Saat Terima Sineas dari Humaniora Rumah Film, Bambang Soesatyo Siap Bersinergi & Jembatani Seniman Berkarya

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Sebuah karya film secara kreatif memiliki kekuatan besar sebagai media pelestarian budaya dan juga sekaligus dapat menjadi motor penggerak ekonomi.

“Medium ini tidak hanya pada mendokumentasikan tradisi. Tetapi, juga diharapkan bisa memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas,” tegas Anggota DPR RI yang dikenal sebagai Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo (Bamsoet).

Pernyataan tersebut di atas dilontarkan Bamsoet saat menerima kunjungan sejumlah sineas di kediamannya di Rumah Pergerakan, Jalan Patiunus Kebayoran Baru, Jakarta Selatan di awal pekan kemarin.

Sedangkan para sineas dari Humaniora Rumah Film yang turut hadir antara lain; Eddie Karsito, Gamal Putra, Ali Amran, Tri Setiowati serta didampingi Yogi Soepaat.

Ekonomi Indonesia Sedang Tidak Baik-baik Saja

Dalam mensikapi ekonomi global yang lesu, ketidakpastian dan tensi geopolitik tinggi, menurut Bamsoet, jelas perlunya menjaga resiliensi serta bagaimana menciptakan nilai tambah ditengah tantangan ekonomi makro.

“Sebab, seperti kita ketahui bahwa perekonomian nasional saat ini, yakni sedang dalam fase tekanan ditandai dengan berbagai indikator. Makanya, perlu langkah adaptif untuk menjaga resiliensi serta menciptakan nilai tambah ditengah berbagai tantangan yang muncul,” ulas Bamsoet.

Pada pertemuan para sineas dari Humaniora Rumah Film bersama Bamsoet tersebut, bertujuan dalam rangka supervisi, sinergi, serta sekaligus menjembatani seniman dalam berkarya. Harapan itu pun langsung mendapat respon positif.

Film Indonesia Miskin Gagasan Kultural

Melalui kesempatan yang sama, Eddie Karsito menegaskan bahwa pihaknya perlu mendapat dukungan terkait dengan rencananya ingin membuat film berbasis kultural. Sebab, dukungan terhadap rencana pembuatan film berbasis kultural, sangatlah penting untuk lebih menguatkan identitas bangsa.

Terlebih lagi sosok sineas dan budayawan yang juga masih aktif sebagai jurnalis (wartawan-red) ini, kerap menyoroti bahwa karya sinema nasional seringkali kehilangan identitas dan ‘miskin gagasan kultural‘ akibat gempuran budaya pop.

“Sangatlah dipahami jika sampai saat ini inferioritas masih mendominasi sebagian masyarakat Indonesia. Sehingga apapun nilai-nilai budaya berasal dari Barat kerap dianggap lebih indah, lebih menarik, dan lebih modern dibanding budaya Timur,” katanya.

Sebab, rekognisi tersebut berdampak pada karya film, khususnya terkait dengan ide cerita. Cerita film Indonesia dinilai miskin gagasan, terutama menyangkut cerita-cerita berbasis budaya Indonesia.

“Cerita dikonstruksi lewat pikiran imajiner terhadap sebuah realitas. Tanpa menghadirkan realitas itu sendiri secara esensial. Manipulasi kenyataan melalui simulasi yang mereduksi keseimbangan antara citra dan realitas,” paparnya.

Akibatnya, lanjut Eddie Karsito, semakin banyak budaya asing mempengaruhi budaya Indonesia sendiri. Mereka masuk melalui industri budaya pop, dengan berbagai jenis dan cara.

“Lewat fashion, dance, lagu-lagu, musik, dan artisnya. Semua terdominasi lewat cerita film yang dikemas dalam bentuk industri budaya pop. Akibatnya cerita film Indonesia miskin gagasan kulturalnya,” ucap dia.

Patut diketahui bahwa Eddie Karsito secara konsisten menyuarakan dan memproduksi tayangan bernuansa lokal dan kenusantaraan, seperti film berbasis kebudayaan yang rencananya segera mereka produksi. Mengenai tema, ide cerita, dan judul filmnya, pihaknya berjanji segera merilisnya.

Baginya dukungan dari seorang tokoh seperti Bamsoet, serta dari pemerintah dan masyarakat sangat menentukan agar ekosistem film bernilai budaya bisa hidup, dapat diproduksi lebih masif, dan mendapat porsi layar yang layak.

Buku Menjadi Bintang

Di kesempatan tersebut Eddie Karsito menyerahkan buku berjudul “Menjadi Bintang: Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film, dan Televisi” karyanya kepada Bambang Soesatyo.

Buku tersebut diakui sebagai salah satu literatur panduan yang komprehensif di industri hiburan Indonesia. Karya ini sering disebut sebagai rujukan penting karena memberikan wawasan mendalam mengenai praktik dan manajemen di dunia seni peran.

Beberapa hal yang menjadikan buku ini referensi yang sangat berharga bagi para pelaku seni dan sineas karena tidak hanya membahas dasar-dasar seni peran, buku ini juga mengulas peta industri perfilman, manajemen produksi, dan strategi casting.

Perspektif Lintas Profesi

Eddie Karsito menulis buku ini berdasarkan pengalaman langsungnya yang terjun di berbagai sisi industri, baik sebagai aktor, pekerja teater, penulis cerita film, maupun jurnalis.

Buku ini diperkuat oleh dukungan dari para praktisi perfilman, diantaranya; Rudi Soedjarwo, (Sutradara) Jenny Rachman dan Agus Ringgo (Aktor), hingga produser Manoj Punjabi (MD Eentertainment) dan Chand Parwez Servia (Starvision Plus).

Bahkan, mereka menilai buku itu sendiri bisa sebagai panduan penting bagi siapa saja yang ingin serius berkarir di industri hiburan, khusunya di perfilman dan pertelevisian. © RED/AGUS SANTOSA

Related posts

Dukung Kebijakan Gubernur Pramono, Plt Sekretaris DPW PPP DKI Muhammad Hatta Siap Bantu Gencarkan Sosialisasi Program Pilah Sampah

Gubernur Bali Wayan Koster Sebut Pariwisata Bali Sumbang 55% Devisa Nasional di 2025

Di Kabupaten Badung Bali, BBTF 2026 Rampung dan Transaksi Pariwisata Capai Rp 6,9 Triliun