Selain Ekonomi RI, Guru Besar ITPLN : Transisi Energi Jelas Tak Boleh Korbankan Industri

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Guru Besar Institut Teknologi PLN (ITPLN), Prof. Syamsir Abduh, menegaskan keberhasilan transisi energi di Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan percepatan penggunaan energi terbarukan. Menurutnya, transisi energi harus dibangun melalui pendekatan integratif yang mencakup kebijakan, teknologi, investasi, keandalan jaringan listrik, sumber daya manusia, penerimaan publik, hingga inovasi berkelanjutan.Dikatakan Syamsir bahwa negara berkembang seperti Indonesia menghadapi tantangan lebih kompleks dalam menjalankan agenda dekarbonisasi. Di satu sisi, pemerintah didorong menekan emisi karbon. Namun di sisi lain, kebutuhan pertumbuhan ekonomi nasional, daya saing industri, dan peningkatan elektrifikasi terus meningkat dari tahun ke tahun.“Sedangkan keberhasilan transisi energi harus menjaga keseimbangan antara target penurunan emisi dengan ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Syamsir dalam keterangannya, Kamis (28/5/2026) di Jakarta.Lebih jauh Syamsir menjelaskan kebijakan energi menjadi fondasi utama dalam menentukan arah transisi energi nasional. Pemerintah dinilai perlu menghadirkan regulasi yang jelas, konsisten, dan berjangka panjang agar mampu memberikan kepastian bagi investor serta pelaku industri energi baru terbarukan.Selain kebijakan, modernisasi jaringan listrik juga menjadi faktor krusial. Syamsir menilai penetrasi energi terbarukan dalam skala besar memerlukan sistem kelistrikan yang fleksibel dan andal.Sebab, sumber energi seperti surya dan angin memiliki karakter intermiten yang membutuhkan dukungan teknologi penyimpanan energi serta penguatan jaringan transmisi nasional.Ditegaskan Syamsir, investasi di sektor energi terbarukan dan penyimpanan energi perlu terus ditingkatkan agar transisi energi berjalan efektif tanpa mengganggu pasokan listrik nasional. Ia mengingatkan bahwa transisi energi tidak boleh menurunkan tingkat keandalan energi yang selama ini menopang aktivitas industri dan ekonomi masyarakat.Di bagian lain, Syamsir juga menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia dalam menghadapi perubahan ekosistem energi global. Tenaga kerja di sektor energi, kata dia, harus dipersiapkan melalui peningkatan kompetensi teknologi, digitalisasi sistem energi, dan penguasaan inovasi energi bersih agar mampu bersaing di era transisi energi.Menurutnya penerimaan publik dan inklusi sosial dinilai menjadi elemen penting yang kerap diabaikan. Syamsir menilai transisi energi perlu dilakukan secara gradual, adaptif, dan terukur guna meminimalkan risiko terhadap stabilitas ekonomi dan keberlangsungan industri nasional.“Riset dan inovasi harus menjadi penggerak utama agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi energi, tetapi juga menjadi pemain utama dalam pengembangan teknologi energi bersih,” tuturnya. © RED/AGUS SANTOSA

Related posts

Gubernur Bali Wayan Koster Sebut Pariwisata Bali Sumbang 55% Devisa Nasional di 2025

Ke Seluruh Indonesia, ‘Bonte Cari Pahala Sabang-Merauke’ Siap Hadirkan Pelatihan Kesehatan Tradisional Gratis

Resmi Berakhir ‘Sebar Qurban 2026’, Amanah Pequrban Menjangkau 204.184 Penerima Hak Program