama adalah perintah untuk membaca. Ini menunjukkan bahwa jalan keselamatan dimulai dari ilmu, dimulai dari kesadaran, dimulai dari hubungan manusia dengan wahyu.

Allah SWT ﷻ berfirman:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۝ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ۝ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۝ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)

Namun bacaan yang dimaksud bukan hanya bacaan lisan. Membaca Al-Qur’an harus menghadirkan rasa butuh kepada Allah SWT. Karena siapa pun yang membaca tetapi merasa dirinya sudah suci, maka ia sedang berjalan menuju kehancuran tanpa sadar.

Sebab, Al-Qur’an turun bukan untuk membanggakan orang yang merasa paling benar, melainkan untuk membimbing orang yang mengakui kelemahan dirinya. Allah SWT ﷻ mengingatkan bahwa manusia cenderung melampaui batas ketika merasa cukup:

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى ۝ أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى

Artinya: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6-7)

Di sinilah letak pelajaran besar: membaca setiap hari bukan untuk menjadikan kita merasa lebih tinggi, tetapi agar kita semakin tunduk, semakin takut, semakin sadar bahwa diri ini penuh noda. Iqra’ seharusnya melahirkan istighfar, bukan melahirkan kesombongan.

Sebab, orang yang benar-benar dekat dengan Allah SWT justru semakin merasa kecil, semakin merasa kurang, semakin sering menangis dalam sujudnya. Mereka bukan orang yang berkata, “Aku sudah baik,” melainkan berkata, “Ya Allah, aku masih perlu Engkau bersihkan.”

Sungguh, rezeki itu tidak selalu berupa uang. Banyak orang mengejar angka, mengejar saldo, mengejar kemewahan, namun lupa bahwa rezeki paling mahal adalah ketika Allah SWT masih mengizinkan tangan ini menyentuh mushaf dan mata ini menatap ayat-ayat-Nya.

Karena ada orang yang kaya tetapi jauh dari Al-Qur’an, ada orang yang sehat tetapi malas shalat, ada orang yang punya waktu tetapi tidak punya hidayah. Padahal hidayah itulah rezeki terbesar.

Allah SWT ﷻ menegaskan bahwa kemuliaan bukan terletak pada harta, melainkan pada takwa:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Maka ketika seseorang masih mampu membaca Al-Qur’an, masih mampu merasakan nikmatnya ayat, masih mampu meneteskan air mata karena takut kepada Allah SWT, itu bukan hal kecil. Itu rezeki yang tidak bisa dibeli. Bahkan jika seseorang memiliki uang berlimpah, ia tetap miskin bila hatinya kering dari cahaya wahyu.

Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Artinya: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketika kita menyentuh Al-Qur’an, sejatinya kita sedang disentuh oleh rahmat Allah SWT. Ketika kita membacanya, kita sedang membuka pintu langit untuk hati kita sendiri. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an bukan hanya ibadah, tetapi juga ladang pahala yang berlipat:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ: الم حرف، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya: “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi).

Tetapi pertanyaannya: apakah bacaan kita melahirkan akhlak? Apakah ayat-ayat yang kita lantunkan membuat kita semakin rendah hati? Sebab bahaya terbesar bukan orang yang tidak membaca Al-Qur’an, melainkan orang yang membaca tetapi merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Ketika seseorang berkata dalam hatinya, “Aku lebih suci dari dia,” saat itu ia sedang menanam benih kesesatan yang halus.

Allah SWT ﷻ telah memberi pelajaran besar tentang penyakit ini melalui kisah Iblis yang merasa lebih mulia daripada Adam.

Allah SWT berfirman:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Artinya: “(Allah SWT) berfirman: ‘Apa yang menghalangimu sehingga kamu tidak bersujud ketika Aku memerintahkanmu?’ Ia (Iblis) berkata: ‘Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”.(QS. Al-A’raf: 12).

Kalimat “aku lebih baik” itulah awal kehancuran. Kesombongan bukan hanya dalam bentuk harta dan jabatan, tetapi juga dalam bentuk ibadah. Ada orang yang rajin shalat namun memandang rendah orang lain. Ada orang yang sering puasa tetapi lisannya meremehkan. Ada orang yang hafal ayat namun hatinya penuh kebencian.

Padahal Nabi ﷺ telah mengingatkan:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim).

Maka jika engkau merasa lebih baik dari orang lain, sesungguhnya engkau sedang tersesat. Karena orang yang dekat dengan Allah SWT tidak sibuk membandingkan dirinya dengan manusia, melainkan sibuk membandingkan amalnya dengan nikmat Allah SWT yang tak terhitung. Ia tahu bahwa kalau Allah mencabut hidayah, maka ia akan lebih hina dari siapa pun. Ia tahu bahwa amal yang banyak bisa runtuh hanya karena ujub dan riya.

Allah SWT ﷻ berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Artinya: “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia (Allah SWT) lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32).

Membaca Al-Qur’an setiap hari adalah latihan kerendahan hati. Karena di dalamnya ada perintah, larangan, ancaman, dan janji. Al-Qur’an tidak pernah membiarkan manusia merasa aman dari dosa.

Justru Al-Qur’an membangunkan kita dari tidur panjang kelalaian. Ketika kita membaca ayat tentang neraka, seharusnya kita takut. Ketika membaca ayat tentang surga, seharusnya kita berharap. Ketika membaca ayat tentang munafik, seharusnya kita khawatir jangan-jangan sifat itu ada dalam diri kita.

Rasulullah SAW ﷺ sendiri yang dijamin ampunannya, masih terus beristighfar. Ini menunjukkan bahwa orang yang paling suci pun tidak pernah merasa suci.

Nabi ﷺ bersabda:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Artinya: “Demi Allah SWT, sungguh aku benar-benar memohon ampun kepada Allah SWT dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari).

Jika Nabi ﷺ saja beristighfar setiap hari, lalu siapa kita hingga merasa sudah bersih? Siapa kita hingga merasa lebih baik dari orang lain? Bisa jadi orang yang kita hina, justru lebih dicintai Allah SWT, karena hatinya hancur dalam taubat. Bisa jadi orang yang kita remehkan, lebih mulia karena ia menangis dalam sujudnya ketika kita sibuk membanggakan amal.

Maka jadikan Iqra’ sebagai kebiasaan harian. Bacalah Al-Qur’an meski hanya beberapa ayat, tetapi bacalah dengan rasa butuh. Sentuh mushaf dengan adab, seakan engkau sedang mengetuk pintu langit. Dan jangan pernah merasa suci, karena kesucian hakikatnya hanya milik Allah SWT. Jadilah hamba yang terus membersihkan diri, karena hidup ini adalah perjalanan panjang menuju perjumpaan dengan-Nya.

Allah SWT ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

Artinya: “Wahai manusia! Sesungguhnya engkau telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6).

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba yang istiqamah membaca Al-Qur’an setiap hari, bukan untuk terlihat suci, tetapi untuk terus dibersihkan. Semoga pula Allah SWT menjadikan Al-Qur’an sebagai rezeki yang paling mahal dalam hidup kita, dan menjauhkan kita dari penyakit merasa lebih baik dari orang lain. Karena keselamatan bukan milik orang yang paling banyak bicara tentang agama, tetapi milik orang yang paling tulus tunduk kepada Allah SWT. Aamiin. (***/goes)

(PENULIS: USTADZ TAUFAN HIDAYAT adalah Pemerhati Masalah Keagamaan dan Kehidupan Sosial Kemasyarakatan)

Related posts

Di Momen Idhul Adha, Erna Santoso Berbagi Daging Qurban serta Menghibur Anak-anak Nelayan Tanjung Burung Tangerang

Dari Ciganjur Menuju ke Cibubur, Program Jumat Berkah Wartawan Ajak Berbagi BudayantaraTV Digital Network

Makna Perintah Qurban Sebagai Bagian Dimensi Spiritualitas, Membunuh Sifat Kebinatangan dari Manusia Itu Sendiri