TIMIKA (POSBERITAKOTA) – Selain berani melawan hoaks yang bisa memecah belah masyarakat dan perkuat perdamaian, Sekretaris Eksekutif Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI), Charles Kossay Ajak Pemuda Papua mengambil peran strategis dalam mengawal implementasi Otonomi Khusus (Otsus).
Ajakan tersebut di atas dilontarkan Charles saat tampil sebagai narasumber dalam Diskusi Publik Suara Anak Muda Papua.bertajuk “Merawat Damai, Menguatkan Demokrasi, Menjemput Masa Depan yang Setara” di Rest Area Coffee Shop, Timika, Kamis (26/6/2026) kemarin.
Dikatakannya bahwapemuda merupakan kelompok yang memiliki posisi penting dalam menentukan arah pembangunan Papua. Karena itu, generasi muda tidak boleh menjauh dari ruang publik, melainkan harus aktif menyampaikan aspirasi masyarakat sekaligus mengawal berbagai kebijakan agar benar-benar memberikan manfaat bagi Orang Asli Papua (OAP).
“Seharusnya, Pemuda Papua bisa jadi agen perubahan yang berani menyuarakan aspirasi masyarakat secara kritis, namun tetap bertanggungjawab. Sikap kritis harus diarahkan untuk memperbaiki keadaan dan menghadirkan solusi, bukan memperkeruh situasi,” tegas Charles.
Menurut pandangannya, implementasi Otonomi Khusus perlu terus dikawal agar tidak hanya menjadi kebijakan administratif, namun mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat Papua.
“Sedangkan salah satu aspek yang perlu diperkuat, yakni memperluas ruang partisipasi Orang Asli Papua dalam jabatan publik dan proses pengambilan keputusan di berbagai tingkatan pemerintahan,” paparnya, lagi.
Pada bagian lain, Charles juga menilai derasnya arus informasi di era digital menjadi tantangan baru bagi generasi muda Papua. Bahkan dirinta mengingatkan terhadap pentingnya membangun budaya literasi digital dengan membiasakan verifikasi informasi sebelum membagikannya kepada publik.
“Merebaknya hoaks, disinformasi, dan provokasi dapat merusak kepercayaan sosial serta mengganggu persatuan masyarakat. Karena itulah, pemuda harus menjadi garda terdepan dalam menjaga ruang informasi yang sehat, objektif sertsla mencerdaskan,” harapnya.
Tak lupa Charles juga menegaskan bahwa perdamaian di Papua tidak cukup dimaknai sebagai ketiadaan konflik, tetapi harus diwujudkan melalui komunikasi yang terbuka, penghormatan terhadap keberagaman serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan melalui dialog.
Tak heran jika pandangan tersebut mendapat dukungan dari Ketua Umum HMI Cabang Mimika, Prayoga Romin Saputra yang menilai generasi muda memiliki tanggungjawab besar sebagai penjaga persatuan sekaligus penggerak perubahan sosial di Papua.
Ditambahkan Prayoga bahwa anak muda harus memanfaatkan ruang demokrasi untuk menyampaikan kritik secara santun dan konstruktif, serta menjadikan media sosial sebagai sarana menyebarkan edukasi, optimisme, dan semangat persatuan, bukan menyebarkan hoaks maupun ujaran kebencian.
“Sebab, Anak Muda Papua bukan hanya pewaris masa depan, tetapi penentu arah perubahan hari ini. Oleh karenanya, mereka tidak boleh menjadi penonton, melainkan harus hadir membawa gagasan, solusi, dan tindakan nyata bagi kemajuan Papua,” sebutnya.
Dikatakan Prayoga keberagaman yang dimiliki Papua merupakan modal sosial yang harus terus dijaga. “Perdamaian yang berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila generasi muda mampu mengedepankan dialog, toleransi dan kolaborasi dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan,” tutupnya. ® RED/FATHONIE AG /EDITOR : GOES

