Bukan Sekadar Menjadi Rutinitas tapi Sumber Kehidupan Ruhani, HATI yang Tidak Malas Sholat

OLEH : USTADZ TAUFAN HIDAYAT

DALAM kehidupan yang serba cepat dan penuh distraksi, hati manusia sering kali mudah lalai dari kewajiban utamanya kepada Allah SWT. Shalat bukan sekadar rutinitas, melainkan sumber kehidupan ruhani yang menjaga iman tetap menyala.

Tulisan ini mengajak kita menyelami makna shalat sebagai dzikir dan syukur, serta memohon kepada Allah SWT agar dianugerahi hati yang istiqamah dalam mendirikannya.

Di sebuah sudut rumah yang sederhana, seorang ayah duduk bersimpuh bersama anaknya. Bukan sekadar gerakan tubuh yang terlihat, melainkan ada getar yang tak kasat mata: getar iman yang diwariskan, dari hati ke hati.

Shalat bukan hanya kewajiban, tetapi jembatan yang menghubungkan manusia dengan Rabb-nya. Ketika seorang hamba berkata: “Ya Allah berikanlah aku hati yang tidak malas shalat,” sesungguhnya ia sedang memohon kehidupan, bukan sekadar kekuatan.

Allah SWT ﷻ mengabadikan doa yang begitu dalam dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dalam firman-Nya:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Rabbi’j‘alnī muqīmaṣ-ṣalāti wa min żurriyyatī rabbanā wa taqabbal du‘ā’

Artinya : “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40).

Perhatikan bagaimana seorang nabi yang mulia pun tidak merasa aman dari rasa malas, dari kelalaian, dari kemungkinan futur dalam ibadah. Maka ia berdoa, memohon agar dirinya dan keturunannya dijaga dalam shalat. Ini mengajarkan bahwa istiqamah bukan sekadar usaha, tetapi karunia yang harus diminta dengan penuh kerendahan hati.

Shalat adalah dzikir dan syukur dalam satu rangkaian ibadah. Allah SWT ﷻ berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Artinya : “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14).

Ketika seseorang berdiri dalam shalat, lisannya membaca, tubuhnya tunduk, dan hatinya menghadap. Ia sedang mengingat Allah SWT dalam bentuk paling sempurna. Dan ketika ia menyempurnakan shalatnya, ia telah bersyukur, karena ia menggunakan nikmat waktu, tubuh, dan iman untuk taat kepada-Nya.

Namun sebaliknya, ketika shalat ditinggalkan, maka bukan sekadar satu kewajiban yang gugur, tetapi sebuah hubungan yang terputus.

Rasulullah SAW ﷺ bersabda:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

Artinya : “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim).

Hadis ini begitu tegas, mengguncang kesadaran kita bahwa shalat bukan perkara ringan. Ia adalah pembeda antara iman dan kufur, antara ingat dan lalai. Maka ketika hati mulai terasa berat untuk shalat, sesungguhnya itu adalah alarm ruhani bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam hubungan kita dengan Allah SWT.

Hati yang tidak malas shalat bukanlah hati yang tidak pernah lelah, tetapi hati yang selalu kembali. Ia mungkin pernah tertatih, tetapi tidak berhenti. Ia mungkin pernah lalai, tetapi segera bangkit. Karena ia tahu bahwa shalat adalah tempat pulang, tempat mengadu, tempat menangis tanpa dilihat manusia.

Rasulullah SAW ﷺ juga bersabda:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ

Artinya : “Amalan pertama yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat.” (HR. Tirmidzi).

Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak, maka rusak pula amal lainnya. Ini menunjukkan bahwa shalat adalah fondasi. Tanpa fondasi yang kuat, bangunan amal tidak akan kokoh.

Maka, jangan hanya meminta rezeki yang luas, tetapi mintalah hati yang ringan untuk sujud. Jangan hanya berharap hidup yang mudah, tetapi mintalah jiwa yang rindu pada shalat. Karena sesungguhnya, kemudahan hidup sering kali dimulai dari kemudahan dalam beribadah.

Didiklah keluarga dengan shalat, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan teladan. Ajak anak – anak bukan dengan paksaan semata, tetapi dengan kehangatan iman. Karena doa Nabi Ibrahim AS bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk keturunannya. Ini adalah isyarat bahwa shalat adalah warisan terbaik yang bisa diberikan orang tua kepada anaknya.

Akhirnya, marilah kita menengadahkan tangan, mengulang doa yang diajarkan Al-Qur’an dengan penuh harap:
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendirikan shalat. Jadikan hati kami rindu pada sajadah. Jauhkan kami dari malas dan lalai. Terimalah doa-doa kami, sebagaimana Engkau menerima doa Nabi Ibrahim AS.

Karena pada akhirnya, bukan banyaknya amal yang menyelamatkan kita, tetapi keikhlasan dan keteguhan dalam menjaganya. Dan, shalat adalah penjaga paling setia bagi iman seorang hamba. (***/goes)

(PENULIS: USTADZ TAUFAN HIDAYAT adalah Pemerhati Masalah Keagamaan dan Kehidupan Sosial Kemasyarakatan)

Related posts

Di Momen Idhul Adha, Erna Santoso Berbagi Daging Qurban serta Menghibur Anak-anak Nelayan Tanjung Burung Tangerang

Dari Ciganjur Menuju ke Cibubur, Program Jumat Berkah Wartawan Ajak Berbagi BudayantaraTV Digital Network

Makna Perintah Qurban Sebagai Bagian Dimensi Spiritualitas, Membunuh Sifat Kebinatangan dari Manusia Itu Sendiri